BISNIS

Gejolak Selat Hormuz Jadi Momentum Penguatan Industri Baja Nasional

Novta Tria
25
×

Gejolak Selat Hormuz Jadi Momentum Penguatan Industri Baja Nasional

Sebarkan artikel ini
Momentum Penguatan Industri Baja Nasional di Tengah Ketegangan Selat Hormuz

Media90 – Gejolak geopolitik di kawasan Teluk, khususnya gangguan di Selat Hormuz, dinilai menjadi momentum penting bagi penguatan ketahanan dan daya saing industri baja nasional. Disrupsi jalur logistik global tidak hanya meningkatkan biaya energi dan distribusi, tetapi juga memicu perubahan arus perdagangan baja dunia.

Perkuat Ketahanan dan Respons Kebijakan

Merespons kondisi tersebut, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk/Krakatau Steel Group (KRAS) terus memperkuat strategi melalui diversifikasi sumber pasokan, peningkatan efisiensi, serta penguatan rantai pasok yang lebih adaptif.

Ads
close ads

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Dr. Akbar Djohan, yang juga menjabat sebagai Chairman Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA), menegaskan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat fundamental industri nasional.

“Situasi ini menjadi momentum untuk meningkatkan ketahanan industri baja nasional melalui efisiensi, keandalan pasokan, dan daya saing yang berkelanjutan agar arah Asta Cita Bapak Presiden Prabowo tetap terjaga,” ujar Akbar Djohan.

Ia menambahkan bahwa Krakatau Steel juga mendorong adanya dukungan kebijakan yang lebih responsif, termasuk penguatan pengawasan perdagangan untuk menjaga keseimbangan antara kelancaran pasokan bahan baku dan perlindungan pasar domestik dari tekanan produk impor.

Tekanan Ganda Industri Baja Nasional

Pengamat industri baja dan pertambangan dari Steel & Mining Insights, Widodo Setiadharmaji, menyebut gangguan di kawasan Selat Hormuz telah berkembang dari sekadar hambatan logistik menjadi disrupsi sistemik yang memengaruhi rantai pasok global.

Menurutnya, industri baja nasional kini menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, pasokan bahan baku semi-finished seperti slab dan billet berisiko terganggu akibat hambatan distribusi dari kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, pergeseran arus perdagangan global berpotensi meningkatkan masuknya produk baja impor dengan harga yang lebih kompetitif ke pasar domestik. Kondisi ini dapat menekan harga jual sekaligus pangsa pasar produsen dalam negeri.

Situasi tersebut mendorong pelaku industri untuk semakin adaptif dalam menghadapi dinamika global, sekaligus memperkuat strategi jangka panjang agar industri baja nasional tetap kompetitif dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan