Media90 – Sebuah video yang menampilkan interaksi antara manusia dan mesin mendadak menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial global. Bukan karena pamer kemajuan teknologi yang kaku, video ini viral karena memperlihatkan insiden “manusiawi” yang dilakukan oleh robot humanoid.
Kejadian unik ini melibatkan robot humanoid model G1 besutan Unitree, perusahaan teknologi robotik terkemuka asal China. Dalam video tersebut, robot secara tidak sengaja menendang instrukturnya sendiri, dan yang mengejutkan, menunjukkan reaksi yang terlihat menyerupai rasa sakit manusia.
Kronologi Kejadian: Dari Latihan Bela Diri ke Viral
Insiden terjadi saat sesi pelatihan tingkat lanjut di laboratorium Unitree. Robot G1 sedang menjalani latihan motion-capture, proses di mana robot mempelajari dan meniru gerakan manusia secara real-time. Seorang instruktur mengenakan motion-capture suit dengan sensor presisi tinggi, yang seharusnya membuat robot meniru gerakan secara sempurna.
Awalnya, sesi latihan berjalan lancar. Robot G1 mampu menirukan gerakan kompleks seperti posisi kuda-kuda, pukulan teknis, hingga gerakan tangan dengan stabilitas mengesankan.
Namun, ketegangan muncul saat instruktur memperagakan tendangan berputar. Karena kesalahan pembacaan sensor atau sinkronisasi posisi yang terlalu dekat, robot G1 justru salah mengarahkan kakinya dan menendang area sensitif tubuh instruktur.
Hantaman membuat instruktur membungkuk kesakitan dan jatuh berlutut. Di sinilah momen paling mengejutkan terjadi: robot G1 menyesuaikan posturnya dan ikut membungkuk, seolah merasakan sakit yang baru saja ditimbulkan. Gestur robot yang meniru ekspresi manusia ini membuat banyak penonton tercengang.
Analisis Teknologi: Peniruan Gerak vs Uncanny Valley
Reaksi robot yang terlihat “meringis” memicu perdebatan apakah robot memiliki empati. Dari sudut pandang teknis, fenomena ini murni hasil sinkronisasi motion-capture yang responsif. Robot diprogram meniru setiap perubahan koordinat tubuh instruktur secara instan, sehingga ketika instruktur membungkuk karena sakit, robot G1 otomatis menyesuaikan posturnya.
Meski murni teknis, efek uncanny valley tercipta dengan sangat kuat. Kedekatan visual antara rasa sakit manusia dan respons fisik robot memberikan kesan seolah mesin memiliki kesadaran. Video yang awalnya diunggah di Bilibili ini cepat menyebar ke X (Twitter), Reddit, dan TikTok, dengan komentar warganet menyebutnya seperti film komedi satir atau bahkan awal dari “pemberontakan robot yang sopan”.
Risiko Interaksi Dekat dengan Robot Humanoid
Di balik sisi lucunya, insiden ini memberikan peringatan serius bagi industri robotika di 2026. Interaksi jarak dekat antara manusia dan robot bertenaga besar tetap memiliki risiko fisik nyata.
Meski robot G1 memiliki sensor penghindar tabrakan, mode motion-capture menempatkan sinkronisasi gerak di atas sistem pengaman. Kesalahan kecil dalam perhitungan jarak bisa berakibat cedera serius bagi manusia.
Para ahli menyarankan agar sesi pelatihan serupa menggunakan sekatan transparan, pembatas jarak virtual, atau geo-fencing, untuk meminimalkan risiko. Mengingat kekuatan fisik robot logam jauh melebihi ketahanan manusia, perlindungan ekstra tetap diperlukan.
Kesimpulan: Mesin yang Meniru Manusia
Viralnya aksi robot G1 menjadi pengingat bahwa di 2026, robot tidak lagi sekadar mesin pabrik, melainkan entitas yang mampu meniru kehidupan manusia. Reaksi “meringis” robot hanyalah algoritma, tetapi menunjukkan kemampuan sistem respons robotik meniru bahasa tubuh manusia secara halus.
Video ini tidak hanya menghibur jutaan warganet, tetapi juga memicu diskusi tentang etika, keamanan, dan interaksi manusia-robot. Robot G1 mungkin belum merasakan sakit, tapi secara visual ia berhasil meniru salah satu aspek paling manusiawi: ekspresi kegagalan dan penderitaan.














