TEKNO

Selamat Tinggal Lithium! Google Gunakan Baterai Udara CO2 untuk Energi Hijau

59
×

Selamat Tinggal Lithium! Google Gunakan Baterai Udara CO2 untuk Energi Hijau

Sebarkan artikel ini
Google Tinggalkan Lithium, Beralih ke Baterai Udara CO2 untuk Energi Ramah Lingkungan
Google Tinggalkan Lithium, Beralih ke Baterai Udara CO2 untuk Energi Ramah Lingkungan

Media90 – Google mengumumkan langkah strategis dalam transformasi energi global dengan memperkenalkan teknologi baterai baru yang tidak lagi bergantung pada mineral langka seperti lithium dan nikel. Melalui kemitraan dengan Energy Dome, startup asal Milan, Italia, Google berencana menerapkan sistem penyimpanan energi berbasis karbon dioksida (CO2) untuk pusat data mereka di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia Pasifik. Langkah ini sejalan dengan target Google mencapai operasional bebas emisi di seluruh fasilitasnya.

Baterai Udara CO2: Mekanisme dan Cara Kerja

Baterai CO2 berbeda dari baterai kimia konvensional. Sistem ini menggunakan kubah raksasa sebagai wadah penyimpanan gas CO2 terkompresi melalui siklus termodinamika. Surplus energi dari pembangkit listrik terbarukan seperti panel surya atau turbin angin digunakan untuk mengompresi gas CO2. Setelah disimpan dalam bentuk cair, energi dapat dilepas kembali untuk memutar turbin saat dibutuhkan, memastikan pasokan listrik hijau yang konsisten 24 jam penuh.

Baca Juga:  Di Balik Layar Ruang Pribadi: Fitur Unggulan Android 15 yang Patut Diketahui

Kapasitas Besar dan Keunggulan untuk Pusat Data

Fasilitas Energy Dome memiliki kapasitas penyimpanan hingga 200 MWh, cukup untuk memasok listrik sekitar 6.000 rumah. Sistem ini dirancang plug-and-play, sehingga mudah diintegrasikan ke pusat data yang sudah memiliki jaringan listrik mapan. Kelebihan lain, teknologi ini mengurangi ketergantungan pada mineral tanah jarang, menutup risiko fluktuasi harga dan mengurangi dampak lingkungan dari penambangan. CO2 yang digunakan bersifat closed-loop, memungkinkan penggunaan ulang tanpa penggantian rutin seperti baterai kimia biasa.

Tantangan dan Risiko Lingkungan

Meski ramah mineral, baterai CO2 menghadapi risiko kebocoran gas. Jika sistem penyegelan gagal, CO2 bisa lepas ke atmosfer, berpotensi memperburuk pemanasan global. Oleh karena itu, keamanan fisik kubah dan sistem monitoring kebocoran menjadi prioritas utama.

Baca Juga:  Google Menghadirkan Inovasi Terbaru: Format Gambar JPEG Diperbarui dengan Teknik Kompresi Modern

Ekspansi Global dan Masa Depan Energi

Prototipe skala besar tengah dibangun di Sardinia, Italia, dengan rencana ekspansi ke Amerika Serikat dan India. Teknologi ini memungkinkan penyimpanan energi jangka panjang hingga 10 jam atau lebih, menjadi solusi bagi pasokan energi berkelanjutan saat pembangkit listrik terbarukan mengalami fluktuasi. Google menargetkan baterai udara CO2 sebagai standar baru penyimpanan energi yang efisien dan ramah lingkungan bagi infrastruktur digital global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *