Media90 – Kebiasaan Generasi Z (Gen Z) menggunakan akun kedua (second account) di platform media sosial seperti Instagram dan TikTok kini menghadapi ancaman baru terhadap privasi. Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa teknologi kecerdasan buatan (AI) kini mampu membongkar identitas asli di balik akun-akun samaran dengan mudah dan akurat.
Selama ini, akun alternatif tanpa nama asli dimanfaatkan sebagai ruang aman untuk mengekspresikan diri—mulai dari keluhan tugas kuliah, stres kerja, hingga konten humor—tanpa takut dihakimi keluarga atau teman. Namun, ilusi privasi tersebut berpotensi segera hilang.
Bagaimana AI Bisa Mengungkap Identitas?
Dua peneliti AI, Simon Lermen dan Daniel Paleka, menyoroti bahaya laten dari Large Language Models (LLM), teknologi yang menjadi fondasi berbagai sistem AI modern. LLM tidak bergantung pada nama pengguna, melainkan menganalisis kepingan konteks yang tersebar di berbagai unggahan.
Contohnya, seorang pemilik second account mengeluh tentang ujian di TikTok, menyebut nama kucing peliharaannya di video lain, dan secara tidak sengaja menampilkan kedai kopi favoritnya. AI kemudian menyapu internet untuk mencari detail serupa di platform lain, merangkai jejak digital, dan mencocokkan second account dengan akun utama secara presisi.
Ancaman Keamanan Siber
Kemampuan AI ini membuka risiko serius:
- Perundungan siber (cyberbullying) jika identitas akun kedua terbongkar.
- Doxing, yakni penyebaran data pribadi secara ilegal.
- Serangan spear-phishing: peretas bisa menyamar sebagai teman dekat dan menipu korban dengan informasi personal yang dikumpulkan AI.
Dr. Marc Juarez, pakar keamanan siber dari University of Edinburgh, menegaskan, “Ini sangat mengkhawatirkan. Studi ini membuktikan kita harus memikirkan kembali praktik privasi kita.”
AI Tidak Sempurna
Meski canggih, AI tetap bisa berhalusinasi atau salah mencocokkan akun. Profesor Peter Bentley dari University College London memperingatkan bahwa seseorang bisa keliru dituduh sebagai pemilik akun anonim yang problematik, hanya karena kebetulan menyukai hal yang sama atau sering membuat keluhan serupa di internet.
Langkah Pencegahan
Para ilmuwan mendesak platform media sosial:
- Batasi kecepatan unduh data.
- Blokir aktivitas pengumpulan data otomatis (scraping) oleh bot.
Namun, profesor Marti Hearst dari UC Berkeley menekankan, benteng paling ampuh tetap ada di tangan pengguna. AI hanya bisa melacak identitas jika pengguna membagikan informasi yang konsisten di kedua akun mereka.














