Media90 – Janji bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) akan menjadi “penyelamat” yang memangkas jam kerja tampaknya mulai retak. Alih-alih membuat karyawan lebih santai, laporan terbaru dari Harvard Business Review (HBR) mengungkap realita pahit: AI di kantor justru membuat pekerja semakin sibuk, stres, dan terjebak dalam pusaran kerja tanpa henti.
Penelitian dari Berkeley Haas School of Business selama delapan bulan terhadap 200 karyawan perusahaan teknologi di AS membongkar fenomena yang disebut “Paradoks Produktivitas”. Artinya, investasi besar-besaran pada teknologi canggih tidak menghasilkan pertumbuhan output yang sebanding dengan kelelahan manusia yang mengoperasikannya. Alih-alih memberi ruang bernapas, AI justru menciptakan ekspektasi baru yang tinggi dan seringkali tidak realistis bagi kapasitas manusia.
Tiga “Jebakan” AI yang Menguras Energi
1. Menjadi “Serakah” dengan Pekerjaan Baru
Karena bantuan AI, karyawan cenderung mengambil tugas di luar keahlian utama mereka: manajer produk mencoba coding, desainer mencoba analisis data. Akibatnya, beban kerja membengkak dan hasil kerja “amatir” sering harus diperbaiki ulang oleh ahli, menambah beban kolektif.
Lingkaran setan ini membuat spesialisasi kabur dan memicu kecemasan terkait performa kerja, karena standar kualitas menurun dan tekanan untuk menjadi “manusia serba bisa” meningkat.
2. Multitasking Ekstrem yang Melelahkan
Karyawan kini terbiasa melakukan banyak tugas sekaligus. Saat menunggu AI menyelesaikan satu laporan, mereka mengerjakan tugas lain secara manual. Perpindahan konteks yang terus-menerus (context switching) menguras energi kognitif.
Otak manusia tidak dirancang untuk berpindah dari satu tugas kompleks ke tugas lainnya dalam hitungan detik, sehingga kelelahan mental, penurunan daya ingat, dan berkurangnya ketajaman analisis menjadi konsekuensi yang nyata.
3. Hilangnya Batas Waktu Istirahat
AI berbasis chat membuat interaksi terasa santai, sehingga batas antara kerja dan waktu pribadi menjadi kabur. Karyawan sering tanpa sadar terus “mengobrol” dengan AI hingga larut malam, menghilangkan waktu untuk pemulihan energi.
Beban Baru: Menjadi “Pengawas” Mesin
Selain tiga jebakan di atas, AI menciptakan pekerjaan baru: validasi dan pengawasan. Meskipun AI bisa menghasilkan draf dokumen atau ribuan baris kode dalam detik, manusia tetap harus mengecek fakta, memperbaiki kesalahan, dan memastikan tidak ada halusinasi AI atau bias data yang lolos ke klien.
Tanggung jawab hukum dan moral tetap berada di pundak manusia, sehingga kewaspadaan tinggi yang harus dijaga selama berjam-jam menjadi sumber stres baru yang tidak pernah ada sebelumnya dalam deskripsi pekerjaan tradisional.
Menuju Budaya Kerja Sehat dengan AI
Riset Harvard memberi peringatan: jika pola kerja ini berlanjut tanpa regulasi atau perubahan budaya, AI justru akan mempercepat burnout.
Karyawan tidak seharusnya dipaksa bersaing dengan kecepatan mesin. Pakar manajemen menyarankan perusahaan fokus pada kualitas hasil akhir, bukan sekadar kecepatan. Efisiensi AI baru akan terasa nyata jika waktu yang dihemat digunakan untuk istirahat atau berpikir strategis, bukan diisi dengan tumpukan tugas baru tanpa henti.
AI bukan musuh, tetapi tanpa budaya kerja yang tepat, teknologi ini bisa menjadi beban tambahan bagi kesehatan mental dan produktivitas manusia.














