Media90.id – Dugaan penipuan yang berkaitan dengan pelaksanaan Japanese Language Proficiency Test (JLPT) Juli 2026 tengah menjadi perbincangan di kalangan komunitas Warga Negara Indonesia (WNI), khususnya peserta ujian bahasa Jepang.
Sejumlah peserta mengaku mengalami kerugian setelah membeli sesuatu yang diklaim sebagai kunci jawaban JLPT. Namun, materi yang diterima diduga tidak sesuai dengan yang dijanjikan sehingga tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Korban Diminta Membayar Hingga Rp3 Juta
Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, modus yang diduga digunakan adalah menawarkan kunci jawaban JLPT kepada peserta dengan iming-iming dapat membantu mereka lulus ujian.
Peserta yang berminat disebut diminta mentransfer uang dengan nominal bervariasi, mulai dari Rp1 juta hingga Rp3 juta per orang.
Setelah pembayaran dilakukan, korban mengaku menerima materi yang diduga merupakan kunci jawaban palsu sehingga tidak memberikan manfaat seperti yang dijanjikan.
Dalam sejumlah unggahan yang beredar di media sosial, nama Novi Yanti disebut sebagai pihak yang diduga menawarkan layanan tersebut. Hingga artikel ini diterbitkan, belum ada keterangan maupun klarifikasi resmi dari pihak yang bersangkutan terkait tuduhan yang beredar.
Sebanyak 104 Korban Disebut Telah Terdata
Data yang beredar di komunitas menyebutkan sementara terdapat 104 peserta yang diduga menjadi korban, dengan rincian sebagai berikut:
- Peserta JLPT level N2: 28 orang.
- Peserta JLPT level N3: 76 orang.
Besaran total kerugian seluruh korban hingga kini belum dapat dipastikan karena nilai pembayaran masing-masing peserta disebut berbeda-beda.
Sejumlah peserta yang mengaku menjadi korban juga dikabarkan mulai saling berkoordinasi melalui media sosial. Mereka mengumpulkan bukti transaksi, percakapan, dan mendata korban lain sebagai langkah awal sebelum mempertimbangkan upaya hukum.
Sertifikat JLPT Memiliki Nilai Penting
Kasus ini menjadi perhatian karena sertifikat JLPT merupakan salah satu dokumen yang sering dijadikan syarat dalam proses rekrutmen kerja di perusahaan Jepang maupun program magang ke Jepang.
Tingginya tingkat kesulitan ujian serta besarnya kebutuhan akan sertifikat tersebut diduga dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menawarkan jalan pintas yang berujung pada dugaan penipuan.
Berbagai pihak juga mengingatkan bahwa kelulusan JLPT seharusnya diperoleh melalui kemampuan berbahasa Jepang yang dimiliki peserta, bukan dengan membeli jawaban yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Belum Ada Pernyataan Resmi Aparat
Hingga saat ini, belum terdapat pernyataan resmi dari aparat penegak hukum mengenai adanya laporan dugaan penipuan tersebut.
Informasi mengenai jumlah korban maupun identitas pihak yang disebut masih dapat berkembang seiring proses pengumpulan bukti dan kemungkinan penyelidikan lebih lanjut.
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang beredar di komunitas dan media sosial.
Penyebutan nama individu dalam artikel merupakan bagian dari informasi yang beredar dan bukan merupakan pernyataan bahwa yang bersangkutan telah terbukti melakukan tindak pidana. Dugaan penipuan tersebut masih memerlukan pembuktian melalui proses hukum yang berlaku.
Redaksi menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah dan membuka ruang bagi pihak yang disebut dalam pemberitaan untuk memberikan klarifikasi maupun hak jawab apabila diperlukan.














