TEKNO

Harga Bitcoin Tertekan, Keluar dari Jajaran 10 Besar Aset Dunia

12
×

Harga Bitcoin Tertekan, Keluar dari Jajaran 10 Besar Aset Dunia

Sebarkan artikel ini
Bitcoin Terjun ke Rp1,3 Miliar, Terdepak dari 10 Besar Aset Paling Bernilai Dunia
Bitcoin Terjun ke Rp1,3 Miliar, Terdepak dari 10 Besar Aset Paling Bernilai Dunia

Media90 – Harga Bitcoin kembali mengalami tekanan hebat dan mencatatkan penurunan tajam dalam sepekan terakhir. Aset kripto terbesar di dunia ini bahkan harus rela keluar dari jajaran 10 besar aset dengan kapitalisasi pasar terbesar secara global.

Berdasarkan pantauan pada Senin (2/2/2026) pagi, harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran 77.557 dollar AS per keping, atau sekitar Rp1,3 miliar dengan asumsi kurs Rp16.777 per dollar AS. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif yang terjadi sejak awal tahun.

Kapitalisasi Pasar Menyusut Tajam

Menurut data Infinite Marketcap, anjloknya harga Bitcoin berdampak langsung pada penyusutan kapitalisasi pasarnya ke kisaran 1,55 triliun dollar AS. Dengan valuasi tersebut, Bitcoin kini turun ke peringkat ke-14 aset terbesar dunia, berada di bawah sejumlah aset raksasa seperti saham Tesla hingga perusahaan energi Saudi Aramco.

Padahal, hanya beberapa bulan sebelumnya Bitcoin sempat mencatatkan performa impresif. Pada Oktober 2025, harga Bitcoin menembus rekor tertinggi sepanjang masa di atas 126.000 dollar AS per keping, dengan kapitalisasi pasar mendekati 2,5 triliun dollar AS. Saat itu, Bitcoin bahkan sempat masuk lima besar aset global dan melampaui valuasi perusahaan teknologi besar seperti Google dan Amazon.

Baca Juga:  Microsoft Mengakhiri Dukungan untuk Windows 10 Tahun Depan: Risiko yang Mungkin Anda Hadapi Jika Tetap Menggunakannya

Namun, sentimen pasar kini berubah drastis. Dalam kurun waktu satu pekan, harga Bitcoin tercatat merosot lebih dari 11 persen, dari level sekitar 90.000 dollar AS ke bawah 78.000 dollar AS. Posisi ini menjadi level terendah Bitcoin sejak April 2025 dan menandakan tekanan jual yang semakin kuat di pasar kripto.

Kondisi tersebut memicu sentimen bearish di kalangan investor. Banyak pelaku pasar memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Akibatnya, aset kripto yang sebelumnya cukup lama bertahan di jajaran 10 besar aset dunia kini terus melorot.

Ethereum Juga Terdampak

Tekanan tidak hanya dirasakan oleh Bitcoin. Ethereum (ETH), kripto terbesar kedua di dunia, juga mengalami koreksi tajam. Dalam sepekan terakhir, harga ETH turun sekitar 14,5 persen, sehingga kapitalisasi pasarnya menyusut ke kisaran 300 miliar dollar AS.

Baca Juga:  Rahasia Tersembunyi di Balik Oppo Reno 10 Series 5G: Harga Terjangkau, Fitur Kamera Super Canggih!

Dampaknya, Ethereum kini berada di sekitar peringkat ke-68 aset terbesar dunia. Posisi ini turun jauh dari jajaran 50 besar dan berada di bawah valuasi sejumlah perusahaan global seperti Coca-Cola, Cisco, hingga Caterpillar.

Penguatan Dollar AS dan Geopolitik Jadi Pemicu

Sejumlah faktor menjadi pemicu utama tekanan di pasar kripto. Salah satunya adalah penguatan dollar AS yang cukup agresif dalam beberapa waktu terakhir. Penguatan ini dipengaruhi oleh dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat, termasuk munculnya figur di Federal Reserve yang dinilai cenderung hawkish dan berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Dalam kondisi suku bunga tinggi, suku bunga riil berpeluang meningkat. Situasi ini umumnya tidak ramah bagi aset berisiko seperti kripto, karena investor lebih memilih menyimpan dana dalam bentuk dollar AS atau obligasi pemerintah yang menawarkan imbal hasil lebih stabil. Alhasil, arus dana keluar dari pasar kripto pun sulit dihindari.

Baca Juga:  Rp838 Miliar Lenyap dalam Satu Jam, Investor Kripto Jadi Korban Address Poisoning

Selain itu, ketegangan geopolitik turut memperburuk sentimen pasar. Konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya pernyataan keras militer Iran terkait potensi serangan terhadap Israel serta sinyal ancaman dari Amerika Serikat, meningkatkan ketidakpastian global. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung menghindari aset spekulatif dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Analis Needham, John Todaro, menilai minat investor ritel terhadap Bitcoin saat ini berada pada titik yang sangat rendah. Ia menyebut kondisi tersebut mencerminkan sikap apatis dari investor ritel. Menurutnya, volume perdagangan Bitcoin berpotensi tetap lesu setidaknya dalam satu hingga dua kuartal ke depan, sembari pasar menunggu kejelasan arah kebijakan moneter dan stabilitas global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *