Media90 – Di awal 2026, Samsung kembali melakukan terobosan besar yang melampaui fungsi perangkat elektronik konvensional. Setelah terkenal dengan inovasi perangkat pintar, perusahaan asal Korea Selatan ini kini memasuki ranah kesehatan neurologis dengan mengembangkan sensor otak berbasis wearable. Teknologi ini dirancang khusus untuk mendeteksi gejala awal demensia—sebuah penyakit yang terus meningkat seiring bertambahnya usia populasi dunia. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa arah pengembangan teknologi kini tidak hanya sebatas hiburan atau produktivitas, tetapi juga kesehatan mental dan fungsi kognitif.
Fitur Brain Health dalam Ekosistem Galaxy
Informasi soal pengembangan fitur Brain Health mencuat dari laporan Qoo10 serta Liputan6 yang menyebut Samsung tengah mengembangkan sistem pemantauan kesehatan otak berbasis biometrik. Teknologi ini bekerja dengan menangkap aktivitas listrik atau sinyal saraf otak untuk mendeteksi indikasi penurunan fungsi neurologis.
Samsung memanfaatkan algoritma pemrosesan sinyal serta basis data medis yang luas untuk mengenali pola anomali pada aktivitas otak, yang sering kali menjadi tanda awal demensia meski belum muncul secara fisik. Sistem ini akan menjadi bagian dari ekosistem Galaxy, terutama pada perangkat jam tangan pintar dan cincin pintar generasi terbaru.
Sensor khusus yang bersentuhan langsung dengan kulit akan menangkap sinyal biometrik secara akurat. Data tersebut kemudian diproses dan ditampilkan melalui aplikasi Samsung Health, yang memberikan informasi seperti:
✔ Skor kesehatan otak
✔ Tingkat konsentrasi
✔ Kualitas tidur yang berpengaruh pada keseimbangan saraf
✔ Deteksi dini degradasi sel saraf
Perusahaan memahami bahwa deteksi dini demensia sangat krusial karena perawatan akan lebih efektif jika dilakukan pada fase awal. Dengan pendekatan ini, Samsung ingin menjadikan wearable sebagai perangkat medis preventif praktis tanpa prosedur rumah sakit.
AI sebagai Otak Pemantauan Kesehatan Mental
Keunggulan fitur Brain Health tak lepas dari peran kecerdasan buatan (AI). AI bertugas meminimalkan noise dan gangguan sinyal luar sehingga data yang terbaca benar-benar mencerminkan kondisi saraf pengguna. Sistem akan mempelajari pola saraf setiap individu secara jangka panjang lalu memberikan peringatan otomatis jika terjadi penyimpangan signifikan.
Selain memantau sinyal otak, sistem ini juga terintegrasi dengan pelacakan aktivitas harian seperti:
-
Pola tidur
-
Tingkat stres
-
Keseimbangan aktivitas harian
Penelitian medis menyebut kualitas tidur buruk secara kronis memiliki korelasi kuat dengan risiko demensia di masa depan. Dengan integrasi ini, pengguna mendapatkan gambaran kondisi neurologis yang jauh lebih menyeluruh dibanding alat pelacak kesehatan biasa.
Babak Baru Wearable dan Demokratisasi Akses Kesehatan
Hadirnya fitur Brain Health menandai fase baru industri wearable global. Samsung tampaknya memahami bahwa nilai masa depan teknologi tak lagi berada pada jumlah inti prosesor, tetapi pada kontribusinya terhadap kualitas hidup.
Melalui teknologi ini, perangkat wearable bertransformasi menjadi alat preventif medis yang:
-
Praktis
-
Real-time
-
Tidak invasif
-
Terjangkau
Dengan demikian, masyarakat kini memiliki opsi pemantauan kesehatan saraf tanpa perlu pemeriksaan rumah sakit yang rumit dan mahal. Terobosan ini juga berpotensi mendorong produsen teknologi lain untuk mengikuti jejak Samsung dalam mendukung kesehatan jangka panjang.
Kesimpulan: Investasi Kesehatan Melalui Teknologi
Inovasi sensor otak pada perangkat wearable menunjukkan pergeseran besar dalam tujuan pengembangan perangkat pintar modern. Samsung tidak lagi hanya menawarkan gadget canggih, tetapi juga solusi kesehatan preventif untuk mendeteksi gejala awal demensia secara akurat dan praktis.
Dengan menggabungkan biometrik dan AI, fitur Brain Health hadir sebagai alat penting untuk menjaga fungsi kognitif dan meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental. Inovasi ini menjadi bentuk investasi masa depan, di mana kesehatan saraf dapat dipantau sejak dini demi kualitas hidup yang lebih baik.














