Media90 – Peneliti dari Flinders University, Australia, mengembangkan pendekatan baru untuk mengobati obstructive sleep apnea (OSA), gangguan pernapasan saat tidur yang sering ditandai dengan dengkuran keras akibat tersumbatnya saluran napas. Kondisi ini diketahui tidak hanya mengganggu kualitas tidur, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan serius, mulai dari penyakit kardiovaskular, gangguan metabolisme, hingga penurunan fungsi kognitif.
Pendekatan terbaru ini merupakan pengembangan dari terapi hypoglossal nerve stimulation (HNS), metode yang menggunakan stimulasi listrik untuk mengontrol saraf hipoglosus—saraf yang berperan menggerakkan lidah. Dengan stimulasi tersebut, posisi lidah dapat dipertahankan agar tidak menutup saluran napas saat tidur.
Keterbatasan Terapi HNS Konvensional
Selama ini, terapi HNS dikenal cukup efektif bagi sebagian pasien OSA, terutama mereka yang tidak dapat menoleransi terapi Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Namun, metode HNS konvensional memiliki sejumlah keterbatasan.
Prosedur ini memerlukan operasi dengan pemasangan implan berukuran relatif besar, bersifat invasif, serta membutuhkan waktu pemulihan yang tidak singkat. Selain itu, HNS tidak selalu cocok untuk semua pasien. Faktor anatomi saluran napas, respons saraf, serta kondisi kesehatan tertentu membuat sebagian penderita dinilai tidak ideal menjalani prosedur ini.
Keterbatasan tersebut mendorong para peneliti mencari pendekatan alternatif yang lebih minim invasif, fleksibel, dan dapat menjangkau lebih banyak pasien.
Elektroda Mini, Dipasang Lewat Kulit
Dalam studi terbaru, tim Flinders University menguji elektroda HNS berukuran lebih kecil yang dirancang agar lebih mudah dipasang dan disesuaikan. Berbeda dengan metode sebelumnya, elektroda ini ditempatkan secara perkutan, yakni melalui kulit dengan panduan ultrasonografi, tanpa memerlukan sayatan besar atau operasi kompleks.
Pendekatan ini memungkinkan stimulasi saraf dilakukan dengan cara yang lebih sederhana, cepat, dan berpotensi diterapkan di klinik rawat jalan.
Uji Coba Awal Tunjukkan Hasil Menjanjikan
Uji coba awal dilakukan terhadap 14 partisipan penderita OSA di laboratorium tidur, dengan kondisi yang disimulasikan menyerupai pola pernapasan saat sleep apnea. Dalam uji stimulasi singkat yang berlangsung selama beberapa siklus pernapasan, elektroda HNS versi baru ini berhasil membuka saluran napas pada 13 dari 14 partisipan, atau setara dengan tingkat keberhasilan 93 persen.
Menariknya, pada beberapa kasus, stimulasi saraf tetap efektif meskipun pernapasan partisipan telah berhenti sepenuhnya dan saluran napas tertutup total. Peningkatan aliran udara yang dihasilkan bahkan disebut sebanding dengan hasil terapi CPAP.
“Ini adalah prosedur sekitar 90 menit yang dilakukan dengan panduan ultrasonografi dan hanya menimbulkan ketidaknyamanan minimal,” ujar Simon Carney, ahli THT dari Flinders University. Ia menambahkan bahwa pendekatan ini memungkinkan pembukaan saluran napas pada pasien yang sebelumnya dianggap tidak cocok untuk terapi HNS.
Alternatif bagi Pasien yang Tak Toleran CPAP
Hingga kini, CPAP masih menjadi standar utama terapi OSA karena efektivitasnya dalam menjaga saluran napas tetap terbuka selama tidur. Namun, masker yang harus digunakan sepanjang malam membuat terapi ini sulit ditoleransi oleh banyak pasien. Diperkirakan hanya sekitar 50 persen pasien yang mampu menggunakan CPAP secara konsisten dalam jangka panjang.
Dalam konteks tersebut, HNS menjadi alternatif penting bagi pasien yang gagal menjalani terapi CPAP. Versi HNS terbaru yang dikembangkan Flinders University dinilai memiliki keunggulan karena lebih minim invasif, berpotensi dipasang di klinik rawat jalan, serta memiliki waktu pemulihan yang lebih singkat dibandingkan operasi konvensional.
Peneliti utama Amal Osman menyebut pendekatan ini berpotensi menurunkan biaya dan risiko prosedur, sekaligus meningkatkan tingkat keberhasilan terapi. Fleksibilitas teknologi ini juga memungkinkan penyesuaian yang lebih presisi berdasarkan kondisi anatomi dan pola tidur masing-masing pasien.
Masih Tahap Awal, Tapi Menjanjikan
Meski hasil awal terlihat menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa studi ini masih berada pada tahap awal dan melibatkan jumlah partisipan yang relatif kecil. Uji lanjutan dengan skala lebih besar dan dalam kondisi tidur alami masih diperlukan sebelum teknologi ini dapat diterapkan secara luas.
Ke depan, tim Flinders University juga berencana mengembangkan penggunaan jangka panjang, mengintegrasikan teknologi ini dengan perangkat wearable, serta mengeksplorasi kemungkinan stimulasi saraf dan otot lain untuk meningkatkan aliran udara.
Pakar tidur internasional dari Flinders University, Danny Eckert, menyatakan bahwa tujuan utama penelitian ini adalah menyediakan lebih banyak pilihan terapi yang aman, nyaman, dan efektif bagi penderita sleep apnea—khususnya mereka yang selama ini kesulitan menjalani terapi konvensional.














