Media90 – Tumbuh di tengah derasnya arus teknologi digital memang membawa banyak kemudahan. Informasi bisa diakses dalam hitungan detik, komunikasi menjadi lebih cepat, dan berbagai aktivitas dapat dilakukan secara efisien. Namun di balik semua itu, Generasi Z (Gen Z) juga menghadapi tekanan mental yang tidak ringan.
Paparan konten tanpa henti, tuntutan untuk selalu produktif, hingga ekspektasi sosial yang tinggi membuat kondisi psikologis mereka semakin kompleks. Tidak jarang Gen Z dilabeli sebagai generasi yang mudah rapuh. Padahal, kenyataannya mereka harus beradaptasi dengan lingkungan yang serba cepat, penuh distraksi, dan minim jeda.
Dari fenomena ini, muncul berbagai istilah baru yang menggambarkan kondisi mental modern yang banyak dialami. Berikut delapan “penyakit” mental yang kerap melekat pada Gen Z.
1. Doomscrolling dan Overstimulation
Doomscrolling terjadi ketika seseorang terus-menerus mengonsumsi berita negatif, terutama melalui media sosial. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat memicu kecemasan, stres, bahkan rasa takut berlebih. Ditambah dengan notifikasi yang terus berdatangan, otak dipaksa selalu siaga. Kondisi overstimulation ini membuat sistem saraf kelelahan dan sulit benar-benar beristirahat.
2. Digital ADHD (Acquired Attention Deficit)
Banyak Gen Z merasa sulit fokus dalam jangka waktu lama. Kondisi ini sering disebut Digital ADHD. Berbeda dengan ADHD klinis, gangguan ini dipicu oleh kebiasaan menggunakan teknologi digital secara intens. Aplikasi yang dirancang untuk menarik perhatian membuat otak terbiasa berpindah fokus tanpa menyelesaikan satu hal secara utuh.
3. Burnout dan Brain Fry
Burnout kini tidak hanya dialami pekerja kantoran, tetapi juga generasi muda. Tekanan untuk selalu aktif dan produktif membuat energi mental terkuras. Dalam kondisi yang lebih parah, muncul istilah brain fry, yaitu keadaan ketika otak terasa “mati rasa” akibat kelelahan. Akibatnya, fokus hilang, motivasi menurun, dan tugas sederhana terasa berat.
4. Brain Rot dan Kecanduan Dopamin
Brain rot menggambarkan penurunan kemampuan berpikir akibat konsumsi konten digital yang dangkal dan berulang. Video pendek dan hiburan instan memicu pelepasan dopamin secara terus-menerus. Otak pun menjadi terbiasa dengan kepuasan instan, sehingga aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi terasa semakin sulit.
5. Decision Fatigue dan Imposter Syndrome
Di era dengan pilihan tak terbatas, membuat keputusan justru menjadi melelahkan. Dari hal sederhana hingga keputusan besar, semuanya menguras energi mental. Kondisi ini dikenal sebagai decision fatigue. Sementara itu, paparan pencapaian orang lain di media sosial sering memicu imposter syndrome—perasaan tidak percaya diri dan merasa tidak layak atas keberhasilan diri sendiri.
6. Revenge Bedtime Procrastination
Istilah ini merujuk pada kebiasaan menunda tidur demi menikmati waktu pribadi setelah seharian sibuk. Malam hari sering dihabiskan untuk scrolling, menonton, atau bermain game. Akibatnya, kualitas tidur menurun dan kelelahan semakin menumpuk di hari berikutnya.
7. Loneliness dan Social Anxiety
Meski selalu terhubung secara digital, banyak Gen Z justru merasa kesepian. Interaksi virtual tidak sepenuhnya menggantikan kedekatan emosional di dunia nyata. Hal ini dapat memicu kecemasan sosial, di mana individu merasa canggung atau takut saat harus berinteraksi langsung dengan orang lain.
8. Popcorn Brain
Popcorn brain menggambarkan kondisi pikiran yang terus “melompat” dari satu hal ke hal lain. Otak terbiasa dengan stimulasi cepat dan instan, sehingga sulit untuk diam dan fokus dalam jangka panjang. Multitasking berlebihan dan konsumsi konten singkat menjadi pemicu utama.
Meski terdengar mengkhawatirkan, kondisi-kondisi ini bukan tanpa solusi. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mental di era digital:
- Membatasi penggunaan gadget, terutama sebelum tidur
- Melatih fokus dengan teknik seperti Pomodoro
- Melakukan mindfulness atau meditasi pernapasan
- Mengurangi konsumsi konten digital yang tidak bermanfaat
- Menjaga keseimbangan antara dunia digital dan interaksi nyata
Fokus, seperti otot, perlu dilatih agar tetap kuat. Dengan kesadaran dan kebiasaan yang lebih sehat, Gen Z tetap dapat beradaptasi di era digital tanpa harus mengorbankan kesehatan mental.
Pada akhirnya, memahami berbagai kondisi ini bukan untuk memberi label negatif, melainkan sebagai langkah awal untuk menciptakan keseimbangan hidup yang lebih baik di tengah dunia yang serba cepat.














