Media90 – Eksplorasi ruang angkasa kini memasuki fase baru yang semakin ambisius, dengan Bulan menjadi target utama berbagai misi internasional dalam satu dekade ke depan. Namun, di balik semangat penjelajahan tersebut, para peneliti mulai mengingatkan munculnya ancaman lingkungan serius yang membayangi satelit alami Bumi itu. Bulan disebut berpotensi berubah menjadi “kuburan massal” bagi satelit rusak dan sampah antariksa jika tidak ada pengelolaan yang jelas dan terkoordinasi.
Peringatan ini muncul seiring meningkatnya aktivitas peluncuran wahana antariksa menuju orbit dan permukaan Bulan. Masalah sampah antariksa yang sebelumnya identik dengan orbit Bumi kini mulai meluas hingga ke lingkungan lunar. Tanpa aturan yang ketat, risiko penumpukan puing-puing antariksa dinilai akan semakin sulit dikendalikan.
Penumpukan Sampah Antariksa di Orbit Bulan
Laporan yang dilansir CNN Indonesia dan Perspektif menyoroti kekhawatiran para ilmuwan terkait minimnya regulasi pengelolaan lalu lintas antariksa di sekitar Bulan. Saat ini, berbagai negara dan perusahaan swasta berlomba mengirimkan satelit untuk kepentingan pemetaan, komunikasi, hingga persiapan misi pendaratan manusia.
Sayangnya, satelit yang telah mencapai akhir masa operasional sering kali dibiarkan mengorbit tanpa rencana penanganan lanjutan, atau bahkan dijatuhkan ke permukaan Bulan tanpa strategi deorbit yang matang. Akibatnya, orbit lunar mulai dipenuhi sisa logam, komponen elektronik tak aktif, serta residu bahan bakar dari misi sebelumnya.
Kondisi ini diperparah oleh karakter gravitasi Bulan yang tidak merata, sehingga orbit satelit cenderung tidak stabil dalam jangka panjang. Tanpa sistem manajemen lalu lintas antariksa yang terpadu, satelit rusak berisiko saling bertabrakan dan menghasilkan ribuan fragmen baru. Situasi tersebut meningkatkan potensi benturan bagi misi aktif maupun misi masa depan, menciptakan siklus penumpukan sampah yang sulit dihentikan.
Mengapa Satelit Mudah Jatuh dan Menumpuk
Salah satu faktor utama yang membuat Bulan berisiko menjadi kuburan satelit adalah struktur gravitasinya yang unik. Bulan memiliki konsentrasi massa padat di bawah permukaannya, yang dikenal sebagai mass concentrations atau mascons. Fenomena ini menyebabkan tarikan gravitasi yang tidak merata, terutama bagi satelit yang mengorbit pada ketinggian rendah.
Jika satelit kehabisan bahan bakar untuk melakukan koreksi orbit, perubahan tarikan gravitasi ini dapat menariknya keluar jalur. Dampaknya, satelit bisa jatuh ke permukaan Bulan atau bertabrakan dengan wahana lain yang sedang mengorbit.
Berbeda dengan Bumi, Bulan juga tidak memiliki atmosfer. Di orbit Bumi, sebagian besar sampah antariksa akan terbakar saat memasuki atmosfer. Namun di Bulan, setiap serpihan logam akan tetap utuh dan menjadi ancaman permanen di ruang hampa. Inilah yang membuat para peneliti khawatir orbit lunar akan mencapai titik jenuh, di mana puing-puing satelit rusak terus beredar dan menghambat jalur akses misi-misi penting, termasuk ke wilayah kutub Bulan yang kaya potensi ilmiah.
Mendesak, Perlunya Regulasi Internasional
Potensi Bulan menjadi kuburan massal satelit rusak dinilai sebagai peringatan keras bagi komunitas internasional. Para peneliti menekankan pentingnya penyusunan protokol global untuk pengelolaan sampah antariksa, khususnya di orbit Bulan.
Keberlanjutan eksplorasi ruang angkasa sangat bergantung pada kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan orbit yang digunakan. Setiap negara dan perusahaan swasta didorong untuk mengadopsi teknologi deorbit yang memungkinkan satelit ditarik kembali, dipindahkan ke orbit aman, atau dihancurkan secara terkendali setelah masa tugasnya berakhir.
Dengan pengelolaan yang bertanggung jawab, orbit Bulan dapat tetap terjaga sebagai lingkungan yang aman bagi penelitian dan eksplorasi di masa depan. Tanpa langkah nyata sejak sekarang, Bulan yang selama ini menjadi simbol keindahan dan misteri alam semesta berisiko dikelilingi oleh lapisan sampah logam hasil aktivitas manusia sendiri.














