Media90 – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Timur terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan melalui pengembangan Program Cocoa Agroforestry Berkelanjutan. Program ini dinilai menjadi solusi strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan Diskusi Program Cocoa Agroforestry Berkelanjutan yang digelar di Kelompok Tani Hutan (KTH) 5 Desa Sidomulyo, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur.
Diskusi ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pimpinan PT Olam Indonesia (OFI) Abdillah beserta jajaran, Tim Palladium dan Partnering for Forests (P4F), perwakilan UK Foreign, Commonwealth and Development Office (FCDO), mitra internasional, hingga para kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Lampung Timur.
Bupati Lampung Timur, Ella Siti Nuryamah, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh mitra yang telah mempercayakan Lampung Timur sebagai lokasi pengembangan program agroforestry kakao berkelanjutan.
“Ini merupakan sebuah kehormatan dan kepercayaan yang sangat berharga bagi kami, khususnya bagi masyarakat pengelola perhutanan sosial di Kecamatan Way Jepara dan sekitarnya,” ujar Ella dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, Lampung Timur memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Namun, di sisi lain juga dihadapkan pada tantangan serius berupa tekanan terhadap kawasan hutan, degradasi lahan, serta dampak perubahan iklim yang berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat sekitar hutan.
Ella menilai penerapan perhutanan sosial dan sistem agroforestry merupakan langkah tepat untuk menjawab tantangan tersebut. Melalui pendekatan ini, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan sebagai pelaku utama dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan.
“Agroforestry kakao bukan sekadar sistem budidaya. Ini adalah pendekatan terpadu yang mampu merehabilitasi hutan, menjaga keanekaragaman hayati, mengurangi risiko perubahan iklim, sekaligus memberikan pendapatan berkelanjutan bagi petani,” jelas Ella.
Program Cocoa Agroforestry Berkelanjutan ini juga sejalan dengan visi pembangunan Lampung Timur yang berkelanjutan, berdaya saing, dan berkeadilan. Melalui praktik agroforestry yang baik, kakao diharapkan dapat menjadi komoditas unggulan ramah lingkungan dengan nilai ekonomi tinggi, sekaligus membuka akses pasar global bagi petani lokal.
Bupati juga menekankan pentingnya kolaborasi multipihak dalam menyukseskan program tersebut, mulai dari pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga donor, mitra internasional, hingga kelompok tani hutan.
Melalui diskusi ini, Ella berharap dapat terbangun kesamaan pemahaman mengenai arah dan tujuan program, tersusunnya langkah-langkah konkret yang dapat segera diterapkan di lapangan, serta terjalinnya kemitraan jangka panjang yang adil dan saling menguntungkan.
Diketahui, PT Olam Indonesia bersama Partnering for Forests (P4F), program internasional yang didanai Pemerintah Inggris melalui UKAid, memiliki sejumlah inisiatif yang berfokus pada perlindungan hutan tropis dan penggunaan lahan berkelanjutan. Program tersebut diarahkan pada peningkatan kapasitas petani serta penguatan kelembagaan Kelompok Tani Hutan (KTH) di sekitar kawasan hutan.
Pada tahap hilirisasi kakao, yakni upaya pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri, PT Olam Indonesia memberikan respons positif terhadap kualitas tanaman kakao yang dikembangkan oleh petani di Lampung Timur.
Ella pun mendorong KTH Sidomulyo serta kelompok perhutanan sosial lainnya untuk menjadi contoh praktik baik pengelolaan agroforestry kakao di Lampung Timur, bahkan di tingkat Provinsi Lampung.














