Media90 – Media sosial kembali diguncang kontroversi menyusul beredarnya video seorang kreator TikTok yang diduga melibatkan siswi di bawah umur dalam konten bertajuk “pacar 1 jam”. Unggahan tersebut memicu kecaman luas dari warganet dan pegiat perlindungan anak karena dinilai berbahaya serta berpotensi menormalisasi praktik child grooming.
Child grooming sendiri merupakan upaya orang dewasa membangun kedekatan emosional dengan anak di bawah umur yang dapat berujung pada eksploitasi. Sejumlah pemerhati keselamatan perempuan dan anak menegaskan bahwa konten semacam ini telah melampaui batas kewajaran, terlepas dari klaim sebagai “gimmick”, “settingan”, atau hiburan semata.
Dugaan Child Grooming Jadi Sorotan
Respons keras datang dari berbagai akun advokasi di platform X. Mereka menilai kemasan interaksi antara pria dewasa dengan anak sekolah yang menyerupai kencan merupakan pelanggaran etika dan berisiko tinggi.
“Mau settingan, gimmick, atau pura-pura, ini tetap tidak boleh. Konten yang berisi interaksi pria dewasa dengan anak sekolah yang terasa seperti kencan itu berbahaya. Ini menghilangkan batas dan memberi celah grooming,” tulis salah satu akun advokasi di X.
Sorotan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa banyak platform digital kini memperketat aturan terkait konten romantis atau bernuansa relasi personal antara orang dewasa dan anak di bawah umur, bahkan dalam konteks fiksi sekalipun.
Klarifikasi Keluarga Siswi
Di tengah gelombang kritik, pihak keluarga siswi berinisial J menyampaikan klarifikasi melalui akun X. Kakak dari J menyebut telah terjadi kesalahpahaman sejak awal terkait konsep konten yang dibuat.
“Sebenarnya awal kesepakatan itu bukan ‘jadi pacar 1 jam’, tapi ‘diculik 1 jam’. Jihan kira ceritanya dia bakal dibawa sama temennya, tapi ternyata dia sendiri,” tulis akun @pwetrichor.
Pernyataan ini justru menambah kekhawatiran publik, terutama terkait aspek keamanan serta persetujuan yang benar (informed consent), khususnya ketika subjek konten adalah anak di bawah umur.
Kronologi Singkat Video yang Memicu Polemik
Dalam video yang beredar luas, kreator TikTok tersebut terlihat menghampiri dua siswi di sebuah minimarket. Ia menawarkan imbalan uang dengan nominal lebih besar dari uang jajan harian jika salah satu dari mereka bersedia ikut bersamanya.
Siswi berinisial J kemudian disebut menyetujui untuk menjadi “pacar” selama satu jam—klaim yang belakangan dipersoalkan oleh pihak keluarga. Meski sebagian warganet menduga video tersebut hanyalah rekayasa demi meningkatkan trafik dan popularitas, kritik tetap menguat.
Banyak pihak menilai bahwa terlepas dari unsur rekayasa, konten semacam ini berpotensi menormalisasi interaksi tidak pantas antara orang dewasa dan anak, serta dapat membahayakan keselamatan anak di dunia nyata.
Seiring polemik yang terus berkembang, publik mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap konten digital yang melibatkan anak, termasuk penguatan mekanisme pelaporan dan penerapan sanksi yang tegas agar ruang digital tetap aman bagi kelompok rentan.














