Media90 – Sistem Rujukan Terintegrasi (Sisrute) sejatinya dirancang sebagai solusi digital untuk mempercepat rujukan pasien antar rumah sakit. Dengan sistem ini, fasilitas kesehatan diharapkan dapat berkomunikasi secara efisien agar pasien mendapatkan penanganan yang sesuai, terutama dalam kondisi kegawatdaruratan.
Dalam konsepnya, Sisrute merupakan instrumen penting dalam sistem pelayanan kesehatan modern. Ia berfungsi sebagai penghubung antar fasilitas kesehatan yang memiliki keterbatasan layanan dengan rumah sakit rujukan yang lebih lengkap, sehingga keputusan medis dapat diambil secara cepat dan tepat.
Tantangan di Lapangan
Namun, realitas di lapangan menunjukkan sistem ini belum sepenuhnya berjalan sebagaimana yang diharapkan. Di sejumlah rumah sakit swasta dan umum di Kota Bandar Lampung, Sisrute justru kerap menjadi hambatan dalam proses rujukan pasien.
Pasien dengan kondisi kritis sering kali harus menunggu terlalu lama akibat proses rujukan yang tidak responsif. Situasi ini mengkhawatirkan karena dalam dunia medis, terutama kasus kegawatdaruratan, waktu adalah faktor yang menentukan. Keterlambatan, meski hanya hitungan menit, dapat memburuk kondisi pasien.
Salah satu kelemahan utama adalah belum optimalnya penanda prioritas kegawatdaruratan. Sistem ini belum mampu membedakan pasien dengan kondisi kritis—seperti serangan jantung, pecah pembuluh darah, atau gangguan organ vital lainnya—yang seharusnya mendapat respons cepat dan prioritas utama.
Selain itu, pola komunikasi Sisrute masih cenderung satu arah. Pengajuan rujukan sering berhenti pada tahap pengiriman data, tanpa kepastian waktu respons atau konfirmasi segera dari rumah sakit tujuan. Akibatnya, tenaga medis di fasilitas awal terpaksa menunggu, sementara kondisi pasien terus berpacu dengan waktu.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa sistem yang dirancang untuk menyelamatkan nyawa justru berpotensi memperlambat tindakan medis. Jika tidak segera dievaluasi, Sisrute bisa menjadi sekadar instrumen administratif, bukan alat bantu klinis yang efektif.
Harapan dan Evaluasi
Sebagai masyarakat, penulis berharap pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Lampung, dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap implementasi Sisrute. Evaluasi perlu mencakup:
- Penguatan klasifikasi kegawatdaruratan untuk memastikan pasien kritis mendapat prioritas
- Integrasi komunikasi dua arah yang responsif
- Pemberian ruang diskresi bagi tenaga medis untuk mengambil keputusan cepat di luar sistem ketika nyawa pasien berada dalam ancaman
Selain itu, penguatan regulasi dan pengawasan juga penting agar rumah sakit tidak menjadikan Sisrute sebagai alasan administratif untuk menunda penanganan pasien kritis. Sisrute seharusnya menjadi alat bantu penyelamat nyawa, bukan penghambat layanan kesehatan.














