Media90 – Sepanjang tahun 2025, fitur pemantauan gula darah mulai ramai muncul dalam daftar kemampuan smartwatch. Di halaman produk, klaim mampu membaca kadar glukosa langsung dari pergelangan tangan—tanpa jarum dan tanpa alat tambahan—kini semakin sering ditemui, terutama pada model yang dijual luas secara online. Sekilas terdengar sangat praktis, namun wajar jika kemudian muncul pertanyaan besar: seberapa akurat data yang ditampilkan?
Gambaran nyatanya terlihat dari temuan Otoritas Jaringan Federal Jerman dalam pengawasan pasar yang mereka lakukan. Regulator menemukan sejumlah perangkat yang memasarkan fitur pemantauan glukosa darah, meskipun secara teknis tidak benar-benar mengukur kadar glukosa. Dalam beberapa kasus, angka yang ditampilkan ternyata berasal dari hasil pengolahan data sensor lain atau perhitungan sistem algoritmik, bukan dari pengukuran langsung sebagaimana alat medis.
Teknologi Glukosa Akurat Masih Bergantung pada Metode Invasif
Dari sisi teknologi, pemantauan kadar glukosa yang akurat hingga saat ini masih identik dengan metode invasif, seperti pengambilan sampel darah atau penggunaan continuous glucose monitor (CGM) eksternal. Artinya, smartwatch yang berdiri sendiri masih belum berada di level yang sama dengan perangkat medis khusus.
Perbedaan ini penting dipahami agar data dari wearable tidak disalahartikan. Informasi yang ditampilkan smartwatch seharusnya diposisikan sebagai indikasi tambahan, bukan sebagai pengganti pemeriksaan medis atau dasar pengambilan keputusan kesehatan.
Salah satu contoh yang sempat disorot adalah Kospet iHeal 6. Dalam pengujian, angka “glukosa” yang ditampilkan perangkat tersebut menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan alat medis resmi. Kasus-kasus seperti inilah yang mendorong regulator untuk mengingatkan masyarakat agar tidak sepenuhnya bergantung pada data dari perangkat konsumen.
Banyak Perangkat Tak Penuhi Standar Regulasi
Dari sisi peredaran, otoritas di Jerman menandai 1.266 listing online yang diduga tidak memenuhi ketentuan, dengan estimasi total penjualan mencapai sekitar lima juta unit. Smartwatch menjadi kategori perangkat yang paling sering muncul dalam daftar tersebut.
Pemeriksaan di toko fisik juga menunjukkan hasil serupa. Dari lebih dari 2.400 model yang diperiksa, lebih dari setengahnya dinyatakan belum memenuhi standar regulasi, berdampak pada sekitar 1,9 juta unit yang beredar di pasaran. Sementara itu, di perbatasan, pihak bea cukai menahan 359 ribu perangkat tidak patuh setelah memeriksa ribuan pengiriman.
Perlu Sikap Bijak sebagai Pengguna
Seluruh temuan ini memberi gambaran bahwa perkembangan fitur kesehatan di smartwatch memang bergerak sangat cepat. Namun di sisi lain, pemahaman pengguna terhadap cara kerja teknologi tersebut menjadi semakin penting.
Tanpa pemahaman yang tepat, klaim fitur kesehatan bisa menimbulkan ekspektasi berlebihan—bahkan berisiko jika dijadikan dasar keputusan medis. Untuk saat ini, data kesehatan dari smartwatch sebaiknya diperlakukan sebagai referensi pendukung, bukan pengganti alat medis yang sudah teruji secara klinis.
Jadi, sebelum percaya penuh pada angka di layar, ada baiknya kita tetap kritis dan memahami batasan teknologi yang digunakan.














