Media90 – Di tengah ketegangan di Timur Tengah, militer Amerika Serikat (AS) ternyata tetap menggunakan kecerdasan buatan (AI) Claude dari Anthropic dalam operasi gabungan dengan Israel ke wilayah Iran. Ini terungkap hanya beberapa hari setelah Presiden Donald Trump resmi melarang pemakaian teknologi Anthropic di seluruh lini pemerintahan dan militer.
Bukan Senjata Otonom, Tapi Analis Intelijen
Meski muncul kekhawatiran bahwa AI bisa digunakan sebagai senjata otonom, Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan bahwa Claude tidak terhubung dengan sistem persenjataan. AI ini tidak mengendalikan drone, rudal, atau menentukan target manusia.
Sebaliknya, Claude berperan sebagai otak analitik di balik layar:
- Memproses jutaan data medan perang
- Membaca citra satelit dan memetakan jalur logistik
- Menerjemahkan sadapan komunikasi radio berbahasa Persia (Farsi) secara instan
- Memangkas waktu personel militer dalam pengambilan keputusan taktis
Kemampuan context window besar Claude membuat proses analisis intelijen menjadi lebih cepat dan presisi.
Celah Aturan Transisi Enam Bulan Trump
Larangan Trump terhadap AI Anthropic memuat masa transisi enam bulan. Aturan ini memberi waktu bagi militer untuk memensiunkan sistem secara bertahap, sehingga operasional tidak terganggu di tengah konflik.
Menurut laporan Wall Street Journal, Pentagon memanfaatkan celah ini karena kesulitan menemukan pengganti AI yang setara, terutama yang memiliki tingkat kesalahan data serendah Claude.
Anthropic Tegas Tolak Militerisasi AI
Perselisihan antara pemerintah AS dan Anthropic bermula dari sikap CEO Dario Amodei, yang menolak memberikan akses tingkat lanjut sistem AI untuk pengembangan senjata otonom atau pengawasan masif.
Anthropic menekankan prinsip AI etis dan aman, sehingga produknya tidak digunakan untuk operasi ofensif militer. Penolakan inilah yang memicu sanksi dan larangan resmi dari pemerintahan Trump.
Rival OpenAI Pilih Berlawanan
Sementara itu, rival Anthropic, OpenAI, mengambil arah berbeda. CEO Sam Altman dilaporkan menyetujui penggunaan teknologi di balik ChatGPT untuk jaringan militer rahasia AS.
Langkah ini memicu protes global, dengan kampanye “Cancel ChatGPT” yang mendorong boikot layanan OpenAI.
Claude Merajai App Store dan Mendapat Dukungan Publik
Di sisi konsumen, sikap tegas Anthropic justru mendapat simpati luas. Banyak pengguna melakukan eksodus digital dari ChatGPT ke Claude, membuat aplikasi ini meroket menjadi nomor satu di Apple App Store untuk kategori gratis.
Kasus ini menunjukkan bahwa publik semakin peduli terhadap etika penggunaan AI, sementara militer AS kini berpacu dengan waktu untuk mencari alternatif AI dalam jangka enam bulan, atau menghadapi risiko kembali ke analisis manual yang lambat.
Claude membuktikan diri sebagai AI yang krusial di medan intelijen, sekaligus simbol kontroversi etika teknologi antara pemerintah, perusahaan, dan publik global.














