Media90 – Memasuki awal tahun 2026, masyarakat Indonesia kembali diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan digital mereka. Kali ini ancaman datang dari fitur paling dasar ponsel: panggilan telepon. Laporan terbaru dari CNBC Indonesia menyoroti kebangkitan skema penipuan “Wangiri”, atau yang dikenal dengan istilah “satu dering”.
Istilah Wangiri berasal dari bahasa Jepang yang berarti “satu dering dan putus”. Modus lama ini kini berevolusi dengan otomatisasi dan kecerdasan buatan, membuatnya lebih masif dan terstruktur dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) pun telah merilis daftar kode negara yang harus dihindari masyarakat untuk mencegah kerugian finansial.
Anatomi Penipuan Wangiri: Modusnya Sederhana tapi Berbahaya
Modusnya memang simpel: penipu menggunakan auto-dialer untuk memanggil jutaan nomor dalam waktu singkat. Ponsel korban berdering satu atau dua kali—sering pada jam tak wajar—lalu panggilan terputus. Tujuannya? Memancing korban menelepon balik.
Korban yang menelepon balik akan diarahkan ke nomor Premium Rate Number (IPRN) atau nomor internasional bertarif mahal. Tarif per menit bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Penipu sering menahan korban di telepon lama dengan rekaman suara operator, musik tunggu, atau suara palsu untuk menambah durasi panggilan, sehingga keuntungan mereka meningkat.
Kode Negara yang Wajib Diwaspadai
Berdasarkan data Kemkomdigi dan laporan CNBC Indonesia, kode negara yang sering digunakan dalam serangan Wangiri awal 2026 antara lain:
-
+247 (Pulau Ascension) – Lokasi terpencil di Samudra Atlantik dengan regulasi telekomunikasi longgar.
-
+685 (Samoa) – Sering menarget Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
-
+269 (Komoro) – Nomor premium yang digunakan sindikat internasional.
-
+212 (Maroko) – Banyak nomor premium yang disalahgunakan.
-
+675 (Papua Nugini) – Terletak dekat Indonesia, sering muncul dalam serangan.
Kemkomdigi menegaskan daftar ini dapat bertambah. Aturan emas: jika tidak mengenal orang di luar negeri, jangan pernah menelepon balik nomor internasional yang tidak dikenal.
Dampak Finansial Wangiri
Kerugian korban sering tidak langsung terlihat. Pengguna pascabayar bisa melihat tagihan membengkak hingga jutaan rupiah, sementara pengguna prabayar kehilangan pulsa dalam hitungan detik. Meski operator memiliki sistem deteksi spam, sindikat Wangiri kini memanfaatkan AI untuk mengganti nomor secara cepat (spoofing), membuat deteksi menjadi lebih sulit.
Langkah Proteksi untuk Masyarakat
Pakar keamanan siber menyarankan langkah-langkah berikut:
-
Abaikan dan Blokir: Jangan jawab atau telepon balik nomor asing yang hanya berdering sekali. Blokir nomor tersebut.
-
Gunakan Aplikasi Pihak Ketiga: Aplikasi seperti Truecaller atau GetContact bisa mengidentifikasi nomor penipuan.
-
Laporkan ke Operator: Nomor yang berulang bisa dilaporkan untuk pemblokiran di tingkat jaringan.
-
Edukasi Keluarga: Berikan pemahaman kepada anggota keluarga, terutama lansia dan anak-anak.
Kesimpulan: Kedaulatan Digital Ada di Tangan Anda
Kejahatan siber semakin halus dan memanfaatkan celah psikologis manusia. Wangiri adalah bukti bahwa ancaman lama bisa kembali efektif jika literasi digital rendah. Tetap tenang dan jangan tergoda menelepon balik nomor asing, karena rasa penasaran yang tidak terkendali sering berujung pada kerugian finansial nyata.














