INTERNASIONAL

Punya Rp14.000 Triliun, Elon Musk Akui Uang Tak Bisa Beli Bahagia

14
×

Punya Rp14.000 Triliun, Elon Musk Akui Uang Tak Bisa Beli Bahagia

Sebarkan artikel ini
Elon Musk Punya Rp14.000 Triliun, Tapi Mengaku Hidupnya Tak Bahagia
Elon Musk Punya Rp14.000 Triliun, Tapi Mengaku Hidupnya Tak Bahagia

Media90 – Dalam imajinasi kolektif masyarakat global, menjadi miliarder sering dianggap sebagai puncak tertinggi pencapaian hidup. Kekayaan identik dengan kebebasan, kekuasaan, dan kebahagiaan tanpa batas. Dengan kekayaan bersih yang ditaksir mencapai Rp14.000 triliun—atau sekitar US$300 miliar—Elon Musk, sang CEO Tesla dan SpaceX, secara teori memiliki akses ke seluruh kenikmatan duniawi. Ia bisa membeli pulau pribadi, perusahaan media sosial, hingga tiket perjalanan ke luar angkasa kapan pun ia mau.

Namun realitas hidup orang terkaya di dunia itu justru jauh dari gambaran ideal. Di balik citra jenius teknologi yang visioner dan penuh ambisi, Elon Musk disebut bergulat dengan ketidakbahagiaan mendalam, kesepian akut, serta ketergantungan zat tertentu untuk menjaga stabilitas emosinya. Fakta ini menjadi pengingat pahit bahwa saldo rekening—sebesar apa pun angkanya—tidak pernah otomatis berbanding lurus dengan ketenangan jiwa.

Pengakuan Jujur: “Uang Tak Bisa Beli Bahagia”

Poin paling menohok dari kisah ini datang langsung dari pengakuan Elon Musk sendiri. Pepatah “uang tak bisa membeli kebahagiaan” sering kali terdengar klise, bahkan dianggap sekadar penghibur bagi mereka yang hidup pas-pasan. Namun maknanya berubah drastis ketika kalimat itu diucapkan oleh orang terkaya di planet ini.

Baca Juga:  Tragis, Bocah 6 Tahun Asal Indonesia Tewas dalam Kecelakaan di Chinatown Singapura

Dalam sebuah momen kerentanan yang jarang terlihat, Musk menuliskan perasaannya melalui platform media sosial miliknya, X (dulu Twitter).

“Whoever said money can’t buy happiness really knows what they are talking about.” 😢

Terjemahan: “Siapa pun yang mengatakan uang tak bisa membeli kebahagiaan benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan.”

Emoji wajah menangis yang menyertai cuitan tersebut membuat pesan itu terasa semakin personal. Bagi banyak orang, unggahan ini bukan sekadar status media sosial, melainkan semacam jeritan batin—pengakuan jujur dari seseorang yang menyadari bahwa seluruh pencapaian materialnya gagal mengisi kekosongan emosional di dalam dirinya. Uang, saham, bahkan aset kripto tak mampu membeli rasa damai.

Sisi Gelap Sang Jenius dan “Demon Mode”

Walter Isaacson, penulis biografi resmi Elon Musk, turut mengungkap sisi lain kehidupan sang miliarder. Selama dua tahun mengikuti keseharian Musk secara intens, Isaacson menemukan sebuah kondisi psikologis ekstrem yang ia sebut sebagai “Demon Mode” atau Mode Iblis.

Dalam mode ini, Musk berubah menjadi sosok yang sangat berbeda.

Pertama, ia menunjukkan produktivitas tanpa empati. Otaknya bekerja luar biasa cepat dan tajam, mampu memecahkan persoalan teknis kompleks di Tesla atau SpaceX dalam waktu singkat. Namun harga yang harus dibayar sangat mahal: hilangnya kepekaan emosional. Musk menjadi dingin, kasar, dan nyaris tak peduli pada perasaan orang-orang di sekitarnya.

Kedua, dampaknya bersifat destruktif. Isaacson menggambarkan bahwa saat Demon Mode aktif, Musk bisa mencaci maki karyawan setianya atau mengambil keputusan impulsif yang melukai orang-orang terdekatnya. Ironisnya, setelah mode ini berlalu, Musk kerap tidak mengingat detail perilakunya atau tidak sepenuhnya merasa bersalah atas kekacauan emosional yang ditinggalkan.

Kekayaan Rp14.000 triliun ternyata tak mampu “membeli” kendali diri maupun stabilitas emosi. Justru tekanan untuk mempertahankan ambisi besar dan ekspektasi global sering kali memicu munculnya sisi gelap tersebut.

Ketergantungan pada “Obat” Penenang

Laporan investigasi juga menyoroti dugaan penggunaan zat tertentu sebagai mekanisme bertahan hidup secara mental. Mengutip Wall Street Journal, Elon Musk dilaporkan menggunakan ketamine, sebuah obat anestesi yang juga dikenal memiliki efek antidepresan.

Penggunaan zat ini disebut memiliki dua tujuan yang sama-sama mengkhawatirkan. Pertama, microdosing untuk mengatasi depresi. Musk dikabarkan mengonsumsi dosis kecil ketamine untuk membantu melawan depresi klinis. Fakta ini menunjukkan bahwa akses ke dokter terbaik dan terapi paling canggih di dunia pun tak selalu mampu mengusir “iblis” di dalam kepala tanpa bantuan kimia.

Kedua, terdapat laporan mengenai penggunaan dosis penuh dalam konteks rekreasi pada acara tertentu. Ini mengindikasikan adanya kebutuhan untuk “melarikan diri” dari realitas—sebuah pola yang kerap muncul pada individu dengan tekanan mental ekstrem dan rasa hampa yang mendalam.

Isolasi di Puncak Dunia

Aspek paling tragis dari kisah ini mungkin adalah kesepian. Biografi dan berbagai laporan media menggambarkan Musk sebagai sosok yang kerap tidur sendirian di rumah-rumah mewahnya yang kosong, atau memilih menginap di lantai pabrik demi pekerjaan—bukan karena romantisme kerja keras, melainkan karena tak ada tempat lain untuk pulang.

Hubungan asmaranya dengan penyanyi Grimes yang penuh pasang surut, serta keretakan hubungan dengan beberapa anaknya—termasuk putrinya yang memutuskan kontak sepenuhnya—menjadi beban emosional tersendiri. Uang triliunan rupiah mungkin mampu membiayai pesta termegah di dunia, namun tak bisa memaksa hadirnya cinta yang tulus atau keluarga yang harmonis.

Sebuah Peringatan Mahal

Kisah hidup Elon Musk bukan sekadar berita tentang selebritas atau miliarder eksentrik. Ini adalah studi kasus psikologis tentang batas kemampuan materi dalam memenuhi kebutuhan terdalam manusia.

Banyak orang berpikir, “Jika saya punya Rp1 miliar saja, semua masalah akan selesai.” Namun Elon Musk, dengan Rp14.000.000.000.000.000 di tangannya, justru membuktikan sebaliknya. Ia memiliki segalanya secara materi, namun di saat yang sama merasa kehilangan sesuatu yang paling mendasar: ketenangan batin.

Pada akhirnya, kisah ini menjadi pengingat keras bahwa kebahagiaan bukan sekadar hasil akumulasi kekayaan, melainkan sesuatu yang jauh lebih rapuh, kompleks, dan tak bisa dibeli dengan harga berapa pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *