Media90.id – Upaya menekan interaksi negatif antara manusia dan satwa liar di sekitar Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, terus dilakukan melalui pendekatan berbasis alam.
Salah satu langkah yang mulai dikembangkan adalah pembangunan pagar sarang lebah di batas kawasan konservasi. Program yang digagas Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatera TNWK ini tidak hanya ditujukan untuk mencegah gajah keluar dari kawasan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat melalui budidaya lebah madu.
Jenis lebah yang dikembangkan adalah Apis cerana, salah satu lebah madu asli Indonesia yang dinilai cocok dengan kondisi iklim tropis.
Pagar Sarang Lebah untuk Cegah Konflik dengan Gajah
Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatera TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, mengatakan pembangunan pagar di batas kawasan menjadi salah satu langkah taktis untuk menangani konflik manusia dan gajah yang telah berlangsung sejak dekade 1980-an.
Menurutnya, persoalan tersebut cukup kompleks karena berkaitan dengan krisis keanekaragaman hayati serta dinamika kepentingan pembangunan. Karena itu, penanganannya membutuhkan solusi yang terpadu.
“Untuk mengatasi hal ini, diperlukan solusi terpadu, seperti menciptakan kawasan satwa liar, memanfaatkan teknologi, dan mendorong upaya konservasi berbasis komunitas,” kata Sriyanto.
Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah pagar sarang lebah yang mengadopsi praktik dari Afrika. Metode tersebut memanfaatkan insting alami gajah agar menjauh dari kawasan permukiman maupun lahan warga tanpa harus melukai satwa.
“Pagar sarang lebah adalah salah satu solusi berbasis alam yang telah diujicoba di Afrika, untuk mencegah gajah keluar dari kawasan konservasi. Suara dengungan dan sengatan lebah, akan membuat gajah merasa takut dan menjauh namun tidak membahayakan gajah,” ujar Sriyanto.
Dengan metode ini, sarang lebah ditempatkan di sepanjang area tertentu yang menjadi batas kawasan. Ketika gajah mendekat, aktivitas lebah diharapkan membuat satwa tersebut menjauh secara alami.
Budidaya Apis cerana Jadi Peluang Ekonomi
Selain manfaat konservasi, program pagar sarang lebah juga dirancang untuk memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat yang tinggal di zona penyangga TNWK.
Budidaya Apis cerana dinilai memiliki potensi karena jenis lebah tersebut merupakan lebah madu asli Indonesia dan cocok dibudidayakan di wilayah beriklim tropis.
Potensi tersebut semakin menarik karena kebutuhan madu di Indonesia terus mengalami peningkatan. Sriyanto menyebut kebutuhan madu nasional tumbuh sekitar 10–15 persen per tahun.
“Kebutuhan madu di Indonesia terus naik 10-15% pertahun. Data Kemenkes 2024, konsumsi madu kita baru 220 gram perkapita pertahun, padahal impor madu masih kurang dari 60% dari total kebutuhan,” sebut Sriyanto.
Dari sisi produktivitas, satu koloni Apis cerana disebut mampu menghasilkan sekitar 5–8 kilogram madu per tahun. Dengan asumsi harga jual mencapai Rp150 ribu per kilogram, pemeliharaan 10 koloni lebah berpotensi memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga.
Potensi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut melalui UMKM lokal, mulai dari produksi madu hingga pengolahan dan pemasaran produk turunannya.
Lebah Bantu Ekosistem dan Pertanian Warga
Manfaat program ini tidak berhenti pada pencegahan konflik manusia dan gajah maupun peningkatan pendapatan masyarakat. Keberadaan lebah juga memiliki peran penting terhadap ekosistem dan sektor pertanian.
Berdasarkan data FAO 2023, sekitar 75 persen tanaman pangan sangat bergantung pada proses penyerbukan yang dilakukan oleh lebah.
Dengan demikian, keberadaan koloni Apis cerana di sekitar lahan masyarakat dapat membantu proses penyerbukan tanaman perkebunan maupun tanaman pangan.
Program pagar sarang lebah di kawasan penyangga TNWK pada akhirnya menggabungkan tiga manfaat sekaligus, yakni membantu mengurangi interaksi negatif antara manusia dan gajah, membuka peluang pendapatan baru bagi masyarakat, serta menjaga fungsi ekologis melalui peran lebah sebagai penyerbuk.
Pendekatan seperti ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih harmonis antara masyarakat, satwa liar, dan kawasan konservasi di sekitar Taman Nasional Way Kambas.














