Media90 – Memasuki awal tahun 2026, industri pembiayaan otomotif masih menghadapi dinamika pasar yang menantang. Setelah lonjakan transaksi di penghujung tahun, konsumen kini lebih berhati-hati dalam memilih produk pembiayaan otomotif. Penyesuaian harga kendaraan, ketidakpastian ekonomi, serta kehati-hatian dalam pengelolaan pengeluaran pasca-pergantian tahun turut memengaruhi kinerja pembiayaan kendaraan bermotor.
Dalam konteks tersebut, PT BRI Finance Indonesia (BRI Finance) mengungkapkan dua tantangan utama yang dihadapi industri multifinance dalam pembiayaan mobil baru. Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, menjelaskan bahwa tantangan pertama berasal dari sisi permintaan yang melemah karena konsumen lebih berhati-hati. Tantangan kedua berkaitan dengan penyesuaian harga kendaraan yang berdampak langsung pada keputusan pembelian.
“Kondisi ini membuat persaingan di industri pembiayaan menjadi semakin ketat dan menuntut pengelolaan risiko yang lebih cermat dan prudent,” ujar Aditia.
Strategi Pembiayaan Selektif dan Kompetitif
Untuk merespons kondisi tersebut, BRI Finance melakukan penyesuaian strategi secara selektif. Perusahaan menerapkan skema pricing lebih kompetitif yang disesuaikan dengan profil risiko nasabah. Selain itu, BRI Finance memberikan fleksibilitas tenor pembiayaan serta penyesuaian uang muka (DP) untuk menjaga keterjangkauan bagi nasabah tanpa mengabaikan kualitas portofolio. Pendekatan ini diharapkan menjaga penyaluran pembiayaan tetap sehat dan berkelanjutan.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan mobil baru oleh industri multifinance terkontraksi 4,65% YoY menjadi Rp142,59 triliun. BRI Finance menilai penurunan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk penyesuaian harga jual kendaraan, perubahan preferensi konsumen ke kendaraan hemat energi, serta ketidakpastian ekonomi yang mendorong konsumen menunda pembelian jangka panjang.
Fokus pada Segmen Potensial
Melihat kondisi pasar, BRI Finance memproyeksikan bahwa segmen pembiayaan kendaraan niaga ringan, segmen produktif, serta kendaraan terjangkau akan menunjukkan pertumbuhan lebih kuat dibanding segmen mobil penumpang premium. Oleh karena itu, perusahaan terus menyesuaikan strategi produk dan segmentasi nasabah untuk menangkap peluang pertumbuhan secara selektif dan berkelanjutan.
Saat ini, kontribusi pembiayaan mobil baru BRI Finance terhadap total portofolio tercatat sebesar 40,05%, sementara pembiayaan mobil bekas berkontribusi 9,87%. Permintaan cenderung mengarah pada kendaraan dengan total biaya kepemilikan rendah, seperti Low Cost Green Car (LCGC), serta kendaraan fungsional untuk keluarga dan aktivitas harian, khususnya SUV.
“Minat terhadap kendaraan listrik memang mulai berkembang, namun belum dominan. Pergeseran preferensi ini turut memengaruhi komposisi pembiayaan mobil baru maupun bekas di pasar,” tambah Aditia.
Dengan strategi selektif dan penyesuaian produk, BRI Finance berharap dapat mempertahankan pertumbuhan yang sehat, menjaga kualitas portofolio, serta tetap kompetitif di tengah dinamika awal tahun 2026.














