TEKNO

China Lampaui Batas Fisika, “Matahari Buatan” EAST Catat Sejarah Baru Energi Fusi

5
×

China Lampaui Batas Fisika, “Matahari Buatan” EAST Catat Sejarah Baru Energi Fusi

Sebarkan artikel ini
Revolusi Energi Dunia! Matahari Buatan China Pecahkan Rekor di Awal 2026
Revolusi Energi Dunia! Matahari Buatan China Pecahkan Rekor di Awal 2026

Media90 – Proyek ambisius reaktor fusi nuklir China yang dijuluki “Matahari Buatan” baru saja mencatatkan tonggak sejarah baru di dunia sains. Berdasarkan laporan Kompas Tekno, reaktor Experimental Advanced Superconducting Tokamak (EAST) berhasil menembus batas kepadatan plasma yang selama puluhan tahun dianggap mustahil dilampaui secara stabil.

Pencapaian ini bukan sekadar pemecahan rekor durasi eksperimen, melainkan bukti bahwa salah satu batas fisika plasma yang selama ini menghambat komersialisasi energi fusi akhirnya dapat ditaklukkan. Dengan kemajuan besar di awal 2026 ini, China kian mengukuhkan diri sebagai pemimpin global dalam perlombaan energi masa depan yang aman, murah, dan bebas karbon.

Menembus Batas Greenwald: Kenapa Ini Penting?

Dalam desain reaktor tokamak, fisikawan selama ini berpegang pada Batas Greenwald, yaitu batas kepadatan maksimum plasma yang bisa dikurung oleh medan magnet tanpa memicu ketidakstabilan yang berpotensi merusak reaktor.

Baca Juga:  Industri Baterai China Menjadi Mesin Uang Baru Energi Global, Ekspor Tembus US$65 Miliar

Selama beberapa dekade, melampaui batas ini dianggap mustahil tanpa mematikan reaksi fusi secara tiba-tiba.

Namun, tim peneliti EAST melaporkan bahwa mereka berhasil menjalankan plasma pada kepadatan 1,3 hingga 1,65 kali di atas Batas Greenwald secara stabil—sebuah hasil yang sebelumnya hanya terbayang dalam simulasi.

Mengapa kepadatan plasma penting?

Karena energi yang dihasilkan reaksi fusi meningkat secara kuadratik terhadap kepadatan plasma. Artinya, sedikit peningkatan kepadatan dapat menghasilkan lonjakan energi yang signifikan tanpa perlu memperbesar ukuran fisik reaktor.

Jika temuan ini dapat diterapkan dalam skala panjang, reaktor fusi masa depan bisa dibuat lebih kecil, lebih efisien, dan lebih hemat biaya.

Rahasia Teknologi di Balik Keberhasilan

Terobosan ini tidak datang dari kebetulan. Tim peneliti menerapkan strategi baru berupa:

Baca Juga:  WhatsApp Eksperimen dengan Fitur Terbaru: Generator Stiker Berbasis Kecerdasan Buatan (AI)

Pengaturan pemanasan plasma tahap awal
Kontrol jumlah injeksi gas dengan presisi tinggi
Optimalisasi stabilitas bagian tepi plasma

Dengan pendekatan ini, area tepi plasma yang biasanya rentan justru mampu bertahan di kondisi kepadatan ekstrem.

Selain itu, peneliti juga mempelajari interaksi antara plasma dan dinding reaktor. Mereka menemukan bahwa dengan mengelola permukaan dinding, plasma dapat “beradaptasi” di kepadatan tinggi tanpa memicu kerusakan atau shutdown reaksi.

Dengan kata lain, hambatan fisika yang selama ini membatasi operasi fusi mulai diretas melalui rekayasa dan kontrol berbasis AI serta sensor presisi.

Jalan Panjang Menuju Pembangkit Listrik Fusi

Meski disebut sebagai capaian yang “menembus batas mustahil,” para ilmuwan dari Institute of Plasma Physics (ASIPP) mengingatkan bahwa masih banyak tahap yang harus dilalui sebelum masyarakat bisa menyalakan lampu rumah dari energi fusi.

Tantangan berikutnya meliputi:

  • Mempertahankan kondisi ekstrim ini lebih lama

  • Meningkatkan efisiensi transfer panas

  • Mengintegrasikan sistem ke skala pembangkit listrik komersial

Eksperimen EAST juga akan memberi kontribusi besar untuk ITER, proyek reaktor fusi internasional di Prancis yang melibatkan 35 negara termasuk China. Data kepadatan plasma ini dapat mempercepat desain reaktor berikutnya agar lebih kompak, lebih murah, dan lebih efisien.

Kesimpulan: Harapan Baru bagi Energi Bersih

Di tengah ancaman krisis iklim global, keberhasilan “Matahari Buatan” ini menjadi sumber harapan baru bagi energi bersih dan berkelanjutan.

Berbeda dengan energi nuklir fisi, energi fusi:

  • Tidak menghasilkan emisi karbon

  • Tidak meninggalkan limbah radioaktif jangka panjang

  • Tidak berisiko meltdown reaktor

  • Menggunakan bahan baku melimpah seperti hidrogen dari air laut

Dengan tembusnya batas kepadatan plasma pada awal Januari 2026, langkah menuju energi yang mampu menyuplai kebutuhan planet ini terasa selangkah lebih dekat.

“Matahari Buatan” kini bukan lagi sekadar eksperimen laboratorium, tetapi bukti nyata bahwa batas teknologi manusia dapat terus didorong menuju fase baru energi masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *