TEKNO

Robot Anjing “Vulkanolog” Taklukkan Gunung Etna, Buka Era Baru Prediksi Letusan

8
×

Robot Anjing “Vulkanolog” Taklukkan Gunung Etna, Buka Era Baru Prediksi Letusan

Sebarkan artikel ini
Robot Anjing Diterjunkan di Etna untuk Prediksi Letusan Gunung Api
Robot Anjing Diterjunkan di Etna untuk Prediksi Letusan Gunung Api

Media90 – Eksplorasi gunung berapi aktif merupakan salah satu pekerjaan paling berbahaya di muka bumi. Risiko gas beracun, suhu ekstrem, hingga letusan mendadak menjadikan tugas ini selama bertahun-tahun hanya bisa dilakukan oleh ilmuwan dengan taruhan nyawa. Namun di Gunung Etna, Italia—salah satu gunung berapi paling aktif dan paling sulit diprediksi di dunia—peran berisiko itu kini mulai diambil alih oleh mesin cerdas.

Sebuah tim peneliti internasional dari Jerman, Inggris, dan Italia mengumumkan keberhasilan uji coba lapangan robot berkaki empat (quadruped) yang dimodifikasi khusus untuk misi vulkanologi. Robot yang dijuluki sebagai “Anjing Vulkanolog” ini sukses mendaki hingga ke bibir kawah aktif Gunung Etna di ketinggian sekitar 3.300 meter, wilayah yang dikategorikan sebagai zona merah dan sangat berbahaya bagi manusia.

Keberhasilan ini menandai terobosan penting dalam pemantauan aktivitas gunung berapi aktif.

Mengapa Harus Robot Anjing?

Selama ini, pemantauan gunung berapi umumnya mengandalkan dua teknologi utama: drone udara dan rover beroda. Namun, keduanya memiliki keterbatasan serius. Drone kerap kesulitan terbang stabil akibat turbulensi udara panas dan gas beracun di sekitar kawah. Sementara rover beroda sering kali tersendat atau terjebak di medan vulkanik yang dipenuhi batu tajam, pasir longgar, dan kontur ekstrem.

Baca Juga:  Ini Dia Whee! Aplikasi Terbaru dari ByteDance, Siap Saingi Instagram

Di sinilah keunggulan robot berkaki empat terlihat jelas. Dengan desain yang meniru biomekanik hewan, robot ini memiliki kelincahan dan stabilitas yang jauh lebih tinggi di medan sulit.

Kaki-kaki mekanisnya dikendalikan oleh kecerdasan buatan yang mampu menyesuaikan keseimbangan secara real-time. Robot dapat memanjat tumpukan batu lahar yang gembur, melintasi permukaan licin, hingga bertahan dari guncangan kecil yang kerap terjadi di sekitar kawah aktif.

Tak hanya itu, tubuh robot ini juga dilapisi material pelindung panas khusus. Lapisan tersebut dirancang untuk menahan suhu ekstrem tanah vulkanik yang dapat melelehkan sol sepatu pendaki dalam hitungan menit.

Misi Utama: “Mencium” Gas Beracun

Misi robot anjing ini bukan sekadar membuktikan kemampuan berjalan di medan ekstrem. Di punggungnya terpasang serangkaian instrumen ilmiah canggih, termasuk spektrometer massa dan perangkat yang dijuluki sebagai “hidung elektronik”.

Baca Juga:  Siapakah yang Akan Menjadi Rival Terkuat Galaxy S24 Ultra? Honor Magic 6 Pro Mengungkapkan Spesifikasinya!

Peralatan ini bertugas menganalisis komposisi gas vulkanik secara langsung dari sumbernya. Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa menjelang letusan, rasio gas yang dilepaskan gunung—seperti Sulfur Dioksida (SO₂) dan Karbon Dioksida (CO₂)—mengalami perubahan signifikan.

Robot ini mampu mendekati fumarol, titik keluarnya gas dari perut bumi, lalu “menghirup” sampel udara secara langsung. Data tersebut kemudian dianalisis dan dikirimkan ke pusat pemantauan dalam hitungan detik.

Keunggulan utama metode ini adalah tingkat presisi yang jauh lebih tinggi dibandingkan pengamatan jarak jauh melalui satelit. Data close-up memungkinkan algoritma prediksi letusan bekerja lebih akurat dan responsif terhadap perubahan kecil yang sebelumnya sulit terdeteksi.

Harapan Baru dalam Mitigasi Bencana

Keberhasilan uji coba lapangan di Gunung Etna pada Februari 2026 menjadi tonggak penting bagi dunia vulkanologi. Untuk pertama kalinya, para ilmuwan memiliki “mata dan hidung” yang dapat dikirim ke area paling berbahaya tanpa mempertaruhkan nyawa manusia.

Baca Juga:  Solusi Tepat untuk Mengatasi Kode Kesalahan 277 di Roblox dan Memeriksa Koneksi Internet Kamu

Profesor yang memimpin proyek ini menegaskan bahwa tujuan utama pengembangan teknologi tersebut bukan sekadar inovasi, melainkan penyelamatan nyawa. Dengan data yang lebih cepat dan akurat, sistem peringatan dini dapat dikeluarkan lebih awal, memberi waktu tambahan bagi proses evakuasi penduduk di sekitar gunung.

Ke depan, teknologi robot anjing ini diharapkan dapat diadopsi secara global untuk memantau gunung-gunung api aktif di berbagai belahan dunia. Kawasan Cincin Api Pasifik, termasuk Indonesia dengan gunung-gunung seperti Merapi dan Semeru, menjadi salah satu wilayah yang dinilai paling potensial memanfaatkan teknologi ini.

Jika berhasil diterapkan secara luas, robot anjing “vulkanolog” bukan hanya akan mengubah cara manusia mempelajari gunung berapi, tetapi juga menjadi garda depan baru dalam mitigasi bencana alam di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *