Media90 – Selama puluhan tahun, mobil berbahan bakar bensin menjadi tulang punggung transportasi global, mendominasi jalan raya dan membentuk pola konsumsi energi masyarakat. Keberadaan kendaraan listrik perlahan mulai menantang dominasi tersebut, meski masih menghadapi hambatan utama: keterbatasan jarak tempuh baterai.
Keraguan konsumen muncul karena daya baterai dianggap belum cukup untuk perjalanan jarak jauh. Pertanyaan besar yang muncul: apakah mobil listrik benar-benar mampu menggantikan bensin sebagai pilihan utama? Inovasi baterai silikon yang dikembangkan di Korea Selatan mulai memberikan jawaban. Teknologi ini diklaim mampu membawa mobil listrik melaju hingga 1.000 kilometer dalam sekali pengisian, sebuah pencapaian yang berpotensi mengubah industri otomotif global.
Silikon sebagai Material Revolusioner
Silikon dikenal sebagai material yang melimpah dan memiliki kapasitas penyimpanan energi lebih besar dibanding grafit yang digunakan pada baterai lithium-ion konvensional. Keunggulan ini menjadikannya kandidat utama untuk baterai generasi berikutnya.
Tantangan utamanya adalah silikon mengembang hingga tiga kali lipat saat diisi daya, lalu menyusut saat digunakan. Perubahan ekstrem ini membuat struktur baterai mudah rusak dan menurunkan performa.
Mikro-Silikon: Solusi Lebih Ekonomis
Selama ini, solusi menggunakan silikon partikel nano efektif, namun produksinya mahal dan rumit. Tim peneliti dari Pohang University of Science and Technology (POSTECH) memilih pendekatan berbeda: silikon berukuran mikro yang 1.000 kali lebih besar.
Keunggulannya:
- Lebih mudah diproduksi
- Lebih ekonomis
- Tetap memungkinkan kepadatan energi tinggi
Pendekatan ini membuka peluang produksi massal dengan biaya lebih terjangkau.
Gel Polimer Elektrolit sebagai Penyeimbang
Untuk mengatasi persoalan kembang-kempis silikon, para peneliti mengombinasikannya dengan gel polimer elektrolit fleksibel. Gel ini mengikuti pergerakan silikon, dan stabilisasi dilakukan melalui radiasi elektron.
Hasilnya: baterai tetap stabil meski silikon berubah volume berulang. Kepadatan energi meningkat sekitar 40% dibanding lithium-ion konvensional, tanpa mengurangi performa.
Tokoh Utama di Balik Inovasi
Inovasi ini lahir dari riset intensif tim ilmuwan POSTECH, dengan Park Soojin sebagai peneliti utama. Ia menekankan bahwa anoda mikro-silikon tetap menghasilkan baterai stabil dengan densitas energi tinggi.
Park Soojin dan timnya berhasil mengatasi masalah klasik silikon: perubahan volume ekstrem saat pengisian dan penggunaan. Dengan menggabungkan mikro-silikon dan gel polimer elektrolit fleksibel, mereka menciptakan baterai yang tahan siklus kembang-kempis tanpa kehilangan stabilitas. Kontribusi ini menjadi tonggak penting riset baterai generasi baru yang berpotensi mengubah arah industri otomotif global.
Potensi Perkembangan Teknologi di Masa Depan
Keberhasilan tim POSTECH bukan sekadar pencapaian akademis, tapi membuka jalan bagi teknologi energi masa depan:
- Produksi Massal Lebih Terjangkau
Mikro-silikon lebih mudah diproduksi dibanding partikel nano, memungkinkan biaya lebih rendah dan penerapan luas di industri otomotif. - Integrasi ke Infrastruktur Energi Terbarukan
Baterai berkapasitas tinggi dapat digunakan untuk mobil listrik dan penyimpanan energi skala besar, mendukung transisi ke energi bersih. - Percepatan Adopsi Kendaraan Listrik
Jarak tempuh hingga 1.000 km sekali pengisian menghapus hambatan terbesar konsumen. Mobil listrik menjadi pilihan utama yang praktis dan efisien. - Kolaborasi Global
Produksi massal memerlukan kerja sama universitas, perusahaan teknologi, dan produsen otomotif. Dukungan pemerintah lewat regulasi dan investasi infrastruktur pengisian daya juga menjadi kunci.
Dengan inovasi ini, Korea Selatan menempatkan baterai mikro-silikon sebagai salah satu kandidat terkuat untuk menggeser dominasi bensin dan mempercepat era kendaraan listrik global.














