Media90 – Potensi kakao di wilayah Lampung Timur dinilai sangat besar dan menjanjikan. Komoditas ini bahkan mampu menjadi penopang ekonomi berlapis bagi para petani apabila dikelola secara optimal dan berkelanjutan.
Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APiK) Lampung Timur, Japung Lasarus, mengatakan bahwa tanaman kakao bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan sebuah sistem pertanian yang mampu menghidupi petani dari berbagai sisi.
Menurut Japung, kakao memiliki keunggulan karena dapat ditanam secara tumpang sari. Dalam satu hamparan lahan, petani dapat memanen hasil dari lapisan bawah, tengah, hingga atas tanaman.
“Kalau bahasa kami, menanam kakao itu satu hektare terasa tiga hektare. Di bawah pohon kakao bisa ditanam talas atau umbi-umbian, di tajuk tengah kakao, dan di tajuk atas bisa ditanami kelapa atau alpukat. Jadi panennya berlapis,” ujar Japung dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).
Ia mengungkapkan, kakao Lampung Timur sempat mengalami kemunduran pada periode 2010–2012 akibat serangan hama busuk buah. Kondisi tersebut membuat banyak petani menebang tanaman kakao dan beralih ke komoditas lain.
Namun sejak 2025, komoditas kakao di Lampung Timur mulai menunjukkan kebangkitan. Hal ini tidak terlepas dari hadirnya offtaker serta pendampingan intensif yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur di bawah kepemimpinan Bupati Ella Siti Nuryamah.
“Kebangkitan kakao ini tidak lepas dari peran offtaker seperti PT Papandayan dan Olam, yang datang membawa klon baru yang lebih tahan hama, sekaligus melakukan pendampingan kepada petani bersama Pemkab Lampung Timur,” jelas Japung.
Selain peran offtaker, geliat kakao Lampung Timur juga diperkuat oleh kolaborasi dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau NGO yang aktif mendampingi petani, mulai dari proses budidaya hingga pascapanen.
Meski demikian, Japung mengakui masih terdapat tantangan besar yang dihadapi petani, terutama terkait keamanan kebun. Kondisi tersebut kerap memaksa petani memanen kakao sebelum matang sempurna demi menghindari kehilangan hasil.
Saat ini, harga kakao di tingkat petani Lampung Timur masih berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram untuk kakao basah. Padahal, potensi harga dapat jauh lebih tinggi apabila kakao dipanen dalam kondisi matang dan melalui proses fermentasi yang baik.
Untuk mendorong peningkatan kualitas dan nilai tambah, APiK bersama Pemkab Lampung Timur tengah merintis kerja sama dengan mitra dari Bandung guna mengembangkan kakao premium. Program ini mencakup pendampingan teknis, penyediaan alat fermentasi, hingga penggunaan solar dryer untuk proses pengeringan.
Japung menambahkan, kunci keberhasilan pengembangan kakao ke depan juga terletak pada penguatan kelembagaan petani. Dengan berkelompok, para petani akan lebih mudah berkembang, belajar bersama, serta menjaga keamanan kebun secara kolektif.














