TEKNO

Google Ternak 32 Juta Nyamuk untuk Dilepas ke Alam, Ternyata Ini Tujuan Sebenarnya

9
×

Google Ternak 32 Juta Nyamuk untuk Dilepas ke Alam, Ternyata Ini Tujuan Sebenarnya

Sebarkan artikel ini
Google Kembangkan 32 Juta Nyamuk untuk Dilepas ke Alam Ternyata Ini Tujuannya

Media90.id – Google selama ini dikenal sebagai raksasa teknologi dan salah satu pelopor pengembangan kecerdasan buatan (AI). Namun kali ini, perusahaan tersebut menjadi sorotan karena menjalankan proyek yang tidak biasa, yakni membiakkan hingga 32 juta nyamuk untuk dilepas ke alam liar di Amerika Serikat.

Sekilas, langkah tersebut mungkin terdengar mengkhawatirkan. Namun di balik proyek ini, Google memiliki tujuan besar, yaitu membantu menekan penyebaran berbagai penyakit berbahaya yang ditularkan oleh nyamuk, seperti demam berdarah dengue (DBD), Zika, chikungunya, demam kuning, hingga malaria.

Ads
close ads

Program tersebut dijalankan melalui Project Debug, sebuah inisiatif yang telah dikembangkan Google selama hampir satu dekade untuk mencari metode pengendalian nyamuk yang lebih efektif, aman, dan ramah lingkungan.

Mengapa Google Membiakkan 32 Juta Nyamuk?

Alih-alih mengandalkan insektisida atau bahan kimia, Google memilih pendekatan biologis dengan membiakkan nyamuk jantan Aedes aegypti yang membawa bakteri alami bernama Wolbachia.

Wolbachia merupakan bakteri yang secara alami ditemukan pada berbagai jenis serangga. Ketika nyamuk jantan pembawa Wolbachia kawin dengan nyamuk betina liar, telur yang dihasilkan tidak dapat menetas.

Akibatnya, populasi nyamuk Aedes aegypti yang dikenal sebagai penyebar berbagai penyakit berbahaya dapat berkurang secara bertahap dari waktu ke waktu.

Metode ini dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan racun maupun bahan kimia untuk membasmi nyamuk.

Google Membiakkan “Nyamuk Baik”

Google bahkan menyebut nyamuk hasil budidayanya sebagai “nyamuk baik”.

Alasannya, nyamuk yang dilepas ke alam merupakan nyamuk jantan yang tidak menggigit manusia dan tidak memiliki kemampuan menularkan penyakit.

Meski berasal dari spesies yang sama dengan nyamuk penyebar DBD, tugas utama nyamuk jantan tersebut hanyalah kawin dengan nyamuk betina liar agar telur yang dihasilkan tidak berkembang menjadi generasi baru.

Dengan cara tersebut, populasi nyamuk penyebar penyakit diharapkan dapat ditekan secara signifikan dalam jangka panjang.

AI Jadi Senjata Utama dalam Proyek Ini

Selain memanfaatkan bakteri Wolbachia, Google juga menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk mengelola proyek berskala besar tersebut.

AI digunakan untuk menganalisis data populasi nyamuk, mengontrol sistem pembiakan otomatis, memantau proses budidaya, hingga menentukan lokasi pelepasan yang dianggap paling efektif.

Google juga memanfaatkan teknologi computer vision berbasis AI untuk memilah nyamuk jantan dan betina secara otomatis dalam jumlah jutaan ekor.

Teknologi tersebut memungkinkan proses seleksi dilakukan dengan tingkat akurasi tinggi sehingga hanya nyamuk jantan yang akan dilepas ke lingkungan.

Apakah Menggunakan Rekayasa Genetika?

Salah satu pertanyaan yang banyak muncul adalah apakah proyek ini melibatkan rekayasa genetika atau modifikasi DNA.

Jawabannya tidak.

Google menegaskan bahwa metode yang digunakan tidak melibatkan perubahan genetik pada nyamuk. Program ini hanya memanfaatkan bakteri Wolbachia yang memang ditemukan secara alami pada berbagai spesies serangga.

Karena tidak menggunakan bahan kimia maupun modifikasi genetik, pendekatan ini dinilai lebih aman bagi lingkungan.

Google Ajukan Izin Pelepasan 32 Juta Nyamuk

Saat ini Google berencana melepas nyamuk hasil budidayanya di dua negara bagian Amerika Serikat, yakni California dan Florida.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, perusahaan telah mengajukan izin kepada Environmental Protection Agency (EPA) atau Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat.

Izin yang diajukan mencakup pelepasan hingga 32 juta nyamuk dalam kurun waktu dua tahun, atau sekitar 16 juta nyamuk setiap tahun di kedua wilayah tersebut.

Apabila mendapatkan persetujuan, program ini akan menjadi salah satu proyek pengendalian nyamuk terbesar yang pernah dilakukan menggunakan pendekatan biologis.

Sudah Terbukti Berhasil di Singapura

Project Debug sebenarnya bukan program baru. Google telah mengembangkan teknologi ini selama hampir 10 tahun dan menjadikan Singapura sebagai pusat penelitian serta pengembangan internasional pertamanya.

Berdasarkan data yang dipublikasikan Google, pelepasan nyamuk jantan pembawa Wolbachia berhasil menurunkan populasi nyamuk Aedes aegypti hingga 80–90 persen di wilayah uji coba.

Selain itu, jumlah kasus dengue atau demam berdarah dilaporkan turun lebih dari 70 persen dalam rentang enam hingga 12 bulan setelah program dijalankan.

Keberhasilan tersebut menjadi dasar bagi Google untuk memperluas penerapan teknologi ini ke berbagai wilayah lain yang menghadapi ancaman penyakit akibat nyamuk.

Potensi Manfaat Jangka Panjang

Jika diterapkan secara luas, metode Wolbachia berpotensi memberikan manfaat besar bagi kesehatan masyarakat.

Selain membantu mengurangi populasi nyamuk penyebar penyakit, pendekatan ini juga dapat menekan penggunaan insektisida dan bahan kimia yang berpotensi berdampak terhadap lingkungan.

Melalui kombinasi teknologi AI dan pendekatan biologis berbasis Wolbachia, Google berharap dapat menghadirkan solusi jangka panjang yang lebih berkelanjutan untuk mengurangi penyebaran penyakit yang ditularkan oleh nyamuk di berbagai negara.

FAQ

Apakah nyamuk yang dilepas Google berbahaya?
Tidak. Nyamuk yang dilepas merupakan nyamuk jantan yang tidak menggigit manusia dan tidak menularkan penyakit.

Apa itu Wolbachia?
Wolbachia adalah bakteri alami yang dapat menghambat perkembangbiakan nyamuk penyebar penyakit ketika dibawa oleh nyamuk jantan.

Apakah Google menggunakan rekayasa genetika?
Tidak. Google menyatakan proyek ini tidak melibatkan modifikasi genetik dan hanya memanfaatkan bakteri Wolbachia yang ditemukan secara alami.

Mengapa Google melepas nyamuk ke alam?
Tujuannya untuk menekan populasi nyamuk Aedes aegypti yang menjadi penyebar penyakit seperti DBD, Zika, chikungunya, demam kuning, dan penyakit lainnya.

Di mana nyamuk tersebut akan dilepas?
Google berencana melepas nyamuk di California dan Florida setelah memperoleh izin dari EPA Amerika Serikat.

Tinggalkan Balasan