Media90 – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali menunjukkan peningkatan dengan terjadinya erupsi pada Selasa pagi, 5 Mei 2026. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 06.53 WIB dan terekam jelas melalui alat pemantauan seismik.
Letusan menghasilkan kolom abu yang teramati mencapai ketinggian sekitar 700 meter di atas puncak, atau sekitar 4.376 meter di atas permukaan laut. Abu vulkanik terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat daya.
Berdasarkan data pengamatan, erupsi ini juga tercatat di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm serta durasi sekitar 110 detik. Hal ini menunjukkan adanya tekanan dari dalam gunung yang masih aktif dan berpotensi memicu aktivitas lanjutan.
Seiring meningkatnya aktivitas tersebut, masyarakat di sekitar kawasan diminta untuk meningkatkan kewaspadaan. Potensi bahaya utama meliputi awan panas, guguran lava, serta aliran lahar yang dapat mengikuti jalur sungai yang berhulu di puncak gunung.
Wilayah yang menjadi perhatian utama adalah sektor tenggara, khususnya sepanjang Besuk Kobokan. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius hingga 13 kilometer dari pusat erupsi.
Bahkan di luar zona tersebut, warga juga diminta menjauhi area sempadan sungai sejauh 500 meter karena adanya risiko perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak.
Selain itu, aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah juga dilarang karena berpotensi terdampak lontaran material pijar saat terjadi letusan eksplosif. Sejumlah aliran sungai lain seperti Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat juga perlu diwaspadai, terutama saat hujan yang dapat memicu aliran lahar.
Pihak berwenang terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan aktivitas gunung. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dan tidak mendekati zona berbahaya demi keselamatan.














