Media90 – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa pekan terakhir dinilai belum berada pada level yang mengkhawatirkan. Hal tersebut disampaikan Ketua Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK) DPD ARUN Lampung, Ardho Adam Saputra.
Menurut Ardho, fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan ekonomi global. Ia menilai, gejolak nilai tukar bukan hanya dialami Indonesia, tetapi juga hampir seluruh negara di kawasan Asia akibat ketidakpastian ekonomi dunia dan meningkatnya tensi geopolitik internasional.
“Tak perlu khawatir berlebihan terhadap pelemahan rupiah, karena kondisi ini masih normal dalam menghadapi guncangan ekonomi dunia. Hampir seluruh negara Asia juga terkena imbasnya, dan ada yang dampaknya lebih besar dibanding Indonesia,” ujar Ardho dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).
Ardho menilai optimisme pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi nasional cukup beralasan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 mencapai 5,61 persen. Angka tersebut dinilai menjadi indikator bahwa program ekonomi kerakyatan mulai memberikan dampak nyata terhadap daya tahan ekonomi nasional.
Ia menjelaskan, sistem ekonomi Indonesia saat ini semakin kuat karena ditopang oleh pasar domestik, penggunaan bahan baku lokal, serta peran besar sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Presiden Prabowo Subianto sangat yakin dengan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen di kuartal pertama, yang menunjukkan program pemerintah berjalan baik. Sistem ekonomi kita kuat karena berbasis pasar domestik, penggunaan bahan baku lokal, serta ditopang UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional,” jelasnya.
Keberadaan UMKM sendiri dinilai memiliki kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja dan pemerataan ekonomi masyarakat. Selain itu, program seperti Koperasi Merah Putih hingga makan bergizi gratis (MBG) diyakini mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) dari desa hingga perkotaan.
Di sisi lain, Ardho juga menyoroti capaian neraca perdagangan Indonesia pada kuartal pertama 2026 yang mencatat surplus kumulatif sebesar 5,55 miliar dolar AS. Capaian tersebut dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Ia juga menilai langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah masih berada dalam koridor yang tepat. Berbagai instrumen kebijakan moneter terus dioptimalkan, mulai dari operasi pasar terbuka, kebijakan cadangan wajib minimum, penyesuaian suku bunga, hingga pengaturan kredit perbankan.
“Bank Indonesia memiliki instrumen yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan moneter yang dilakukan saat ini masih sesuai kewenangannya dalam menjaga keseimbangan ekonomi nasional,” katanya.
Namun demikian, Ardho mengakui bahwa salah satu faktor yang memengaruhi neraca perdagangan adalah kenaikan harga minyak dunia akibat situasi geopolitik yang tidak stabil, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah yang belum dapat diprediksi kapan berakhir.
Menurutnya, lonjakan harga minyak mentah dunia memang berpotensi menggerus devisa negara karena meningkatnya biaya impor energi. Meski begitu, pemerintah dinilai telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar.
Ardho pun mengajak masyarakat untuk tidak terpancing kepanikan akibat fluktuasi ekonomi global. Ia meyakini arah kebijakan ekonomi kerakyatan yang dijalankan pemerintah saat ini akan semakin memperkuat posisi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.














