INTERNASIONAL

Ilmuwan Klaim Temukan “Alamat Surga” di Alam Semesta, Sejauh 439 Sekstiliun Kilometer

116
×

Ilmuwan Klaim Temukan “Alamat Surga” di Alam Semesta, Sejauh 439 Sekstiliun Kilometer

Sebarkan artikel ini
Heboh! Ilmuwan Sebut Ada “Alamat Tuhan” Sejauh 439 Sekstiliun KM
Heboh! Ilmuwan Sebut Ada “Alamat Tuhan” Sejauh 439 Sekstiliun KM

Media90 – Selama ribuan tahun, keberadaan surga menjadi perdebatan panjang yang memisahkan antara ilmuwan dan teolog. Namun, sebuah klaim mengejutkan datang dari Dr. Michael Guillen, mantan pengajar Harvard University yang memiliki gelar PhD di bidang fisika, matematika, dan astronomi. Dalam esai terbukanya, ia menyatakan telah mengidentifikasi “lokasi” surga di alam semesta secara fisik.

Melalui pendekatan yang tidak biasa, Guillen menggabungkan konsep kosmologi modern bernama Cosmic Horizon dengan penafsiran ayat-ayat dalam Alkitab. Berdasarkan perhitungan matematisnya, lokasi yang ia yakini sebagai surga berada pada jarak sekitar 273 miliar triliun mil atau setara dengan 439 sekstiliun kilometer dari Bumi. Meski terdengar sangat spesifik, Guillen mengakui bahwa teorinya bersifat spekulatif dan bukan bagian dari sains arus utama.

Ads
close ads

Mengacu pada Teori Ekspansi Alam Semesta

Guillen mendasarkan teorinya pada konsep ekspansi alam semesta yang pertama kali dipopulerkan oleh astronom Edwin Hubble pada tahun 1929. Hubble menemukan bahwa galaksi-galaksi saling menjauh satu sama lain, layaknya serpihan yang terpental dari sebuah ledakan besar.

Penemuan ini melahirkan apa yang dikenal sebagai Hukum Hubble, yakni semakin jauh jarak sebuah galaksi dari Bumi, semakin cepat galaksi tersebut bergerak menjauh. Dari pola ini, Guillen membuat kesimpulan matematis ekstrem. Ia berpendapat bahwa pada jarak 439 sekstiliun kilometer, sebuah galaksi akan bergerak menjauh dengan kecepatan 186.000 mil per detik, yang setara dengan kecepatan cahaya.

Cakrawala Kosmik dan Konsep Keabadian

Guillen menyebut titik tersebut sebagai Cosmic Horizon atau cakrawala kosmik, yaitu batas maksimum yang dapat dijangkau oleh pengamatan manusia. Menurutnya, cahaya dari wilayah di luar batas ini tidak akan pernah sampai ke Bumi karena ruang di antaranya mengembang lebih cepat dari kecepatan cahaya.

“Manusia tidak akan pernah bisa mencapainya,” tulis Guillen, menegaskan bahwa bahkan teknologi paling canggih sekalipun tidak mampu menembus batas tersebut.

Ia kemudian mengaitkan konsep ini dengan teori relativitas dari Albert Einstein. Guillen menyatakan bahwa di wilayah cakrawala kosmik, waktu secara efektif “berhenti”, sehingga tidak ada lagi perbedaan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kondisi ini ia tafsirkan sebagai bentuk keabadian, yang menurutnya selaras dengan konsep religius tentang surga.

Menurut Guillen, meskipun manusia tidak dapat menjangkaunya secara fisik, wilayah tersebut tetap bisa “dihuni” oleh entitas non-material seperti cahaya atau bentuk eksistensi lain yang melampaui batas fisik manusia.

Bantahan dari Komunitas Ilmiah

Meski memiliki latar belakang akademis yang kuat, klaim Guillen menuai kritik dari komunitas ilmiah. Para kosmolog menegaskan bahwa interpretasi tersebut tidak sesuai dengan pemahaman ilmiah modern.

Dalam kosmologi, fenomena yang disebut Guillen sebagai “waktu berhenti” sebenarnya adalah efek redshift, yakni peristiwa di mana cahaya dari objek yang sangat jauh tampak melambat karena panjang gelombangnya teregang akibat ekspansi alam semesta. Hal ini tidak berarti waktu benar-benar berhenti di lokasi tersebut.

Selain itu, para ilmuwan juga menekankan bahwa cakrawala kosmik bukanlah sebuah titik tetap di alam semesta. Batas tersebut bersifat relatif terhadap posisi pengamat. Artinya, setiap pengamat di lokasi berbeda akan memiliki cakrawala kosmiknya masing-masing.

Dengan demikian, klaim tentang “lokasi fisik surga” sejauh 439 sekstiliun kilometer dianggap lebih sebagai spekulasi filosofis yang menggabungkan sains dan keyakinan, bukan sebagai penemuan ilmiah yang dapat diverifikasi.

