TEKNO

“Stop Coding!” CEO Nvidia Jensen Huang Sebut AI Bikin Programmer Tak Perlu Kode Lagi

11
×

“Stop Coding!” CEO Nvidia Jensen Huang Sebut AI Bikin Programmer Tak Perlu Kode Lagi

Sebarkan artikel ini
CEO Nvidia Jensen Huang: AI Bakal Bikin Programmer Tak Perlu Nulis Kode Lagi
CEO Nvidia Jensen Huang: AI Bakal Bikin Programmer Tak Perlu Nulis Kode Lagi

Media90 – Jensen Huang, CEO Nvidia, kembali mengguncang industri teknologi global dengan pernyataan yang terdengar provokatif. Jika selama puluhan tahun nasihat klasik bagi generasi muda adalah “belajarlah coding”, Huang justru menyerukan hal sebaliknya. Ia meminta para software engineer dan programmer untuk berhenti menghabiskan waktu menulis kode secara manual.

Menurut Huang, kemajuan pesat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mengubah lanskap pengembangan perangkat lunak secara fundamental. Proses menerjemahkan logika manusia ke dalam sintaks bahasa mesin—seperti Python, C++, atau Java—yang selama ini menjadi keahlian eksklusif programmer, kini dapat dilakukan lebih cepat dan efisien oleh AI.

Bahasa Manusia Kini Jadi Bahasa Pemrograman

Pernyataan tersebut disampaikan Huang dalam podcast No Priors AI yang dirilis baru-baru ini. Ia menegaskan bahwa hambatan teknis untuk menciptakan perangkat lunak kini telah runtuh.

“Kami telah berhasil menutup kesenjangan teknologi,” ujar Huang. “Sekarang, siapa pun bisa menjadi programmer. Bahasa pemrograman yang baru adalah bahasa manusia itu sendiri.”

Baca Juga:  AstraZeneca Manfaatkan AI untuk Percepat Uji Klinis dan Temukan Obat Lebih Cepat

Di internal Nvidia, visi ini bukan sekadar wacana. Huang mengungkapkan bahwa seluruh tim insinyurnya telah menggunakan asisten coding berbasis AI bernama Cursor. Melalui alat tersebut, para insinyur cukup memberikan instruksi dalam bahasa alami, sementara AI yang bertugas menulis baris-baris kodenya.

“Tidak ada yang lebih membahagiakan saya daripada jika tidak ada satu pun programmer kami yang melakukan coding sama sekali,” tegas Huang.

Filosofi “Tujuan vs Tugas”

Untuk menjelaskan sudut pandangnya, Huang memperkenalkan kerangka berpikir “Tujuan vs Tugas” (Goal vs Task).

Tugas adalah aktivitas teknis seperti mengetik kode, memperbaiki kesalahan sintaks, atau mengompilasi program. Menurut Huang, pekerjaan semacam ini seharusnya diserahkan sepenuhnya kepada AI.

Sementara itu, Tujuan adalah visi besar dalam memecahkan persoalan nyata, seperti mendeteksi kanker lebih dini, meningkatkan efisiensi energi, atau mengoptimalkan rantai pasok global.

Huang mendorong manusia untuk fokus pada Tujuan. Dengan membebaskan pikiran manusia dari beban teknis, para ahli diyakini dapat mencurahkan energi mereka pada inovasi dan pemecahan masalah yang benar-benar berdampak.

Baca Juga:  Moltbook, Media Sosial Khusus AI yang Bikin Manusia Jadi Penonton

Saran untuk Generasi Muda: Jadilah Ahli Domain

Pandangan ini membawa implikasi besar bagi dunia pendidikan dan karier masa depan. Huang menyarankan agar generasi muda tidak lagi terjebak pada identitas sebagai “tukang kode”, melainkan memperdalam keahlian di bidang tertentu atau domain expertise.

Bidang seperti biologi, pendidikan, manufaktur, pertanian, hingga fisika diprediksi akan menjadi lahan emas. Masa depan teknologi, menurut Huang, akan dikuasai oleh mereka yang memahami persoalan di bidangnya dan mampu “memerintah” AI untuk membangun solusi digital—tanpa harus pusing memikirkan detail sintaks pemrograman.

Belajar dari Sejarah Radiologi

Untuk meredam kekhawatiran bahwa AI akan menghilangkan pekerjaan manusia, Huang mengambil analogi dari dunia medis. Ia mengingatkan pada prediksi Geoffrey Hinton, yang kerap disebut sebagai Bapak AI Modern, bahwa profesi ahli radiologi akan punah karena komputer mampu membaca hasil pemindaian medis dengan lebih cepat.

Faktanya, jumlah ahli radiologi justru meningkat. Membaca hasil scan hanyalah tugas teknis, sementara tujuan utamanya adalah menyembuhkan pasien. Ketika AI mengambil alih tugas tersebut, dokter memiliki lebih banyak waktu untuk menangani kasus kompleks dan merawat pasien. Huang meyakini pola serupa akan terjadi pada dunia pemrograman.

Baca Juga:  WhatsApp Uji Fitur ‘Message Request’, Solusi Baru untuk Saring Pesan dari Nomor Tak Dikenal

Sisi Gelap: Bahaya “Vibe Coding”

Meski optimisme Huang begitu tinggi, sejumlah pelaku industri tetap menyuarakan kehati-hatian. Michael Truell, CEO Cursor—alat AI yang digunakan Nvidia—justru memperingatkan fenomena berbahaya yang disebut “vibe coding”.

Istilah ini merujuk pada kebiasaan membiarkan AI menulis seluruh kode dan langsung menjalankannya tanpa pemeriksaan mendalam, hanya karena hasilnya terasa benar. “Jika Anda menutup mata dan membiarkan AI membangun sesuatu dengan fondasi yang lemah, sistem itu akan runtuh ketika skalanya membesar,” kata Truell.

Senada dengan itu, Andrej Karpathy, mantan Direktur AI Tesla, menegaskan bahwa meskipun AI semakin canggih, agen otonom saat ini belum cukup matang untuk bekerja sepenuhnya tanpa pengawasan manusia. Peran manusia sebagai editor, arsitek, dan penentu arah tetap krusial demi memastikan keamanan, efisiensi, dan keberlanjutan sistem yang dibangun AI.

Pernyataan Jensen Huang mungkin terdengar ekstrem, namun ia mencerminkan pergeseran besar dalam cara manusia membangun teknologi. Bukan lagi soal siapa paling jago menulis kode, melainkan siapa paling mampu menentukan tujuan dan memanfaatkan AI sebagai alat untuk mencapainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *