INTERNASIONAL

Iran Berhasil Lumpuhkan Starlink: Jamming Militer Guncang Narasi “Internet Tanpa Sensor”

133
×

Iran Berhasil Lumpuhkan Starlink: Jamming Militer Guncang Narasi “Internet Tanpa Sensor”

Sebarkan artikel ini
Iran Lumpuhkan Starlink dengan Jammer Militer di Tengah Blackout Digital!
Iran Lumpuhkan Starlink dengan Jammer Militer di Tengah Blackout Digital!

Media90 – Setelah bertahun-tahun dipandang sebagai teknologi yang “nyaris mustahil diblokir” oleh rezim otoriter, layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk akhirnya menghadapi ujian terbesar dalam sejarah operasionalnya. Laporan terbaru CNBC Indonesia menyebut bahwa Pemerintah Iran telah sukses memblokir Starlink secara nasional — dan yang dilakukan bukan sekadar aksi administratif, melainkan operasi teknis tingkat tinggi menggunakan jammer militer.

Langkah ini terjadi di tengah gelombang kerusuhan besar yang melanda Iran pada awal Januari 2026. Protes yang bermula dari ketidakpuasan terhadap otoritas Teheran berubah menjadi aksi pembakaran tempat ibadah, gedung pemerintahan, hingga bentrokan antarwarga. Dalam situasi tersebut, Starlink — yang selama ini menjadi “urat nadi” komunikasi aktivis dan warga di wilayah terpencil — mendadak tak berfungsi.

Ads
close ads

Bagaimana Jammer Iran Melumpuhkan Starlink?

Selama ini Starlink dianggap sulit dibungkam karena tidak bergantung pada infrastruktur fisik dalam negeri seperti kabel serat optik atau menara BTS. Semua akses data langsung dipancarkan dari satelit ke dish penerima pengguna, melewati sensor ketat pemerintah.

Namun keunggulan itu ternyata dapat dipatahkan melalui operasi peperangan elektronik.

Militer Iran dilaporkan mengerahkan unit electronic warfare (EW) dengan perangkat pengganggu frekuensi berdaya tinggi. Prinsip kerjanya adalah membanjiri frekuensi downlink Starlink dengan electronic noise, sehingga dish pengguna tidak dapat membedakan mana sinyal asli dari satelit dan mana gangguan.

Laporan dari lembaga pemantau internet NetBlocks menunjukkan konektivitas Starlink di Iran anjlok hingga hanya 1% dari kondisi normal. Di kota-kota besar seperti Teheran, Isfahan, dan Mashhad, koneksi bahkan padam total selama lebih dari 60 jam.

Motif Politik: Meredam “Revolusi Digital”

Pemblokiran Starlink bukan terjadi di ruang hampa. Dalam satu tahun terakhir, ribuan perangkat Starlink diselundupkan ke Iran meski SpaceX tidak memiliki lisensi operasional di negara tersebut. Perangkat itu digunakan aktivis dan warga untuk menembus “Intranet Nasional” Iran — sebuah sistem internet dengan sensor ketat.

Starlink pun berubah menjadi simbol perlawanan digital, menyediakan akses komunikasi lintas wilayah dan lintas negara tanpa bisa diputus lewat saklar.

Bagi pemerintah Iran, hal ini menjadi ancaman strategis. Dengan melumpuhkan Starlink, Teheran berusaha:

  • Memutus arus informasi dari Iran ke dunia internasional

  • Menghambat koordinasi protes di lapangan

  • Mengendalikan narasi atas kerusuhan yang terus meluas

Situasi ini menciptakan “kegelapan digital”, di mana verifikasi atas insiden-insiden kekerasan menjadi hampir mustahil dilakukan.

Analis keamanan menilai bahwa keberhasilan Iran ini bersifat preseden global. Negara-negara dengan tensi politik tinggi terhadap platform milik Elon Musk akan mengamati langkah ini sebagai model baru sensor era satelit.

Respons SpaceX dan Dampak Global

Hingga berita ini diturunkan, Elon Musk maupun SpaceX belum memberikan penjelasan teknis mengenai strategi mereka menghadapi jamming tersebut.

Dalam kasus Ukraina, SpaceX pernah melakukan pembaruan perangkat lunak yang membuat sistem Starlink lebih tahan jamming dari operasi Rusia — sebuah langkah yang kala itu dinilai cepat dan efektif.

Namun konteks Iran berbeda:

  • Intensitas jamming jauh lebih besar

  • Targetnya populasi sipil, bukan zona perang terbatas

  • Pemerintah memiliki kendali penuh atas spektrum nasional

Kejadian ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai masa depan internet satelit di zona konflik. Jika satu negara dapat memblokir Starlink dengan teknologi peperangan elektronik yang relatif terjangkau, maka narasi “Starlink kebal sensor” berpotensi runtuh.

Kondisi ini juga menjadi catatan penting bagi investor menjelang rencana IPO SpaceX tahun 2026.

Era Baru: Negara vs Perusahaan Antariksa

Pemblokiran Starlink di Iran menegaskan satu hal: tidak ada teknologi yang benar-benar kebal terhadap intervensi negara. Meskipun satelit berada ribuan kilometer di atas bumi, sinyalnya tetap harus “mendarat” pada perangkat yang berada dalam yurisdiksi suatu negara.

Peristiwa ini sekaligus menandai awal dari perlombaan senjata elektronik antara:

  • Perusahaan teknologi luar angkasa swasta

  • Negara berdaulat dengan infrastruktur militer

Kini dunia menunggu dua kemungkinan:

  1. SpaceX merilis teknologi anti-jamming generasi baru, atau

  2. Iran menjadi negara pertama yang berhasil mematahkan dominasi internet satelit Elon Musk

Bagi warga Iran, hilangnya akses Starlink bukan sekadar hilangnya konektivitas, tetapi hilangnya salah satu jendela terakhir menuju dunia bebas ketika krisis politik semakin memburuk.

Heboh Hacker Kembar Diduga Hapus 96 Database Pemerintah AS Usai Dipecat dari Opexus
INTERNASIONAL

Media90 – Kasus pemecatan karyawan yang berujung pada sabotase siber berskala besar mengguncang industri teknologi dan keamanan federal Amerika Serikat. Dua saudara kembar, Muneeb Akhter dan Sohaib Akhter yang berusia 34 tahun didakwa setelah nekat menghapus sekitar 96 database berisi informasi sensitif milik pemerintah federal AS.Ads close ads Aksi destruktif tersebut dilakukan hanya beberapa menit setelah keduanya diberhentikan dari perusahaan tempat mereka bekerja. Kasus ini langsung menyita perhatian publik karena kedua pelaku bekerja di Opexus, perusahaan kontraktor teknologi yang melayani lebih dari 45 lembaga pemerintah AS. Ironisnya, keduanya berhasil lolos proses rekrutmen dan dipercaya menangani data penting negara meskipun memiliki…

Heboh di India Kematian Twisha Sharma Picu Dugaan Mahar dan KDRT
INTERNASIONAL

Media90 – Nama Twisha Sharma mendadak menjadi perbincangan luas di India setelah kematiannya pada 12 Mei lalu. Perempuan berusia 33 tahun tersebut ditemukan tidak bernyawa di rumah keluarga suaminya di Bhopal.Ads close ads Kasus ini dengan cepat menyita perhatian media nasional karena muncul dugaan keterlibatan konflik mahar dan kekerasan rumah tangga. Polisi kini masih mendalami penyebab pasti kematian Twisha, termasuk kemungkinan pembunuhan maupun bunuh diri. Twisha diketahui menikah dengan Samarth Singh pada Desember 2025 setelah keduanya berkenalan melalui aplikasi kencan setahun sebelumnya. Awalnya, kehidupan rumah tangga pasangan tersebut tampak harmonis. Namun menurut keluarga korban, masalah mulai muncul tidak lama setelah…

Israel Tuai Sorotan Internasional Usai Hentikan Kapal Bantuan untuk Gaza
INTERNASIONAL

