Media90.id – Kekhawatiran soal keamanan mobil listrik saat menerjang banjir masih sering muncul di kalangan pengguna. Banyak yang mempertanyakan apakah air dapat merusak baterai atau sistem kelistrikan kendaraan listrik (EV).
Menanggapi hal tersebut, Bastian Dirgantara, pemilik Bengkel Dirgantara Auto Project atau Semesta EV yang merupakan spesialis baterai mobil listrik, menegaskan bahwa baterai EV pada dasarnya aman saat melewati genangan air atau banjir.
Baterai EV Dirancang Waterproof
Menurut Bastian, seluruh baterai mobil listrik telah dibekali sertifikasi Ingress Protection (IP) yang menandakan ketahanan terhadap air dan debu.
“Semua baterai EV pasti aman karena memiliki sertifikasi IP, sudah waterproof. Itu ada karetnya,” ujarnya di Tangerang.
Ia menjelaskan bahwa sistem pelindung baterai tidak hanya menggunakan satu lapisan, tetapi beberapa lapisan karet untuk mencegah air masuk ke dalam modul baterai.
Sebagai contoh, baterai mobil listrik seperti Hyundai dengan teknologi NMC (Nickel Manganese Cobalt) disebut memiliki sistem karet berlapis yang lebih kuat untuk perlindungan terhadap air.
Aman Menerjang, Tapi Tidak untuk Direndam Lama
Meski aman saat melewati banjir, Bastian menegaskan bahwa mobil listrik tidak dirancang untuk terendam air dalam waktu lama.
“Kalau untuk nerjang air aman, tapi kalau sampai direndam berhari-hari, air itu kemungkinan bisa masuk dari soket high voltage, bukan dari pack baterai,” jelasnya.
Artinya, risiko kerusakan justru meningkat jika kendaraan dibiarkan terendam terlalu lama, bukan saat sekadar melewati genangan.
Pentingnya Pengeringan Setelah Terkena Banjir
Bastian juga mengingatkan pentingnya segera mengeringkan mobil listrik setelah melewati banjir. Hal ini karena sistem kendaraan EV memiliki sensor kelembapan yang sangat sensitif.
“Di BMS (Battery Management System) ada sensor yang membaca kelembapan. Ketika soketnya lembab, mobil akan menganggap basah,” katanya.
Jika tidak segera ditangani, kendaraan dapat mengalami kondisi cut off, yaitu tidak bisa digunakan meskipun masih menyala.
“Mobil bisa mati dan tidak bisa jalan karena sensor membaca kelembapan, bukan hanya di soket high voltage, tapi juga di ABS dan sensor bawah lainnya,” tambahnya.
Risiko Mobil Tidak Bisa Dijalankan
Jika kelembapan tidak segera dikeringkan, sistem keselamatan mobil listrik dapat secara otomatis memutus tenaga untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Akibatnya, kendaraan tidak dapat dikendarai sampai kondisi kembali normal.
Hal ini menjadi salah satu alasan penting mengapa perawatan setelah menerjang banjir tidak boleh diabaikan.
Biaya Perbaikan Baterai Mobil Listrik
Terkait biaya perbaikan, Bastian menyebut bahwa proses penurunan dan restorasi baterai EV di bengkel dapat mencapai sekitar Rp4 juta, belum termasuk komponen pengganti.
“Jasa di kami Rp4 juta untuk turun baterai dan restorasi sampai naik lagi, di luar sparepart,” jelasnya.
Biaya tersebut bisa bertambah tergantung tingkat kerusakan dan kompleksitas perbaikan, terutama jika modul baterai atau sistem BMS terdampak air.
Untuk penggantian sel baterai, biaya diperkirakan sekitar Rp2 juta, seperti pada mobil listrik kecil seperti Wuling Air EV. Namun, harga dapat berbeda tergantung jenis kendaraan.
Kesimpulan
Secara umum, baterai mobil listrik telah dirancang tahan terhadap air dan aman digunakan saat melewati banjir. Namun, kendaraan tidak disarankan untuk terendam dalam waktu lama karena dapat memicu gangguan pada sistem kelistrikan.
Perawatan setelah melewati banjir juga sangat penting, terutama dengan segera mengeringkan bagian soket dan sensor untuk mencegah kendaraan mengalami gangguan atau tidak dapat dioperasikan.














