INTERNASIONAL

Terobosan Medis di Australia: Tes Darah Bisa Prediksi Risiko Kekambuhan Kanker Kepala dan Leher

8
×

Terobosan Medis di Australia: Tes Darah Bisa Prediksi Risiko Kekambuhan Kanker Kepala dan Leher

Sebarkan artikel ini
Terobosan Medis: Ilmuwan Australia Kembangkan Tes Darah untuk Deteksi Risiko Kanker Kambuh
Terobosan Medis: Ilmuwan Australia Kembangkan Tes Darah untuk Deteksi Risiko Kanker Kambuh

Media90 – Para ilmuwan di Australia berhasil mengembangkan tes darah sederhana yang berpotensi membantu memprediksi risiko kekambuhan kanker kepala dan leher setelah pasien menjalani operasi. Inovasi ini diharapkan meningkatkan pemantauan pascaoperasi sekaligus memungkinkan perawatan lebih personal bagi pasien.

Penelitian dilakukan oleh tim dari Centenary Institute bekerja sama dengan Chris O’Brien Lifehouse. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal European Journal of Surgical Oncology.

Mendeteksi Sel Tumor yang Beredar di Darah

Tes darah ini mendeteksi circulating tumor cells (CTC), yakni sel kanker yang terlepas dari tumor utama dan masuk ke aliran darah. Keberadaan CTC menjadi indikator bahwa kanker masih berpotensi tumbuh kembali atau menyebar ke bagian tubuh lain.

Baca Juga:  Misteri Bayi Eve: Benarkah Kloning Manusia Pertama Itu Nyata atau Sekadar Hoaks?

Dalam studi, para peneliti menganalisis sampel darah pasien pascaoperasi. Hasilnya: pasien dengan CTC positif memiliki risiko kekambuhan lebih tinggi dibanding pasien tanpa CTC. Temuan ini membuka peluang untuk mengidentifikasi pasien berisiko tinggi lebih dini, bahkan sebelum gejala muncul atau terlihat melalui pemindaian.

Tantangan Pemantauan Pascaoperasi

Kanker kepala dan leher menyerang lapisan mulut, tenggorokan, dan pita suara. Di Australia, sekitar 5.500 orang didiagnosis menderita kanker ini setiap tahun.

Meski sebagian pasien merespons pengobatan dengan baik, sebagian tetap mengalami kekambuhan. Pemantauan tradisional saat ini mengandalkan pemeriksaan fisik rutin dan pemindaian CT scan atau MRI, yang tidak selalu mendeteksi tanda awal kekambuhan.

Menurut Jonathan Clark, Direktur Riset Kanker Kepala dan Leher di Chris O’Brien Lifehouse, sistem pemantauan saat ini masih memiliki keterbatasan dalam memrediksi risiko kekambuhan secara akurat. Oleh karena itu, tes darah berbasis biomarker menjadi pendekatan yang sangat menjanjikan.

Baca Juga:  Viral Ramalan Bumi Hilang Gravitasi 12 Agustus 2026, Fakta atau Sekadar Hoaks?

Tes Darah Membantu Strategi Medis Lebih Personal

Penulis utama studi, Dannel Yeo, menjelaskan bahwa deteksi CTC memberikan informasi tambahan berharga bagi dokter. Dengan mengetahui pasien berisiko tinggi, tim medis dapat:

  • Merancang strategi pemantauan lebih intensif
  • Mempertimbangkan terapi tambahan bila diperlukan

Pendekatan ini sejalan dengan tren pengobatan kanker modern yang semakin mengarah pada personalized therapy, di mana perawatan disesuaikan dengan karakteristik biologis pasien, bukan pendekatan “satu untuk semua”.

Potensi Besar di Masa Depan

Temuan ini menambah bukti penting mengenai peran biomarker berbasis darah dalam manajemen kanker. Jika dikembangkan lebih lanjut dan diuji dalam skala besar, tes darah ini bisa menjadi bagian dari standar perawatan pasien kanker kepala dan leher.

Baca Juga:  Ahmad Ari Aldino, Dosen Universitas Teknokrat Indonesia, Mengembangkan Riset Penerapan AI untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Tinggi

Keunggulan utamanya: pasien tidak perlu menunggu gejala atau hasil pemindaian untuk mengetahui kekambuhan. Deteksi dini melalui darah memungkinkan intervensi lebih cepat, sehingga meningkatkan peluang kesembuhan dan kualitas hidup pasien.

Kesimpulan

Inovasi ini menunjukkan bagaimana riset ilmiah terus bergerak maju untuk menghadirkan solusi lebih presisi, efektif, dan berfokus pada kebutuhan individu pasien dalam melawan kanker. Dengan tes darah ini, harapan baru muncul bagi pasien dan tenaga medis untuk mengelola risiko kekambuhan lebih proaktif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *