Media90 – Industri smartphone global kembali dihebohkan dengan kabar strategis dari ekosistem OPPO. Perusahaan tersebut dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah besar dengan menggabungkan Realme dan OnePlus ke dalam satu unit bisnis baru. Meski belum ada konfirmasi resmi, rumor ini langsung menarik perhatian karena berpotensi mengubah struktur persaingan di pasar smartphone dunia.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi restrukturisasi besar di bawah naungan BBK Group, yang selama ini menaungi berbagai merek besar seperti OPPO, Realme, OnePlus, dan Vivo. Dengan penyederhanaan struktur bisnis, perusahaan diperkirakan ingin meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat kolaborasi lintas brand.
Unit Bisnis Baru di Bawah “Sub-Series Business Unit”
Dalam rumor yang beredar, OPPO disebut akan membentuk entitas baru yang dikenal sebagai sub-series business unit. Unit ini akan menjadi payung koordinasi untuk Realme dan OnePlus, tanpa menghilangkan identitas masing-masing brand di pasar.
Menariknya, posisi kepemimpinan unit baru ini dikabarkan akan dipegang oleh Sky Li, CEO Realme saat ini. Penunjukan tersebut mengindikasikan bahwa Realme akan memiliki peran sentral dalam arah strategis struktur baru ini.
Sementara itu, sisi pemasaran disebut akan dipimpin oleh Xu Qi, yang sebelumnya berperan penting dalam strategi marketing global Realme. Dalam skema ini, Xu Qi akan menangani strategi pemasaran Realme dan OnePlus secara terintegrasi.
Selain itu, OPPO juga dikabarkan membentuk pusat pengembangan produk terpisah untuk pasar domestik dan global, menunjukkan fokus pada efisiensi sekaligus penyesuaian produk di berbagai wilayah.
Branding Tetap Terpisah, Tapi Semakin Terintegrasi
Salah satu pertanyaan utama dari rumor ini adalah nasib identitas masing-masing brand. Sejauh ini, indikasinya menunjukkan bahwa Realme dan OnePlus tetap akan beroperasi sebagai brand yang terpisah.
Realme dikenal sebagai brand dengan fokus value for money, menyasar pengguna muda dengan spesifikasi tinggi dan harga kompetitif. Sementara OnePlus berada di segmen lebih premium dengan fokus pada performa flagship dan pengalaman pengguna yang lebih eksklusif.
Perbedaan segmentasi ini menjadi alasan kuat mengapa kedua brand kemungkinan tetap dipertahankan secara independen di sisi pemasaran. Namun, di balik layar, integrasi sumber daya akan menjadi inti strategi baru ini.
Kolaborasi R&D hingga Rantai Pasok
Jika penggabungan ini benar terjadi, Realme dan OnePlus berpotensi berbagi berbagai sumber daya penting seperti:
- Riset dan pengembangan (R&D)
- Desain produk
- Rantai pasok dan produksi
- Teknologi inti perangkat
Integrasi ini dapat mempercepat proses inovasi sekaligus menekan biaya produksi. Dalam jangka panjang, konsumen mungkin akan melihat perangkat dari kedua brand yang memiliki kemiripan dalam desain, fitur, hingga teknologi dasar.
Langkah ini juga berpotensi memperkuat posisi OPPO Group dalam menghadapi kompetisi ketat dengan pemain besar lain seperti Samsung dan Xiaomi.
Evolusi Panjang dalam Ekosistem BBK Group
Jika ditelusuri, hubungan antara OPPO, Realme, dan OnePlus bukanlah hal baru. Realme awalnya merupakan sub-brand OPPO sebelum resmi menjadi entitas independen pada 2018. Sementara OnePlus mulai semakin terintegrasi dengan OPPO sejak 2021.
Dengan demikian, rumor penggabungan ini dapat dilihat sebagai kelanjutan dari proses konsolidasi jangka panjang dalam ekosistem BBK Group, bukan perubahan yang terjadi secara tiba-tiba.
Masih Sebatas Rumor, Tapi Dampaknya Besar
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari OPPO, Realme, maupun OnePlus terkait kabar tersebut. Namun jika benar terealisasi, langkah ini berpotensi menjadi salah satu restrukturisasi paling signifikan dalam industri smartphone dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan menggabungkan kekuatan tiga brand besar dalam satu struktur strategis, OPPO berpotensi menciptakan ekosistem yang lebih efisien, agresif, dan kompetitif di pasar global.
Untuk sementara, publik masih menunggu konfirmasi resmi. Namun satu hal yang pasti, jika rumor ini benar terjadi, konsumen kemungkinan besar akan menjadi pihak yang paling diuntungkan melalui hadirnya produk yang lebih inovatif, efisien, dan kompetitif di berbagai segmen harga.














