Media90.id – Selama ini, espresso identik dengan penggunaan air panas bertekanan tinggi. Namun, penelitian terbaru dari UNSW Sydney menantang anggapan tersebut.
Tim peneliti berhasil membuat espresso tanpa menggunakan panas sama sekali. Sebagai gantinya, mereka memanfaatkan gelombang suara berfrekuensi tinggi.
Teknologi yang dikembangkan tersebut diberi nama ultrasonic espresso.
Alih-alih memanaskan air hingga mendekati titik didih, metode ini menggunakan energi mekanis dari gelombang ultrasonik untuk mengekstrak rasa dan kafein dari bubuk kopi pada suhu ruang.
Gelombang Suara Gantikan Peran Air Panas
Menariknya, hasil ekstraksi dengan metode ini tetap mampu mencapai karakteristik espresso hanya dalam waktu kurang dari tiga menit.
Prosesnya masih menggunakan keranjang espresso seperti mesin kopi pada umumnya.
Perbedaannya, pada bagian samping keranjang dipasang transduser logam kecil yang menghasilkan gelombang ultrasonik ketika diaktifkan.
Gelombang tersebut kemudian menciptakan fenomena yang disebut acoustic cavitation.
Dalam proses ini, gelembung-gelembung mikroskopis terbentuk di dalam cairan, lalu pecah dalam waktu yang sangat singkat.
Ketika gelembung tersebut meledak di dekat partikel kopi, muncul tekanan mikro yang membantu mengikis permukaan bubuk kopi.
Efeknya, minyak kopi, senyawa rasa, aroma, dan kafein dapat larut ke dalam air dengan lebih cepat.
Dengan kata lain, sistem ini menggantikan peran panas dengan agitasi mekanis berskala mikroskopis untuk mendorong proses ekstraksi.
Hemat Energi hingga 75 Persen
Bagi pengguna rumahan, menghilangkan proses pemanasan air mungkin tidak memberikan dampak yang terlalu besar.
Namun, situasinya berbeda bagi industri minuman kopi siap saji yang memproduksi kopi dalam jumlah besar setiap hari.
Tim peneliti memperkirakan metode ultrasonik dapat memangkas konsumsi energi hingga 75 persen karena tidak lagi membutuhkan proses pemanasan air.
Keuntungan lainnya adalah fleksibilitas dalam proses produksi.
Karena kopi dihasilkan pada suhu ruang, cairan kopi dapat langsung dicampurkan ke minuman botolan maupun produk berbasis susu tanpa membutuhkan proses pendinginan tambahan.
Konsentrat kopi juga lebih mudah disimpan dan didistribusikan sebelum nantinya diencerkan kembali di lokasi tujuan.
Bagaimana dengan Rasanya?
Tantangan terbesar dalam penelitian ini bukan hanya menghasilkan kopi yang secara kimiawi mirip espresso.
Tim peneliti juga perlu memastikan rasanya tetap meyakinkan bagi para penikmat kopi.
Untuk itu, tim yang dipimpin Dr. Francisco Trujillo melakukan berbagai penyesuaian, mulai dari ukuran gilingan kopi, rasio air dan kopi, hingga durasi paparan ultrasonik.
Mereka menemukan bahwa waktu ideal untuk proses ekstraksi berada di kisaran dua setengah hingga tiga menit.
Hasil akhirnya kemudian diuji melalui sesi blind tasting yang melibatkan sekitar 100 peminum kopi reguler.
Para peserta mencicipi empat jenis kopi, yakni espresso tradisional, espresso ultrasonik, kopi filter biasa, dan kopi filter ultrasonik.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Mayoritas peserta tidak mampu membedakan espresso tradisional dan espresso ultrasonik secara konsisten.
Keduanya mendapatkan penilaian yang hampir sama dari sisi aroma, rasa, tingkat kepahitan, hingga preferensi secara keseluruhan.
Bahkan untuk kategori kopi filter, versi ultrasonik justru lebih disukai karena dianggap memiliki rasa pahit yang lebih seimbang.
Temuan ini membuka kemungkinan baru bagi industri kopi.
Jika selama ini panas dianggap sebagai elemen wajib dalam pembuatan espresso, penelitian tersebut menunjukkan bahwa gelombang suara ternyata dapat menghasilkan minuman dengan karakteristik yang sangat mirip, sekaligus menggunakan energi yang jauh lebih rendah.














