Media90.id – Memasuki usia ke-81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dan 344 tahun Kota Bandar Lampung, pembangunan ibu kota Provinsi Lampung dinilai perlu terus bergerak maju dengan memperkuat infrastruktur serta konektivitas antarwilayah.
Pengamat transportasi publik sekaligus akademisi Institut Teknologi Sumatera (ITERA), M. Abi Berkah Nadi, mengatakan Bandar Lampung memiliki posisi strategis sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan aktivitas masyarakat di Provinsi Lampung.
Menurutnya, momentum kemerdekaan harus menjadi dorongan bagi pemerintah untuk memperkuat pembangunan infrastruktur secara merata. Pembangunan tidak hanya difokuskan di pusat kota, tetapi juga perlu menjangkau wilayah pinggiran, kawasan tertinggal, hingga daerah yang memiliki potensi pariwisata.
“Menurut pandangan saya, Bandar Lampung sebagai ibu kota Provinsi Lampung harus menatap momentum kemerdekaan dengan memperkuat infrastruktur. Pemerataan jalan yang memadai ke berbagai wilayah, termasuk daerah tertinggal dan kawasan pariwisata, perlu menjadi perhatian,” ujar Abi, Jumat (14/8/2026).
Selain pembangunan jalan, ia menilai persoalan banjir juga harus menjadi salah satu prioritas utama pemerintah. Penanganan banjir perlu dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi agar persoalan tersebut tidak terus berulang dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Abi menyebut penguatan infrastruktur dan konektivitas regional menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi Bandar Lampung menuju kota metropolitan yang modern, inklusif, dan memiliki daya saing.
Transformasi tersebut, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik. Infrastruktur juga harus mampu mendukung perkembangan industri, penataan ruang kota, serta penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat.
Transportasi Publik Harus Diperkuat
Abi menilai pembangunan kota metropolitan harus dibarengi dengan sistem transportasi publik yang memadai. Keberadaan transportasi umum menjadi faktor penting untuk memastikan masyarakat dapat bergerak dengan mudah dari pusat kota menuju berbagai wilayah lainnya.
Ia berharap tidak terjadi kesenjangan akses transportasi antara masyarakat yang tinggal di pusat kota dengan warga yang berada di kawasan pesisir maupun wilayah pinggiran.
“Semangat kemerdekaan harus diwujudkan melalui pemerataan. Jangan sampai ada perbedaan akses hanya karena masyarakat tinggal di pusat kota, pesisir, atau wilayah lainnya. Semua warga harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan akses transportasi dan infrastruktur yang layak,” katanya.
Menurut Abi, peningkatan kualitas transportasi umum perlu diarahkan agar mampu menghubungkan pusat kota dengan kawasan lainnya secara teratur, aman, terjangkau, dan efisien.
Sistem transportasi yang baik juga akan berdampak terhadap mobilitas masyarakat. Selain memudahkan pergerakan warga, transportasi publik yang memadai dapat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah.
Bandar Lampung Menuju Kota Metropolitan
Abi mengatakan momentum HUT Kota Bandar Lampung ke-344 dan peringatan Kemerdekaan RI ke-81 dapat menjadi kesempatan untuk menyatukan arah pembangunan transportasi dan infrastruktur.
Menurutnya, pemerintah provinsi dan pemerintah kota perlu memperkuat sinergi dalam membangun sistem transportasi publik yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat saat ini sekaligus mengantisipasi perkembangan Bandar Lampung sebagai kota metropolitan.
“Menatap kemerdekaan sekaligus menuju kota metropolitan di Provinsi Lampung, HUT Kota Bandar Lampung juga harus menjadi momentum untuk bersinergi dalam pengembangan transportasi umum yang maju,” ujarnya.
Ia menilai transportasi publik yang aman, murah, dan efisien akan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Manfaat tersebut tidak hanya dirasakan warga Bandar Lampung, tetapi juga masyarakat dari berbagai daerah di Provinsi Lampung yang setiap hari melakukan aktivitas di ibu kota provinsi.
