BERITA

Bu Suri dan Riuh yang Hampir Memecah Ababa

7
×

Bu Suri dan Riuh yang Hampir Memecah Ababa

Sebarkan artikel ini
Bu Suri dan Keributan yang Nyaris Memecah Ababa
Bu Suri dan Keributan yang Nyaris Memecah Ababa

Media90 – Pada suatu masa, di negeri yang jauh bernama Daqian, berdirilah sebuah desa tua yang dikenal sebagai Desa Ababa. Desa ini hidup dalam irama yang nyaris tak berubah dari tahun ke tahun. Musim datang dan pergi, namun satu hal selalu tetap: setiap kali musim suci tiba, seluruh warga menjalani ritual agung—berpuasa dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sebagai wujud syukur dan penghambaan.

Saat malam turun dan bintang-bintang bertaburan di langit, Desa Ababa tak pernah benar-benar sunyi. Di setiap sudut desa, warga berkumpul membaca kitab suci. Sebagian melantunkannya dengan suara lantang, bahkan hingga berteriak, karena mereka meyakini bahwa semakin keras suara diperdengarkan, semakin besar pula cinta yang sampai kepada Tuhan.

Namun Ababa bukanlah desa muda. Ia telah menua, seperti pohon besar yang akarnya menyimpan sejarah panjang. Banyak warganya adalah para lansia yang membutuhkan ketenangan malam untuk beristirahat. Bagi mereka, suara doa yang menggema hingga larut malam bukanlah ketenteraman, melainkan gangguan yang mengikis waktu tidur mereka. Keluhan pun mulai terdengar—pelan, lelah, tanpa amarah.

Melihat keadaan itu, kepala desa bersama para sesepuh berkumpul dalam musyawarah panjang. Mereka memahami bahwa ibadah seharusnya menjadi jalan menuju kedamaian, bukan sumber perpecahan. Setelah melalui perbincangan yang bijak, mereka pun mencapai sebuah kesepakatan: pada waktu-waktu tertentu, pembacaan kitab suci boleh dilantangkan dengan suara keras, namun di luar itu dianjurkan dibaca dengan lembut—cukup terdengar oleh diri sendiri. Bukankah Tuhan Maha Mendengar, bahkan bisikan hati sekalipun?

Baca Juga:  Perjalanan Sukses Kelvin, Mahasiswa UIN Lampung yang Sukses Kelola Waktu Kuliah dan Berbisnis Thrifting Pakaian Bekas

Kesepakatan itu membawa ketenangan baru. Malam kembali menemukan keseimbangannya. Para lansia dapat beristirahat dengan damai, sementara para pemuda tetap memiliki ruang untuk menyalakan semangat ibadah. Desa Ababa kembali hening, tenteram, dan saling menjaga.

Namun, ketenangan itu tak dirasakan oleh semua orang.

Di balik rumah kepala desa, tinggal seorang perempuan bernama Bu Suri—istrinya. Jiwanya masih muda dan bergelora. Ia berasal dari desa terpencil, tumbuh dengan semangat yang keras, namun belum sepenuhnya ditempa oleh kebijaksanaan. Baginya, kesepakatan itu bukan jalan tengah, melainkan pembatas. Ia merasa malam-malam ritual telah kehilangan semaraknya, dan para pemuda seakan kehilangan panggung untuk meluapkan semangat mereka.

Setiap kali bertemu warga, Bu Suri mulai menyampaikan pendapatnya. Kata-katanya terdengar membela, namun diam-diam menyimpan bara. Ia mengatakan bahwa para lansia telah hidup terlalu lama dan terlalu mendominasi desa. Ia menuduh mereka egois, hanya memikirkan kenyamanan sendiri tanpa memedulikan semangat generasi muda.

Baca Juga:  Krui Pro WSL Usai: Peselancar Australia dan Jepang Rebut Gelar Juara, Indonesia Kuasai Kategori Junior

“Karena mereka,” bisiknya, “desa ini menjadi sunyi dan kehilangan gairah.”

Perkataan itu menyebar lebih cepat daripada doa yang dilantunkan perlahan. Dari sudut pasar hingga pelataran rumah ibadah, bisik-bisik berubah menjadi keyakinan. Warga yang semula rukun mulai saling memandang dengan curiga. Malam yang dulu tenang kembali dipenuhi suara perdebatan. Padahal, kepala desa tetap sosok yang adil dan bijaksana. Kegaduhan itu lahir bukan dari keputusannya, melainkan dari bayang-bayang di belakangnya.

Akhirnya, pada suatu malam ketika bulan menggantung bulat di langit, kepala desa mengumpulkan seluruh warga di balai desa. Dengan suara tenang namun tegas, ia mengingatkan kembali alasan di balik kesepakatan itu—tentang keseimbangan, tentang saling menghormati, dan tentang ibadah yang seharusnya meneduhkan, bukan melukai.

“Tuhan tidak menghitung seberapa keras suara kita,” ucapnya pelan, “melainkan seberapa tulus hati kita.”

Kata-kata itu meredakan ketegangan. Warga mulai menyadari bahwa ritual tidak pernah dilarang—hanya diatur agar semua dapat hidup berdampingan. Perlahan, hati yang panas mulai mendingin.

Baca Juga:  Penyimpanan APK Anak Mantan Wali Kota Bandar Lampung di Kantor Kelurahan: Tanggapan Terkini dari Bawaslu

Kemudian, kepala desa menatap istrinya. Tak ada hardikan, tak ada kemarahan. Hanya nasihat yang dalam. Ia mengingatkan bahwa menjadi istri seorang pemimpin bukan sekadar mendampingi, melainkan ikut memikul tanggung jawab. Setiap kata yang diucapkan bukan lagi milik pribadi, melainkan gema yang bisa mengguncang seluruh desa.

Bu Suri terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia melihat akibat dari kata-katanya sendiri. Api yang ia kira mampu membangkitkan semangat, ternyata hampir membakar persaudaraan. Ia pun menunduk, menyadari bahwa kebebasan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kekacauan.

Sejak malam itu, Bu Suri berubah. Ia belajar menahan kata, menimbang rasa, dan merangkul tanpa memecah. Ia mendekati para lansia dengan hormat, dan para pemuda dengan ajakan damai. Perlahan, Desa Ababa kembali menemukan nadanya.

Doa tetap terdengar. Semangat tetap hidup. Namun kini, semuanya berjalan selaras—tanpa saling melukai.

Dan begitulah, Desa Ababa kembali tenang. Ritual tahunan tetap berlangsung, para pemuda tetap bersemangat, para lansia tetap beristirahat dengan damai.

Tak ada lagi kegaduhan.

Hanya kehidupan yang berjalan dalam keseimbangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *