Media90 – Di era digital modern, dunia menghasilkan jutaan ton limbah elektronik (e-waste) setiap tahunnya. Banyak dari kita melihat ponsel lama, laptop rusak, atau remote korslet sebagai sampah yang tak berguna. Namun, peneliti sudah lama mengetahui bahwa limbah-limbah ini memiliki nilai tersembunyi: emas. Tantangannya adalah bagaimana mengekstraknya tanpa merusak lingkungan.
Baru-baru ini, sekelompok peneliti Cina menemukan metode terobosan untuk mendapatkan kembali emas dari perangkat elektronik lama, lebih cepat, murah, dan ramah lingkungan dibanding teknik tradisional. Dikembangkan oleh para ahli dari Institut Konversi Energi Guangzhou (di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Cina) dan Universitas Teknologi Cina Selatan, inovasi ini berpotensi mengubah citra daur ulang selamanya.
Solusi Murah dan Cepat
Yang paling mencengangkan dari penemuan ini adalah kecepatannya. Menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal Angewandte Chemie International Edition, emas kini dapat diekstrak dari perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan dalam waktu kurang dari 20 menit pada suhu ruang. Untuk industri yang selama ini bergantung pada rendaman kimia lambat dan kompleks, durasi ini hampir sekejap.
Efisiensinya juga mengesankan. Tim peneliti melaporkan bahwa mereka bisa mendapatkan 98,2% emas dari limbah CPU dan PCB, serta 93,4% palladium, logam berharga lain yang stabil dan tahan korosi.
Perubahan Besar dalam Ekonomi
Dari sisi biaya, metode ini juga merupakan revolusi. Tim peneliti mengungkapkan bahwa proses ini hanya sekitar sepertiga dari harga pasar untuk mengekstrak emas. Contoh eksperimen mereka:
-
Memproses 10 kilogram papan sirkuit lama dapat menghasilkan sekitar 1,4 gram emas.
-
Biaya total ekstraksi sekitar $72 (±Rp 1,2 juta).
-
Artinya, biaya untuk menambang emas ini sekitar $1.455 (±Rp 24,5 juta) per ons.
Sebagai perbandingan, harga emas internasional mencapai $4.400 (±Rp 74,1 juta) per ons di awal Januari 2026, dan diprediksi bisa menembus $10.000 (±Rp 168,5 juta) per ons akhir dekade ini. Dengan margin keuntungan sedemikian besar, metode 20 menit ini sangat menggiurkan bagi industri.
Kenapa Metode Tradisional Gagal?
Sampai saat ini, mendaur ulang emas dari elektronik dikenal sebagai bisnis “kotor” dan berbahaya. Metode lama biasanya menggunakan sianida atau bahan kimia korosif tinggi lainnya, yang berisiko bagi pekerja dan bisa mencemari air lokal. Selain itu, metode tradisional boros energi dan menghasilkan limbah beracun yang sulit dibuang.
Dengan limbah elektronik diperkirakan mencapai 82 juta ton pada 2030, dunia tidak bisa lagi mengandalkan cara beracun dan boros energi ini. Metode baru dari tim Cina mengonsumsi 62,5% lebih sedikit energi dan memangkas biaya bahan reaksi hingga 93%.
Bagaimana Cara Kerja “Self-Catalytic” Ini?
Terobosan ini bergantung pada mekanisme pelarutan self-catalytic. Alih-alih menggunakan bahan kimia eksternal untuk melarutkan emas, tim ini menggunakan larutan berbasis air yang mengandung potasium peroksimonosulfat (PMS) dan potasium klorida (KCl).
Saat larutan ini menyentuh permukaan emas atau paladium, besi pada papan sirkuit bertindak sebagai pemicu. Reaksi ini menghasilkan oksidan sangat reaktif yang memecah atom logam dan melarutkannya. Emas kemudian bisa dipisahkan dan dimurnikan melalui langkah sederhana untuk mendapatkan logam dengan kemurnian tinggi.
Mengubah Sampah Menjadi “Tambang Perkotaan”
Penemuan ini berpotensi mengubah tempat pembuangan sampah menjadi tambang perkotaan, mengurangi ketergantungan pada tambang tradisional yang merusak lahan. Dengan proses yang cepat, ekonomis, dan ramah lingkungan, metode ekstraksi 20 menit ini menjadi solusi win-win bagi industri teknologi dan lingkungan.














