TEKNO

Pakar SEO Ungkap Risiko Besar Subdomain Gratis, Bisa Lumpuhkan Potensi Website Sejak Awal

0
×

Pakar SEO Ungkap Risiko Besar Subdomain Gratis, Bisa Lumpuhkan Potensi Website Sejak Awal

Sebarkan artikel ini
Mitos atau Fakta? Google Disebut “Alergi” pada Subdomain Gratis
Mitos atau Fakta? Google Disebut “Alergi” pada Subdomain Gratis

Media90 – Penggunaan subdomain gratis yang kerap dipilih pelaku digital pemula ternyata menyimpan risiko besar bagi performa Search Engine Optimization (SEO) sebuah website. Bahkan, potensi pertumbuhan sebuah brand bisa terhambat sejak awal sebelum bisnis tersebut benar-benar berkembang.

Isu ini kembali mencuat setelah dibahas dalam laporan Search Engine Journal, yang mengangkat diskusi di forum Reddit. Seorang pemilik situs mengeluhkan kontennya tidak pernah muncul di hasil pencarian Google meski telah dioptimasi. Setelah ditelusuri, akar permasalahannya bukan pada kualitas konten, melainkan pada penggunaan subdomain gratis.

Menanggapi kasus tersebut, John Mueller, Search Advocate Google, menjelaskan bahwa pemilik situs yang menggunakan subdomain gratis secara teknis harus berbagi “alamat digital” dengan ribuan website lain di infrastruktur yang sama.

“Menggunakan subdomain gratisan berarti berbagi ‘tempat tinggal’ dengan situs lain yang mungkin memiliki banyak tanda bahaya. Google bisa saja menganggap situs bersih Anda memiliki reputasi yang sama buruknya dengan tetangga Anda,” ujar Mueller.

Baca Juga:  OpenAI Rilis Prism, AI Gratis untuk Menulis Jurnal Ilmiah Akademik

Artinya, meskipun sebuah website memiliki konten berkualitas, reputasinya tetap bisa terdampak negatif jika berada di lingkungan yang dipenuhi situs spam atau berkualitas rendah.

Google Sudah Lama Wanti-wanti Soal Domain Murah

Peringatan serupa sebelumnya juga pernah disampaikan oleh Gary Illyes, Analis Tim Google Search. Ia menyebut bahwa penggunaan Top Level Domain (TLD) yang terlalu murah atau gratis kerap membuat mesin pencari enggan melakukan crawling secara mendalam terhadap sitemap sebuah situs.

Akibatnya, halaman-halaman penting website sulit terindeks dan jarang muncul di hasil pencarian. Kondisi ini membuat upaya optimasi SEO menjadi jauh lebih berat, terutama bagi website yang menargetkan pertumbuhan jangka panjang.

“Bad Neighborhood” Jadi Ancaman Nyata

Pandangan tersebut diperkuat oleh SEO Specialist Qwords, Eriga Syifaudin, yang menyoroti masalah teknis bernama Shared IP Reputation. Ia mengibaratkan infrastruktur subdomain gratis seperti sebuah bangunan apartemen besar.

Baca Juga:  5 Alasan Mengapa AMD Menjadi Penantang Kuat Intel dalam Industri Prosesor

“Bayangkan IP address server hosting itu seperti alamat apartemen. Saat kamu menggunakan subdomain gratis, kamu sebenarnya menyewa satu kamar kecil di gedung raksasa yang dihuni ribuan penyewa lain,” tulis Eriga.

Masalahnya, lanjut Eriga, karena layanan tersebut gratis dan minim seleksi, siapa pun bisa menggunakannya—termasuk situs judi, penyebar malware, hingga peternak link spam. Lingkungan inilah yang kerap disebut sebagai ‘bad neighborhood’ dalam dunia SEO.

Untuk pemilik website yang ingin berkembang serius, Eriga menyarankan agar segera meninggalkan infrastruktur gratisan dan beralih ke domain berbayar seperti .com, .id, atau .net.

“Secara teknis, ini memisahkan reputasi situs kamu dari ribuan situs lain yang tidak jelas kualitasnya,” jelasnya.

Kesadaran Domain Kredibel di Indonesia Meningkat

Menariknya, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pentingnya domain yang kredibel terus menunjukkan tren positif. Data terbaru mencatat bahwa domain .id (ccTLD Indonesia) kini menjadi pemimpin pasar di Asia Tenggara.

Baca Juga:  Google Luncurkan Fitur Recovery Contacts: Pulihkan Akun dengan Bantuan Teman Terpercaya

Hingga 31 Desember 2025, jumlah pengguna domain .id telah mencapai 1.432.940 domain, melonjak signifikan dibandingkan tahun 2024 yang masih berada di kisaran 1,2 juta domain. Lonjakan ini menjadi indikasi kuat bahwa pelaku digital dan bisnis di Indonesia mulai memprioritaskan keamanan, profesionalisme, dan kepercayaan dalam membangun identitas online mereka.

Kesimpulan

Meski terlihat praktis dan hemat biaya, penggunaan subdomain gratis dapat menjadi jebakan serius bagi performa SEO sebuah website. Reputasi bersama, keterbatasan crawling, hingga risiko “bad neighborhood” membuat website sulit berkembang di mesin pencari.

Bagi pelaku bisnis, kreator, maupun pengelola brand digital, investasi pada domain berbayar bukan sekadar soal nama, melainkan langkah strategis untuk membangun fondasi SEO yang sehat dan berkelanjutan.

Sumber:

  1. Google’s Mueller: Free Subdomain Hosting Makes SEO Harder – Search Engine Journal
  2. Warning dari Google: Kenapa Subdomain Gratis Bisa “Membunuh” Potensi SEO Website Kamu – Qwords
  3. Jumlah Domain .id Tertinggi di Asia Tenggara 2025, Tembus 1,43 Juta Pengguna – Teknologi Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *