Media90 – Riset vaksin kembali menghadirkan harapan baru dalam melawan HIV. Para ilmuwan kini mengembangkan vaksin berbasis DNA yang mampu mengarahkan sistem imun lebih spesifik untuk mengenali virus, langkah penting dalam upaya menghadirkan vaksin HIV yang selama ini sulit diwujudkan.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science pada Februari 2026, menggunakan teknologi inovatif bernama DNA origami, di mana struktur DNA dibentuk secara presisi untuk membantu sistem imun mengenali target virus dengan akurat.
Tantangan Besar dalam Vaksin HIV
HIV dikenal sebagai virus yang kompleks dan cepat bermutasi, terutama pada protein permukaannya. Hal ini membuat antibodi terhadap satu varian tidak selalu efektif melawan varian lain.
Vaksin HIV perlu merangsang pembentukan broadly neutralizing antibodies (bNAbs), yaitu antibodi yang mengenali bagian virus yang stabil. Salah satu target utama adalah VRC01, antibodi yang mengenali area kritis virus untuk masuk ke sel imun.
Namun, sel B yang mampu menghasilkan antibodi ini jumlahnya terbatas, sehingga vaksin konvensional kesulitan memicu respons imun yang tepat. Menurut Raiees Andrabi, aktivasi sel B langka ini merupakan salah satu hambatan utama dalam pengembangan vaksin HIV.
DNA Origami: Pendekatan Baru
Berbeda dari vaksin tradisional berbasis protein, DNA origami menggunakan struktur DNA tiga dimensi sebagai kerangka untuk menampilkan antigen HIV.
Kelebihannya, respons imun lebih fokus pada target utama, mengurangi reaksi terhadap kerangka vaksin yang tidak relevan. Uji coba pada tikus menunjukkan vaksin DNA origami mampu menghasilkan tiga kali lebih banyak sel B memori dibanding vaksin protein generasi terbaru.
Profesor Mark Bathe (MIT) menyebut hasil ini memiliki potensi besar untuk vaksin dan imunoterapi. Sementara John Moore (Weill Cornell Medicine) menilai pendekatan ini menjanjikan karena mampu meminimalkan gangguan respons imun yang tidak relevan.
Penyempurnaan Desain Vaksin
Peneliti mendesain antigen HIV menyerupai bagian penting virus untuk langsung berinteraksi dengan sel B yang dibutuhkan. Struktur DNA dibuat lebih rapat dan efisien agar partikel vaksin dapat menjangkau kelenjar getah bening, tempat sel B berkembang.
Selain itu, komponen tambahan ditambahkan untuk mengaktifkan sel T, sehingga respons imun menjadi lebih kuat dan terarah.
Potensi untuk Virus dengan Mutasi Tinggi
Walaupun menjanjikan, vaksin ini masih dalam tahap uji coba hewan, sehingga efektivitas dan keamanan pada manusia perlu diuji lebih lanjut melalui uji klinis. Vaksin HIV kemungkinan membutuhkan strategi imunisasi bertahap untuk membangun respons imun yang kuat dan tahan lama.
Pendekatan DNA origami ini juga berpotensi diterapkan pada virus lain dengan tingkat mutasi tinggi, menandai langkah besar dalam pengembangan vaksin masa depan.
Teknologi ini menunjukkan bahwa DNA origami bukan sekadar konsep inovatif, tetapi juga membuka jalur baru dalam desain vaksin yang lebih presisi dan efektif, membawa harapan nyata dalam perang melawan HIV dan virus mutan lainnya.














