Media90.id – Aktivitas vulkanik kembali terjadi di wilayah Maluku Utara. Gunung Dukono dilaporkan mengalami erupsi pada Rabu, 10 Juni 2026 pukul 06:30 WIT dengan semburan abu vulkanik yang cukup signifikan.
Berdasarkan pengamatan visual, kolom letusan mencapai sekitar 400 meter di atas puncak, atau setara dengan ±1.487 meter di atas permukaan laut. Hingga laporan ini disusun, aktivitas erupsi masih berlangsung.
Arah Sebaran Abu Mengarah ke Barat Laut
Dalam laporan pengamatan, kolom abu terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal. Sebaran abu terpantau mengarah ke barat laut mengikuti kondisi angin di sekitar kawasan gunung.
Kondisi ini membuat persebaran abu tidak tetap, sehingga wilayah yang terdampak dapat berubah sewaktu-waktu tergantung arah dan kecepatan angin di lokasi.
Imbauan: Jauhi Radius 4 Km dari Kawah
Pihak terkait melalui pemantauan aktivitas vulkanik mengeluarkan sejumlah rekomendasi keselamatan bagi masyarakat sekitar.
“Masyarakat di sekitar G. Dukono dan pengunjung/wisatawan agar tidak beraktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang di dalam radius 4 km.”
Imbauan tersebut menegaskan pentingnya menjaga jarak aman dari area kawah aktif untuk menghindari potensi bahaya erupsi lanjutan.
Disarankan Gunakan Masker
Selain pembatasan aktivitas di sekitar kawah, masyarakat juga diingatkan untuk tetap waspada terhadap potensi paparan abu vulkanik yang dapat menyebar lebih luas.
“Mengingat letusan dengan abu vulkanik secara periodik terjadi dan sebaran abu mengikuti arah dan kecepatan angin, sehingga area landaan abunya tidak tetap, maka direkomendasikan agar masyarakat di sekitar G. Dukono untuk selalu menyediakan masker/penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernafasan.”
Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat partikel abu vulkanik yang terbawa angin.
Gunung Dukono sendiri merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia timur yang memiliki aktivitas erupsi cukup sering terjadi. Meski demikian, intensitasnya dapat berubah sewaktu-waktu sehingga pemantauan terus dilakukan oleh pihak berwenang.














