Media90 – Kabar penting bagi wisatawan yang berencana berkunjung ke Gunung Bromo. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) resmi menutup sementara seluruh kawasan wisata Bromo selama sepekan.
Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian alam sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan pariwisata di kawasan tersebut.
Jadwal Penutupan dan Pembukaan Kembali
Penutupan dilakukan secara total di seluruh pintu masuk kawasan wisata. Berikut rincian jadwalnya:
- Mulai ditutup: Senin, 6 April 2026 pukul 06.00 WIB
- Dibuka kembali: Minggu, 12 April 2026 pukul 10.00 WIB
Selama periode tersebut, wisatawan tidak diperkenankan memasuki kawasan Bromo dari jalur manapun.
Sempat Viral di Media Sosial
Sebelum pengumuman resmi ramai diketahui publik, penutupan ini sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sejumlah unggahan pengendara di Instagram menyertakan keterangan “YTTA” (Yang Tau Tau Aja), yang kemudian dikaitkan dengan momen “istirahatnya” kawasan Bromo dari lonjakan wisatawan.
Fokus Perbaikan dan Evaluasi
Menurut Pranata Humas TNBTS, Endrip Wahyutama, penutupan ini tidak hanya menghentikan aktivitas wisata, tetapi juga dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan penting.
Beberapa agenda yang dilakukan selama masa penutupan antara lain:
- Pembersihan sampah pasca lonjakan wisata libur Lebaran
- Sosialisasi Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT)
- Pelatihan dan peningkatan kapasitas pelaku jasa wisata seperti jip dan kuda
- Kegiatan sosial bersama masyarakat sekitar
- Persiapan penataan jalur lingkar kaldera yang akan dimulai setelah kawasan dibuka kembali
Lonjakan Wisatawan Jadi Pertimbangan
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Data internal TNBTS mencatat jumlah kunjungan wisatawan sepanjang Maret 2026 mencapai 79.223 orang.
Angka tersebut menjadi salah satu yang tertinggi dan memberikan tekanan besar terhadap ekosistem Bromo, terutama di empat pintu masuk utama, yakni wilayah Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang.
Upaya Jaga Kelestarian Alam
Penutupan sementara ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga keseimbangan antara pariwisata dan kelestarian alam.
Dengan memberi waktu bagi lingkungan untuk pulih serta meningkatkan kualitas layanan wisata, diharapkan Gunung Bromo tetap menjadi destinasi unggulan yang berkelanjutan dan nyaman dikunjungi di masa depan.














