NASIONAL

Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026: Fenomena “Cincin Api” yang Sayangnya Tak Terlihat dari Indonesia

6
×

Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026: Fenomena “Cincin Api” yang Sayangnya Tak Terlihat dari Indonesia

Sebarkan artikel ini
Fenomena Gerhana Matahari Cincin 2026 Segera Hadir, Cek Daerah yang Terlintasi
Fenomena Gerhana Matahari Cincin 2026 Segera Hadir, Cek Daerah yang Terlintasi

Media90 – Para pemburu fenomena astronomi patut bersiap. Langit pada Februari 2026 akan menghadirkan sebuah pertunjukan kosmik yang dramatis, yakni Gerhana Matahari Cincin (GMC). Fenomena ini dijadwalkan terjadi pada 17 Februari 2026 dan menjadi gerhana Matahari pertama yang membuka rangkaian peristiwa astronomi tahun tersebut.

Gerhana Matahari Cincin kerap dijuluki sebagai “Cincin Api” atau Ring of Fire. Julukan ini muncul karena pada saat gerhana berlangsung, Bulan berada di titik terjauhnya dari Bumi (apogee). Ukuran tampak Bulan menjadi lebih kecil sehingga tidak mampu menutupi seluruh piringan Matahari. Akibatnya, bagian tepi Matahari tetap terlihat sebagai lingkaran cahaya terang yang menyerupai cincin emas di langit.

Wilayah yang Dapat Menyaksikan Gerhana

Pertanyaan utama bagi masyarakat Indonesia tentu saja: apakah fenomena ini bisa diamati dari Tanah Air?

Baca Juga:  Ini Dia! Satgas Covid-19 Umumkan Pencabutan Aturan Wajib Pakai Masker saat Perjalanan, Simak Protokol Perjalanan Terbaru

Berdasarkan perhitungan lintasan astronomi, jawaban singkatnya adalah tidak. Jalur utama atau fase cincin api sempurna (annularity) pada gerhana ini berada jauh di belahan bumi selatan. Jalur tersebut hanya melintasi kawasan Antartika yang terpencil serta wilayah selatan Samudra Selatan.

Meski demikian, sejumlah wilayah di belahan bumi selatan masih dapat menikmati fenomena ini dalam bentuk Gerhana Matahari Sebagian. Wilayah yang berpotensi menyaksikannya antara lain:

  • Afrika bagian selatan, termasuk Afrika Selatan, Namibia, Botswana, dan Zimbabwe.
  • Amerika Selatan bagian selatan, terutama Chile dan Argentina.
  • Wilayah samudra luas, meliputi sebagian Samudra Pasifik, Atlantik, dan Hindia.

Sementara itu, Indonesia yang berada di sekitar garis khatulistiwa dan terlalu jauh di utara dari jalur antumbra Bulan dipastikan tidak akan mengalami gerhana. Langit di Jakarta maupun kota-kota lain di Indonesia akan tampak seperti hari biasa tanpa perubahan signifikan.

Baca Juga:  Fenomena Langka: Bulan Berdampingan dengan Planet Saturnus, Malam Ini Tonton Tanpa Alat Bantu!

Jadwal Fase Gerhana (Waktu Indonesia Barat)

Meski tidak bisa disaksikan secara langsung, gerhana ini tetap berlangsung pada waktu yang beririsan dengan sore hingga malam hari di Indonesia. Bagi penggemar astronomi yang ingin mengikuti siaran langsung dari luar negeri, berikut jadwal fase gerhana yang telah dikonversi ke Waktu Indonesia Barat (WIB):

  1. Gerhana Matahari Sebagian dimulai: 16.56 WIB
  2. Fase cincin dimulai: 18.42 WIB
  3. Puncak gerhana (maksimum): 19.12 WIB
  4. Fase cincin berakhir: 19.41 WIB
  5. Gerhana Matahari berakhir sepenuhnya: 21.27 WIB

Total durasi fenomena ini diperkirakan mencapai sekitar 271 menit. Sementara itu, fase cincin api sempurna di titik maksimum hanya akan berlangsung sekitar 2 menit 20 detik.

Baca Juga:  Langit Desember 2025: Meteor Gemilang & Solstis Menyapa, Penutup Tahun yang Spektakuler

Peringatan Keselamatan Penting

Bagi siapa pun yang berada di wilayah lintasan gerhana—termasuk warga Indonesia yang kebetulan sedang bepergian ke Afrika Selatan atau Amerika Selatan—peringatan keselamatan tidak boleh diabaikan.

Gerhana Matahari Cincin tidak pernah aman untuk dilihat dengan mata telanjang. Berbeda dengan Gerhana Matahari Total, di mana fase totalitas memungkinkan pengamatan langsung dalam waktu singkat, pada gerhana cincin permukaan Matahari tidak pernah tertutup sepenuhnya. Cincin cahaya yang tersisa tetap memancarkan radiasi kuat yang berpotensi merusak retina mata secara permanen.

Oleh karena itu, pengamatan hanya boleh dilakukan menggunakan kacamata gerhana berfilter khusus atau metode tidak langsung seperti proyeksi bayangan. Keselamatan mata harus selalu menjadi prioritas utama saat menikmati keindahan fenomena langit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *