Media90 – Daya tahan baterai kini menjadi salah satu faktor penentu dalam memilih smartphone. Ketergantungan pengguna terhadap ponsel untuk bekerja, hiburan, hingga navigasi membuat kebutuhan akan baterai berkapasitas besar semakin mendesak. Tak heran, inovasi baterai pun menjadi arena persaingan baru di industri smartphone global.
Dalam beberapa tahun terakhir, produsen asal China agresif menghadirkan ponsel dengan daya tahan panjang tanpa harus mengorbankan desain yang ramping. Nama-nama seperti Honor, Vivo, dan Xiaomi sudah lebih dulu memanfaatkan material baterai generasi baru untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi. Di sisi lain, Samsung kerap dinilai tertinggal karena kapasitas baterai lini Galaxy terkesan stagnan di kisaran 5.000–6.000 mAh.
Samsung Dinilai Tertinggal, Kini Mulai Bergerak
Situasi tersebut tampaknya mulai berubah. Bocoran terbaru mengindikasikan Samsung tengah menyiapkan langkah besar untuk mengejar ketertinggalan di sektor baterai. Raksasa teknologi asal Korea Selatan itu dikabarkan sedang menguji baterai smartphone dengan kapasitas ekstrem, mencapai 20.000 mAh—angka yang jauh melampaui standar ponsel flagship saat ini.
Informasi ini beredar di media sosial X dan langsung menarik perhatian pengamat teknologi. Disebutkan bahwa Samsung kini mulai bereksperimen dengan baterai berbasis Silicon-Carbon (Si/C), material yang dikenal memiliki kepadatan energi lebih tinggi dibanding baterai lithium-ion konvensional. Dengan teknologi ini, kapasitas besar dapat dicapai tanpa harus memperbesar ukuran fisik baterai secara drastis.
Meski terdengar futuristis, teknologi Silicon-Carbon sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah produsen Android lain telah menggunakannya untuk meningkatkan daya tahan secara bertahap sambil mempertahankan desain ponsel yang tipis. Namun, pendekatan Samsung disebut berbeda. Perusahaan ini dikabarkan mendorong teknologi tersebut hingga batas maksimal, dengan target menciptakan lompatan besar dalam kapasitas daya, bukan sekadar peningkatan kecil.
Hasil Uji Awal dan Tantangan Teknis
Menurut bocoran dari akun X @phonefuturist, Samsung menguji baterai ini menggunakan konfigurasi dua sel yang disusun bertumpuk.
- Sel pertama memiliki kapasitas 12.000 mAh dengan ketebalan sekitar 6,3 mm.
- Sel kedua menyumbang 8.000 mAh dengan ketebalan awal 4 mm.
Kedua sel tersebut memiliki dimensi fisik yang sama, sekitar 10 cm x 6,8 cm. Jika digabungkan, total kapasitas baterai mencapai 20.000 mAh.
Hasil pengujian awal disebut cukup mengesankan. Prototipe ini diklaim mampu mencatat waktu layar menyala (screen-on time) hingga 27 jam, jauh di atas rata-rata ponsel flagship saat ini. Selain itu, baterai tersebut dikabarkan sanggup bertahan hingga sekitar 960 siklus pengisian daya dalam satu tahun, menandakan perhatian Samsung terhadap aspek usia pakai.
Namun, pengujian juga mengungkap tantangan serius. Dalam uji ketahanan jangka panjang, sel kedua berkapasitas 8.000 mAh dilaporkan mengalami pembengkakan. Ketebalannya meningkat dari 4 mm menjadi sekitar 7,2 mm setelah digunakan secara intensif. Masalah ini menunjukkan masih adanya kendala dalam menjaga stabilitas material Silicon-Carbon pada kapasitas yang sangat besar.
Arah Baru Strategi Samsung
Meski belum sempurna, langkah Samsung ini dinilai signifikan. Selama ini, perusahaan dikenal cenderung konservatif dalam mengadopsi teknologi baru, terutama yang berpotensi memengaruhi keamanan dan keawetan perangkat. Keputusan untuk menguji baterai Silicon-Carbon berkapasitas ekstrem bisa dibaca sebagai sinyal perubahan strategi.
Alih-alih mengejar desain paling tipis, Samsung tampaknya mulai mempertimbangkan nilai jual lain: daya tahan luar biasa. Jika produsen lain menggunakan teknologi baru untuk peningkatan bertahap, Samsung justru terlihat ingin langsung menciptakan terobosan besar.
Apakah baterai 20.000 mAh ini akan benar-benar hadir di ponsel komersial masih menjadi tanda tanya. Namun satu hal yang jelas, Samsung kini mulai menunjukkan keseriusannya agar tidak terus tertinggal dalam evolusi teknologi baterai smartphone.














