Media90 – Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh sebuah video viral yang menampilkan perdebatan sengit antara seorang istri dan suaminya terkait isu poligami. Video tersebut dengan cepat menyedot perhatian publik karena sang istri tampil berani, kritis, dan lugas saat menolak rencana poligami yang diajukan suaminya dengan dalih agama.
Dalam tayangan yang beredar luas di berbagai platform media sosial itu, sang istri secara tegas menolak wacana poligami yang dikaitkan dengan sunah Nabi. Sikapnya dinilai merepresentasikan kegelisahan banyak perempuan terhadap praktik poligami yang kerap dibungkus dengan narasi religius tanpa disertai tanggung jawab yang sepadan.
Respons publik pun mengarah pada dukungan kuat terhadap sang istri. Kolom komentar dipenuhi pujian atas keberanian dan kecerdasannya dalam mempertahankan hak serta martabatnya sebagai seorang istri.
“Salut sama ibunya, berani dan cerdas,” tulis seorang netizen.
“Ini baru perempuan kuat, nggak mau dibodohi pakai dalil,” komentar netizen lainnya.
Video tersebut diketahui telah ditonton ratusan ribu kali dan terus dibagikan lintas platform, memicu diskusi panjang mengenai poligami, agama, dan keadilan dalam rumah tangga.
Dalih Sunah Nabi Dipatahkan dengan Tegas
Dalam perdebatan itu, sang suami menyebut keinginannya berpoligami sebagai bagian dari sunah Nabi. Namun, pernyataan tersebut langsung dibantah keras oleh sang istri.
“Lu poligami karena sunah rasul? Ini mah nafsu,” ucapnya dengan nada tinggi.
Ia menilai penggunaan dalih agama tanpa dibarengi kesiapan dan tanggung jawab justru mencederai makna sunah itu sendiri. Perdebatan semakin memanas ketika sang istri mempertanyakan kemampuan suaminya dalam menjalankan peran sebagai kepala keluarga.
Menurutnya, keadilan dan pemenuhan nafkah terhadap satu istri saja belum tentu terpenuhi, apalagi jika harus dibagi kepada lebih dari satu istri. Ia menegaskan bahwa poligami seharusnya tidak dijadikan jalan keluar ketika persoalan utama dalam rumah tangga belum diselesaikan.
Tak hanya itu, sang istri juga mengkritisi pemahaman poligami dalam konteks sejarah Islam. Ia menyebut bahwa poligami pada masa Nabi memiliki dimensi sosial, seperti melindungi janda dan perempuan yang membutuhkan perlindungan, bukan sekadar pemenuhan keinginan pribadi.
“Yang namanya sunah nabi itu bukan buat gaya-gayaan. Kalau nggak bisa adil, jangan bawa-bawa agama,” ujarnya dengan nada emosional.
Pernyataan paling mengejutkan muncul di akhir perdebatan. Sang istri secara terbuka menyatakan bahwa dirinya lebih memilih berpisah daripada menerima poligami yang dianggapnya tidak adil. Ia juga menegaskan kemandiriannya secara ekonomi dan tidak sepenuhnya bergantung pada sang suami.
Sikap tegas tersebut dinilai banyak pihak sebagai simbol keberanian perempuan dalam menentukan pilihan hidup, mempertahankan prinsip, serta menegaskan bahwa pernikahan seharusnya dibangun atas dasar keadilan, tanggung jawab, dan kesepakatan bersama.