Media90 – Ketegangan terkait konflik Gaza kembali memanas setelah militer Israel mencegat armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla di kawasan Laut Mediterania. Insiden tersebut terjadi saat kapal bantuan berada di perairan internasional sekitar 460 kilometer di barat Siprus.Ads close ads Aksi pencegatan itu langsung menjadi perhatian dunia internasional setelah rekaman siaran langsung tersebar luas di media sosial. Dalam video yang beredar, sejumlah relawan dan penumpang sipil tampak mengangkat tangan ketika pasukan komando Israel memasuki kapal bantuan tersebut. Langkah militer Israel menuai kecaman dari berbagai pihak karena operasi dilakukan di luar wilayah perairan negaranya. Sejumlah pihak menilai tindakan tersebut berpotensi melanggar hukum…

Darah Buatan Super Clot Diklaim Mampu Menghentikan Pendarahan dalam Hitungan Detik
INTERNASIONAL

Media90 – Dunia medis kembali mencatat kemajuan besar dengan hadirnya teknologi Engineered Blood Clots (EBCs), sebuah inovasi pembekuan darah buatan yang mampu menghentikan perdarahan hebat hanya dalam hitungan detik. Teknologi ini dikembangkan oleh tim peneliti lintas institusi dari Kanada dan Amerika Serikat melalui pendekatan revolusioner yang dikenal sebagai click clotting. Inovasi ini digadang-gadang menjadi solusi masa depan dalam penanganan darurat, terutama pada kasus kecelakaan, operasi besar, hingga pasien dengan gangguan pembekuan darah.Ads close ads Click Clotting: Cara Baru Membekukan Darah Berbeda dengan proses alami tubuh yang mengandalkan serat fibrin, teknologi EBCs justru memaksimalkan peran sel darah merah sebagai struktur utama…

Kabel Internet Global di Selat Hormuz Jadi Target, Iran Wacanakan ‘Toll Digital’ untuk Big Tech
INTERNASIONAL

Media90 – Selat Hormuz yang selama ini dikenal sebagai jalur vital energi dunia kini mulai dipandang dari perspektif baru oleh Iran: sebagai pusat infrastruktur digital global yang strategis. Media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Tasnim News Agency, mendorong pemerintah untuk mulai memonetisasi kabel serat optik bawah laut yang melintasi kawasan tersebut. Dalam laporan berjudul “Three practical steps for generating revenue from Strait of Hormuz internet cables”, Tasnim menyoroti bahwa Selat Hormuz tidak hanya menjadi jalur kapal tanker minyak, tetapi juga koridor penting bagi arus data global yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa.Ads close ads Selat…

Ilmuwan China Ciptakan Sel Bahan Bakar Batu Bara dengan Potensi Nol Emisi
INTERNASIONAL

Media90 – Tim ilmuwan dari Universitas Shenzhen, China, mengklaim telah berhasil mengembangkan teknologi sel bahan bakar batu bara yang berpotensi memangkas emisi karbon dioksida (CO2) hingga mendekati nol. Inovasi yang diberi nama zero-carbon-emission direct coal fuel cell (ZC-DCFC) ini dinilai mampu mengubah cara kerja pembangkit listrik berbasis batu bara secara fundamental. Berdasarkan laporan The Independent pada akhir April 2026, teknologi ini menawarkan pendekatan baru dalam menghasilkan energi dari bahan bakar fosil dengan dampak polusi yang jauh lebih rendah dibanding metode konvensional.Ads close ads Mekanisme Kerja Tanpa Pembakaran Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga uap yang mengandalkan pembakaran batu bara, sistem ZC-DCFC…

Kanker Usus pada Usia Muda Meningkat, Peneliti Temukan Jejak Herbisida di DNA
INTERNASIONAL

Media90 – Tren peningkatan kasus Kanker Kolorektal pada kelompok usia di bawah 50 tahun kini menjadi perhatian serius dunia kesehatan. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine mengungkap temuan mengejutkan, yakni adanya dugaan keterkaitan antara paparan herbisida bernama Picloram dengan meningkatnya kasus kanker ini pada pasien usia muda. Temuan tersebut membuka perspektif baru dalam dunia Onkologi, yang selama ini lebih banyak mengaitkan kanker usus dengan faktor gaya hidup dan pola makan. Meski masih bersifat awal, peneliti menemukan “sidik jari” DNA pada tumor pasien yang mengindikasikan adanya pengaruh paparan lingkungan terhadap mutasi genetik.Ads close ads Jejak DNA Ungkap Paparan Lingkungan…