Selain transportasi, Abi kembali menekankan pentingnya mitigasi dan penanganan banjir. Infrastruktur perkotaan harus dirancang dengan mempertimbangkan risiko bencana sehingga mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat.
“Pembangunan harus memberikan rasa aman kepada masyarakat, termasuk dari dampak banjir. Jangan sampai kejadian yang pernah terjadi kembali terulang karena persoalan infrastruktur dan konektivitas tidak ditangani secara menyeluruh,” tegasnya.
Abi berharap pembangunan Bandar Lampung ke depan tidak hanya mengejar predikat sebagai kota metropolitan, tetapi juga memastikan seluruh masyarakat mendapatkan manfaat dari kemajuan tersebut.
Dengan pemerataan infrastruktur, penguatan transportasi publik, konektivitas antarwilayah, serta penanganan banjir yang terintegrasi, Bandar Lampung dinilai memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi kota metropolitan yang modern, inklusif, aman, dan berdaya saing.















Menurut saya, dorongan dari akademisi ITERA ini cukup penting karena perkembangan Bandar Lampung menuju kota metropolitan harus dibarengi dengan infrastruktur dan transportasi yang benar-benar siap. Jangan sampai pembangunan hanya terpusat di kawasan tertentu, sementara wilayah lain masih kesulitan akses jalan, angkutan umum, atau fasilitas dasar. Pemerataan juga penting supaya pertumbuhan kota bisa dirasakan lebih banyak masyarakat, bukan hanya mereka yang tinggal di pusat kota. Kalau transportasi publik semakin nyaman, konektivitas antarkawasan diperbaiki, dan pembangunan dilakukan dengan perencanaan jangka panjang, Bandar Lampung punya peluang besar menjadi kota metropolitan yang bukan cuma ramai, tetapi juga tertata, inklusif, dan nyaman untuk ditinggali. Semoga masukan dari akademisi seperti ini benar-benar menjadi pertimbangan dalam kebijakan pembangunan ke depan.
Menurut saya, gagasan pemerataan infrastruktur dan transportasi ini memang penting banget kalau Bandar Lampung ingin benar-benar berkembang menjadi kota metropolitan. Jangan sampai pertumbuhan kota hanya terlihat dari gedung dan pusat bisnis, sementara akses transportasi publik, jalan, dan konektivitas antarwilayah masih belum merata. Justru kota metropolitan yang ideal itu harus membuat masyarakat lebih mudah bergerak, baik untuk bekerja, sekolah, maupun menjalankan aktivitas sehari-hari. Masukan dari akademisi seperti ini patut diperhatikan karena pembangunan seharusnya punya perencanaan jangka panjang, bukan sekadar mengejar pembangunan fisik. Kalau transportasi publik nyaman, konektivitas makin baik, dan pembangunan merata sampai ke berbagai kawasan, Bandar Lampung bukan cuma bisa tumbuh besar, tapi juga bisa menjadi kota yang nyaman dan layak dihuni.
dorongan untuk pemerataan infrastruktur dan transportasi di Bandar Lampung memang penting kalau kota ini ingin berkembang sebagai kota metropolitan. Pertumbuhan kota seharusnya tidak hanya terlihat dari pembangunan pusat bisnis atau kawasan tertentu, tetapi juga dari kemudahan masyarakat di berbagai wilayah untuk mendapatkan akses jalan, transportasi umum, fasilitas pendidikan, kesehatan, dan layanan lainnya. Apalagi persoalan kemacetan dan konektivitas antarwilayah perlu dipikirkan sejak sekarang agar perkembangan kota tidak justru membuat mobilitas warga semakin berat. Semoga masukan dari akademisi seperti ITERA bisa menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan yang lebih terintegrasi, sehingga Bandar Lampung bisa tumbuh modern tanpa meninggalkan kebutuhan masyarakat di kawasan pinggiran.