TEKNO

Layu Sebelum Berkembang: Mengapa Industri Ramai-Ramai Tinggalkan TV 8K di 2026

5
×

Layu Sebelum Berkembang: Mengapa Industri Ramai-Ramai Tinggalkan TV 8K di 2026

Sebarkan artikel ini
Belum Sempat Populer, Industri Mulai Tinggalkan TV 8K pada 2026
Belum Sempat Populer, Industri Mulai Tinggalkan TV 8K pada 2026

Media90 – Dalam satu dekade terakhir, industri elektronik konsumen bergerak dengan pola yang nyaris selalu bisa ditebak. Resolusi layar meningkat, kepadatan piksel bertambah, dan kualitas gambar semakin tajam. Perjalanan panjang dari SD ke HD, lalu Full HD hingga akhirnya 4K, menjadikan resolusi ultra-tinggi sebagai simbol kemajuan teknologi di ruang keluarga.

Namun, ketika industri mencoba mendorong batas berikutnya menuju resolusi 8K, narasi kemajuan itu mendadak terhenti. Alih-alih menjadi standar baru, teknologi 8K justru menunjukkan gejala sebaliknya: layu sebelum benar-benar berkembang.

Resolusi 8K yang sempat digembar-gemborkan sebagai The Next Big Thing kini perlahan ditinggalkan. Bukan sekadar spekulasi, tren ini diperkuat oleh langkah nyata para produsen elektronik raksasa dunia yang mulai realistis dan memilih mundur dari segmen ultra-premium tersebut.

Eksodus Para Raksasa Teknologi

Retaknya ambisi 8K mulai terlihat jelas ketika pemain besar industri televisi mengubah arah strategi mereka. TCL dan Sony, dua nama yang selama ini identik dengan inovasi layar, kini mengurangi fokus pada lini produk 8K. Alih-alih meluncurkan model baru, keduanya lebih memilih menyempurnakan TV 4K dengan teknologi panel mutakhir seperti Mini-LED dan QD-OLED.

Baca Juga:  Kemewahan Spesifikasi OPPO F23: Apakah Harganya Sesuai?

Pukulan paling signifikan datang dari LG Electronics. Sebagai salah satu pemimpin pasar panel layar global, LG secara terbuka mengonfirmasi bahwa TV 8K tidak lagi menjadi prioritas utama dalam portofolio produknya mulai 2026. Keputusan ini dipandang banyak analis sebagai sinyal kuat bahwa pasar TV 8K memang sedang tidak sehat.

Padahal, jika menilik ke belakang, ambisi industri terhadap 8K pernah begitu besar. Sharp menjadi pionir dengan memamerkan prototipe TV 8K sejak 2012 dan mulai menjualnya secara komersial di Jepang pada 2015 dengan harga fantastis, bahkan mencapai miliaran rupiah. Samsung menyusul dengan membawa 8K ke pasar Amerika Serikat pada 2018, disusul LG setahun kemudian. Saat itu, 8K diyakini sebagai evolusi alami setelah 4K.

Namun, realitas di 2026 berbicara lain.

Tiga Alasan Utama Mengapa TV 8K Gagal Bersinar

Meski secara teknis unggul, TV 8K gagal menciptakan daya tarik yang cukup kuat bagi konsumen dan produsen. Para analis industri umumnya sepakat bahwa kegagalan ini bertumpu pada tiga faktor utama.

Baca Juga:  5 Game iPad dan iPhone Offline untuk Mengisi Waktu Tanpa Koneksi Internet

1. Masalah Konten: Dilema Ayam dan Telur

Hambatan terbesar adopsi TV 8K adalah ketiadaan konten. Hingga kini, konten dengan resolusi 8K asli masih sangat langka. Platform streaming besar seperti Netflix, Disney+, dan Amazon Prime Video masih berfokus pada 4K HDR.

Distribusi 8K membutuhkan bandwidth internet yang sangat besar serta biaya penyimpanan dan infrastruktur server yang jauh lebih mahal. Secara bisnis, investasi tersebut belum dianggap masuk akal. Membeli TV 8K saat ini ibarat memiliki mobil balap super mahal, tetapi hanya bisa menggunakannya di jalanan macet—potensinya tidak pernah benar-benar terpakai.

2. Batasan Biologis Mata Manusia

Faktor kedua justru datang dari tubuh manusia itu sendiri. Pada jarak menonton normal di ruang keluarga, sekitar dua hingga tiga meter, mata manusia rata-rata sudah sulit membedakan perbedaan ketajaman antara 4K dan 8K.

Lompatan visual dari Full HD ke 4K terasa signifikan. Namun, peningkatan dari 4K ke 8K memberikan diminishing returns—hasil yang semakin kecil dan sulit dirasakan, kecuali pada layar berukuran sangat besar atau jarak menonton yang tidak realistis. Tambahan jutaan piksel pada 8K akhirnya menjadi mubazir bagi sebagian besar pengguna.

Baca Juga:  5 Strategi Efektif untuk Menghemat Baterai Laptop saat Menonton Video di Windows 11

3. Regulasi Energi yang Semakin Ketat

Faktor ketiga datang dari ranah regulasi, terutama di pasar penting seperti Uni Eropa. Kepadatan piksel TV 8K membuat cahaya latar lebih sulit menembus panel, sehingga perangkat membutuhkan daya listrik jauh lebih besar untuk mencapai tingkat kecerahan yang setara dengan TV 4K.

Aturan ketat Uni Eropa soal konsumsi energi perangkat elektronik secara tidak langsung “mencekik” pengembangan TV 8K. Produsen dipaksa menyeimbangkan performa visual, efisiensi energi, dan biaya produksi—kombinasi yang sulit dicapai tanpa membuat harga semakin tidak masuk akal.

Apa Pilihan Terbaik untuk Konsumen di 2026?

Saat ini, hanya segelintir produsen—terutama Samsung—yang masih mencoba mempertahankan sisa-sisa pasar TV 8K global. Sebagian besar pemain lain memilih mundur dan memusatkan inovasi mereka pada teknologi 4K kelas atas.

Bagi konsumen di 2026, rekomendasi para pakar teknologi terbilang tegas: TV 8K bukan pilihan bijak. Investasi terbaik justru ada pada TV 4K premium dengan teknologi OLED, QD-OLED, atau Mini-LED. Peningkatan kontras, warna, kecerahan HDR, dan akurasi gambar jauh lebih berdampak pada pengalaman menonton dibandingkan sekadar menambah jumlah piksel.

Untuk saat ini, masa depan 8K tampak semakin menjauh. Atau mungkin, seperti banyak teknologi ambisius lainnya, ia memang tidak pernah benar-benar ditakdirkan untuk menjadi standar baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *