Media90.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mendorong generasi muda untuk meningkatkan literasi keuangan sebagai bekal dalam mengambil keputusan ekonomi, mengembangkan usaha, hingga memanfaatkan peluang investasi secara aman dan produktif.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, keuangan bukan hanya menjadi urusan sektor perbankan maupun regulator, tetapi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hampir seluruh aktivitas kehidupan masyarakat.
“Keuangan ini adalah salah satu sektor yang sangat penting dalam sendi-sendi kehidupan kita semua,” kata Rahmat Mirzani Djausal saat menghadiri Lampung Financial Festival 2026 yang diselenggarakan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Ballroom Hotel Novotel Lampung, Sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari mengatur pengeluaran rumah tangga, pembiayaan sektor pertanian, pengembangan UMKM, investasi, hingga pengelolaan keuangan pemerintah, semuanya berkaitan erat dengan sektor keuangan.
Pemahaman tersebut dinilai semakin penting bagi generasi Z dan Post Gen Z yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital.
Gen Z di Lampung mencapai sekitar 24,7 persen atau hampir 2,3 juta jiwa, sementara Post Gen Z mencapai 20,67 persen.
“Besarnya proporsi generasi muda ini merupakan bagian dari bonus demografi sekaligus potensi besar untuk memperkuat perekonomian Lampung. Generasi muda inilah yang akan diciptakan untuk menjadi kekuatan ekonomi Lampung ke depan,” ujar Rahmat Mirzani Djausal.
Namun, menurutnya, potensi tersebut harus dibarengi dengan produktivitas, keterampilan, kemampuan menciptakan usaha, serta kecakapan dalam mengambil keputusan keuangan.
Karena itu, Gubernur Lampung menekankan bahwa kemampuan mengambil keputusan keuangan secara tepat merupakan keterampilan yang wajib dimiliki generasi muda.
Berdasarkan data, indeks inklusi keuangan di Lampung telah mencapai 90,94 persen, sedangkan tingkat literasi keuangan berada di kisaran 72 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap layanan keuangan semakin luas. Namun, peningkatan akses harus diimbangi dengan pemahaman yang memadai agar layanan keuangan dapat dimanfaatkan secara tepat, aman, dan produktif.
“Jadi akses masyarakat mendapatkan layanan keuangan itu jauh lebih mudah dibandingkan pengetahuan mereka dalam menggunakan literasi keuangan. Maka kesenjangan inilah yang penting,” jelas Rahmat.
Di sisi lain, Gubernur menyampaikan bahwa perekonomian Lampung saat ini tumbuh sebesar 5,29 persen dan menjadi salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera.
Melalui Lampung Financial Festival 2026, Pemprov Lampung berharap peningkatan literasi keuangan dapat berjalan beriringan dengan perkembangan ekonomi digital.
Dengan begitu, masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap berbagai layanan keuangan, tetapi juga mampu menggunakannya secara aman, bijak, dan produktif.
Rahmat berharap seluruh rangkaian kegiatan tersebut dapat memperluas wawasan, memperkuat kolaborasi, serta membentuk generasi muda Lampung yang melek literasi keuangan.
Generasi muda juga diharapkan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk menciptakan peluang ekonomi, bukan sekadar menjadi konsumen.
Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Farid Azhar Nasution menjelaskan, Lampung Financial Festival merupakan bagian dari upaya membumikan literasi dan inklusi keuangan agar semakin dekat dengan masyarakat.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan serupa yang sebelumnya telah dilaksanakan di Yogyakarta melalui Yogyakarta Financial Festival pada Mei 2026.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026, indeks inklusi keuangan Lampung berada pada 90,9 persen, sementara literasi keuangan mencapai 72,3 persen.
Farid menilai, tingginya akses terhadap layanan keuangan harus berjalan beriringan dengan peningkatan pemahaman dan kepercayaan masyarakat.
Ia juga mengingatkan generasi muda agar mewaspadai berbagai jebakan keuangan di era digital.
Jebakan tersebut antara lain pinjaman online ilegal, judi online, investasi ilegal, hingga perilaku belanja impulsif yang dipengaruhi tren dan algoritma digital.
Karena itu, peningkatan literasi keuangan dinilai menjadi salah satu langkah penting agar generasi muda mampu membedakan peluang ekonomi yang produktif dengan berbagai risiko keuangan yang dapat merugikan.