Heboh Hacker Kembar Diduga Hapus 96 Database Pemerintah AS Usai Dipecat dari Opexus
INTERNASIONAL

Media90 – Kasus pemecatan karyawan yang berujung pada sabotase siber berskala besar mengguncang industri teknologi dan keamanan federal Amerika Serikat. Dua saudara kembar, Muneeb Akhter dan Sohaib Akhter yang berusia 34 tahun didakwa setelah nekat menghapus sekitar 96 database berisi informasi sensitif milik pemerintah federal AS. Ads close ads Aksi destruktif tersebut dilakukan hanya beberapa menit setelah keduanya diberhentikan dari perusahaan tempat mereka bekerja. Kasus ini langsung menyita perhatian publik karena kedua pelaku bekerja di Opexus, perusahaan kontraktor teknologi yang melayani lebih dari 45 lembaga pemerintah AS. Ironisnya, keduanya berhasil lolos proses rekrutmen dan dipercaya menangani data penting negara meskipun…

Heboh di India Kematian Twisha Sharma Picu Dugaan Mahar dan KDRT
INTERNASIONAL

Media90 – Nama Twisha Sharma mendadak menjadi perbincangan luas di India setelah kematiannya pada 12 Mei lalu. Perempuan berusia 33 tahun tersebut ditemukan tidak bernyawa di rumah keluarga suaminya di Bhopal. Ads close ads Kasus ini dengan cepat menyita perhatian media nasional karena muncul dugaan keterlibatan konflik mahar dan kekerasan rumah tangga. Polisi kini masih mendalami penyebab pasti kematian Twisha, termasuk kemungkinan pembunuhan maupun bunuh diri. Twisha diketahui menikah dengan Samarth Singh pada Desember 2025 setelah keduanya berkenalan melalui aplikasi kencan setahun sebelumnya. Awalnya, kehidupan rumah tangga pasangan tersebut tampak harmonis. Namun menurut keluarga korban, masalah mulai muncul tidak lama…

Israel Tuai Sorotan Internasional Usai Hentikan Kapal Bantuan untuk Gaza
INTERNASIONAL

Media90 – Ketegangan terkait konflik Gaza kembali memanas setelah militer Israel mencegat armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla di kawasan Laut Mediterania. Insiden tersebut terjadi saat kapal bantuan berada di perairan internasional sekitar 460 kilometer di barat Siprus. Ads close ads Aksi pencegatan itu langsung menjadi perhatian dunia internasional setelah rekaman siaran langsung tersebar luas di media sosial. Dalam video yang beredar, sejumlah relawan dan penumpang sipil tampak mengangkat tangan ketika pasukan komando Israel memasuki kapal bantuan tersebut. Langkah militer Israel menuai kecaman dari berbagai pihak karena operasi dilakukan di luar wilayah perairan negaranya. Sejumlah pihak menilai tindakan tersebut berpotensi melanggar…

Darah Buatan Super Clot Diklaim Mampu Menghentikan Pendarahan dalam Hitungan Detik
INTERNASIONAL

Media90 – Dunia medis kembali mencatat kemajuan besar dengan hadirnya teknologi Engineered Blood Clots (EBCs), sebuah inovasi pembekuan darah buatan yang mampu menghentikan perdarahan hebat hanya dalam hitungan detik. Teknologi ini dikembangkan oleh tim peneliti lintas institusi dari Kanada dan Amerika Serikat melalui pendekatan revolusioner yang dikenal sebagai click clotting. Inovasi ini digadang-gadang menjadi solusi masa depan dalam penanganan darurat, terutama pada kasus kecelakaan, operasi besar, hingga pasien dengan gangguan pembekuan darah. Ads close ads Click Clotting: Cara Baru Membekukan Darah Berbeda dengan proses alami tubuh yang mengandalkan serat fibrin, teknologi EBCs justru memaksimalkan peran sel darah merah sebagai struktur…

Kabel Internet Global di Selat Hormuz Jadi Target, Iran Wacanakan ‘Toll Digital’ untuk Big Tech
INTERNASIONAL

Media90 – Selat Hormuz yang selama ini dikenal sebagai jalur vital energi dunia kini mulai dipandang dari perspektif baru oleh Iran: sebagai pusat infrastruktur digital global yang strategis. Media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Tasnim News Agency, mendorong pemerintah untuk mulai memonetisasi kabel serat optik bawah laut yang melintasi kawasan tersebut. Dalam laporan berjudul “Three practical steps for generating revenue from Strait of Hormuz internet cables”, Tasnim menyoroti bahwa Selat Hormuz tidak hanya menjadi jalur kapal tanker minyak, tetapi juga koridor penting bagi arus data global yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Ads close ads…

Ilmuwan China Ciptakan Sel Bahan Bakar Batu Bara dengan Potensi Nol Emisi
INTERNASIONAL

Media90 – Tim ilmuwan dari Universitas Shenzhen, China, mengklaim telah berhasil mengembangkan teknologi sel bahan bakar batu bara yang berpotensi memangkas emisi karbon dioksida (CO2) hingga mendekati nol. Inovasi yang diberi nama zero-carbon-emission direct coal fuel cell (ZC-DCFC) ini dinilai mampu mengubah cara kerja pembangkit listrik berbasis batu bara secara fundamental. Berdasarkan laporan The Independent pada akhir April 2026, teknologi ini menawarkan pendekatan baru dalam menghasilkan energi dari bahan bakar fosil dengan dampak polusi yang jauh lebih rendah dibanding metode konvensional. Ads close ads Mekanisme Kerja Tanpa Pembakaran Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga uap yang mengandalkan pembakaran batu bara, sistem…

Kanker Usus pada Usia Muda Meningkat, Peneliti Temukan Jejak Herbisida di DNA
INTERNASIONAL

Media90 – Tren peningkatan kasus Kanker Kolorektal pada kelompok usia di bawah 50 tahun kini menjadi perhatian serius dunia kesehatan. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine mengungkap temuan mengejutkan, yakni adanya dugaan keterkaitan antara paparan herbisida bernama Picloram dengan meningkatnya kasus kanker ini pada pasien usia muda. Temuan tersebut membuka perspektif baru dalam dunia Onkologi, yang selama ini lebih banyak mengaitkan kanker usus dengan faktor gaya hidup dan pola makan. Meski masih bersifat awal, peneliti menemukan “sidik jari” DNA pada tumor pasien yang mengindikasikan adanya pengaruh paparan lingkungan terhadap mutasi genetik. Ads close ads Jejak DNA Ungkap Paparan…