Media90 – Simbol kehancuran global yang paling ditakuti dunia, Doomsday Clock atau Jam Kiamat, kini berdetak lebih cepat. Dalam pengumuman terbaru, Bulletin of the Atomic Scientists (BAS) resmi memajukan jarum jam ke posisi 85 detik menuju tengah malam. Angka ini menandai titik terdekat manusia dengan kehancuran total sepanjang sejarah peradaban, lebih dekat 4 detik dibanding posisi tahun sebelumnya.
Keputusan para ilmuwan atom yang didukung oleh delapan peraih Nobel ini bukan tanpa alasan. Dunia saat ini berada di ambang krisis eksistensial akibat kombinasi ketegangan nuklir, kegagalan penanganan iklim, serta ancaman baru dari disinformasi teknologi.
Tiga Pilar Kehancuran: Nuklir, Iklim, dan Disinformasi
Pergeseran jarum jam menjadi sinyal merah bagi para pemimpin dunia. Dewan Sains dan Keamanan BAS menyoroti beberapa faktor utama yang mendorong manusia semakin dekat ke jurang kiamat:
1. Eskalasi Nuklir dan Runtuhnya Perjanjian
Faktor dominan adalah meningkatnya agresivitas negara-negara adidaya. Ketegangan global memuncak seiring berakhirnya perjanjian pengurangan senjata strategis New START antara Washington dan Moskow yang hampir kadaluwarsa tanpa tanda perpanjangan.
Selain itu, proyek pertahanan rudal “Golden Dome” di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump yang kini menjabat kembali, memicu konfrontasi lebih lanjut. Rusia dan China merespons dengan sikap nasionalistis, menciptakan atmosfer Perang Dingin baru yang jauh lebih berbahaya.
2. Krisis Iklim yang Tak Terkendali
Tahun 2025 tercatat penuh anomali cuaca ekstrem: gelombang panas mematikan, banjir bandang, hingga kekeringan panjang. Para ilmuwan menilai negara-negara dunia gagal mengadopsi perjanjian iklim yang efektif, menjadikan bumi semakin sulit dihuni.
3. “Armageddon Informasi”
Ancaman dari ranah digital tak kalah mengerikan. Jurnalis peraih Nobel Perdamaian Maria Ressa menyebut fenomena ini sebagai “Armageddon Informasi”. Penyalahgunaan teknologi, termasuk AI, mempercepat penyebaran kebohongan lebih cepat daripada fakta, memecah belah masyarakat, mengikis kepercayaan publik, dan melumpuhkan kemampuan dunia untuk bekerja sama mengatasi krisis nyata.
Dunia yang Terbelah
Daniel Holz, ketua dewan sains dan keamanan BAS, memperingatkan polarisasi global. “Jika dunia terbelah menjadi pendekatan ‘kami versus mereka’ yang bersifat zero-sum, kemungkinan besar kita semua akan kalah,” ujarnya.
Runtuhnya norma global dan kerja sama internasional mempercepat persaingan kekuatan besar dengan mentalitas “winner-takes-all”, melemahkan upaya kolektif untuk mencegah perang nuklir maupun bencana biologis akibat penyalahgunaan bioteknologi.
Sejarah Jam Kiamat
Jam Kiamat diperkenalkan tahun 1947 oleh para ilmuwan Proyek Manhattan—termasuk Albert Einstein dan J. Robert Oppenheimer. Saat itu, jarum disetel 7 menit menuju tengah malam.
- Momen paling “aman” terjadi tahun 1991, saat Perang Dingin berakhir: jarum mundur 17 menit dari tengah malam.
- Dalam beberapa tahun terakhir, ancaman global yang kompleks memaksa ilmuwan menghitung jarum dalam detik, bukan menit.
Posisi 85 detik di tahun 2026 merupakan rekor terburuk, melampaui rekor sebelumnya 90 detik. BAS menegaskan, jam ini bukan ramalan nasib, melainkan peringatan. Jarum bisa diputar mundur jika para pemimpin dunia dan masyarakat global bersatu untuk meredakan ketegangan dan berkomitmen pada solusi nyata.














