Media90.id – Misteri jenazah yang dikenal dengan julukan “Green Boots” di Gunung Everest memasuki babak baru. Setelah hampir tiga dekade menjadi salah satu penanda paling terkenal di jalur pendakian Everest, pemerintah India kini berupaya membawa pulang jasad yang dalam dokumen resmi dikaitkan dengan Lance Naik Dorje Morup, anggota Indo-Tibetan Border Police (ITBP).
Jenazah tersebut berada di ketinggian sekitar 8.500 meter di sisi timur laut Gunung Everest, wilayah Tibet. Lokasinya termasuk kawasan yang dikenal sebagai Death Zone, yakni area dengan ketinggian di atas sekitar 8.000 meter yang memiliki kadar oksigen sangat rendah dan kondisi lingkungan ekstrem.
Selama bertahun-tahun, jasad yang dikenal sebagai Green Boots diyakini merupakan Tsewang Paljor, rekan satu tim Dorje Morup yang juga tewas dalam tragedi Everest 1996.
Namun, dokumen pemerintah India yang menjadi dasar rencana pemulihan terbaru menyebut jasad tersebut sebagai Dorje Morup. Sejumlah laporan pada 2026 juga menyebut identifikasi tersebut diperkuat melalui pemeriksaan DNA.
Siapa Green Boots di Gunung Everest?
Julukan Green Boots muncul karena sepatu gunung berwarna hijau terang yang menjadi ciri khas jasad tersebut.
Selama puluhan tahun, keberadaannya di kawasan Northeast Ridge membuat Green Boots dikenal luas oleh para pendaki yang melewati jalur tersebut. Posisinya berada di dekat jalur menuju puncak Everest dari sisi Tibet.
Karena berada di ketinggian ekstrem dengan kondisi lingkungan yang sangat dingin, jasad tersebut bertahan di gunung selama bertahun-tahun.
Bagi dunia pendakian, Green Boots bukan sekadar jenazah yang berada di Everest. Sosok tersebut bahkan menjadi salah satu landmark paling dikenal di jalur Northeast Ridge.
Namun, identitas sebenarnya selama bertahun-tahun masih menjadi perdebatan.
Awalnya Diyakini Sebagai Tsewang Paljor
Green Boots selama bertahun-tahun lebih sering dikaitkan dengan Tsewang Paljor, anggota ITBP yang menjadi bagian dari ekspedisi India pada 1996.
Paljor mendaki bersama Dorje Morup dan Tsewang Smanla pada 10 Mei 1996. Ketiganya berusaha mencapai puncak Everest dari sisi utara ketika kondisi cuaca memburuk.
Badai besar kemudian melanda kawasan Everest. Ketiga pendaki tersebut tidak berhasil kembali.
Tragedi yang terjadi pada 10 dan 11 Mei 1996 menjadi salah satu peristiwa paling mematikan dalam sejarah pendakian Everest. Delapan pendaki meninggal dunia akibat badai yang terjadi pada musim pendakian tersebut.
Seiring berjalannya waktu, jasad yang ditemukan di kawasan Northeast Ridge kemudian dikenal dengan nama Green Boots. Karena identitasnya sulit dipastikan, jasad tersebut lama dikaitkan dengan Paljor.
Kini, informasi resmi dari pemerintah India mengarah pada identitas yang berbeda.
Identitas Green Boots Mengarah kepada Dorje Morup
Dalam dokumen tender ITBP untuk operasi pemulihan, jenazah tersebut secara langsung disebut sebagai “Late Dorje Morup Green Boot”.
Dokumen resmi pemerintah India mencantumkan tender dengan nama “Hiring of agency for providing service of Phase II Retrieval operation Recovery of Mortal remains of Late Dorje Morup Green Boot from Mt Everest Tibet side”.
Tender tersebut berkaitan dengan operasi pengambilan jasad dari sisi Tibet Gunung Everest.
Perubahan identitas ini menjadi perkembangan penting dalam spekulasi panjang mengenai siapa sebenarnya sosok di balik julukan Green Boots.
Laporan mengenai perkembangan tersebut juga menyebut adanya pemeriksaan DNA yang digunakan untuk memperkuat identifikasi Dorje Morup.
Meski demikian, rincian teknis mengenai pemeriksaan DNA tersebut tidak tercantum secara terbuka dalam halaman tender pemerintah yang tersedia untuk publik.
Mengapa Green Boots Baru Dipulangkan Setelah 30 Tahun?
Membawa turun jenazah dari Gunung Everest bukanlah operasi sederhana. Lokasi Green Boots berada di sekitar 8.500 meter, jauh di atas batas yang dikenal sebagai Death Zone.
Pada ketinggian tersebut, oksigen sangat terbatas dan suhu dapat berada dalam kondisi ekstrem. Angin kencang serta perubahan cuaca juga dapat terjadi dengan cepat.
Medan Everest membuat operasi semakin sulit. Tim harus bekerja di kawasan berbatu dan bersalju dengan medan teknis serta risiko longsoran.
Kondisi jasad yang telah berada di gunung selama hampir 30 tahun juga menjadi persoalan tersendiri. Proses pemulihan harus dilakukan secara hati-hati agar tidak membahayakan anggota tim yang bertugas.
Karena kondisi tersebut, operasi pemulihan tidak dapat mengandalkan helikopter untuk mengangkat jasad dari lokasi. Prosesnya harus dilakukan secara manual oleh pendaki dan tenaga penyelamat yang memiliki pengalaman di ketinggian ekstrem.
ITBP Siapkan Operasi Pemulihan Green Boots
Pemerintah India melalui ITBP telah mengambil langkah konkret dengan membuka tender untuk mencari agen atau tim yang mampu menjalankan operasi pemulihan jasad Dorje Morup.
Tender tersebut diterbitkan pada 2026 dengan tujuan melakukan Phase II Retrieval Operation dari sisi Tibet Gunung Everest.
Data pemerintah India menunjukkan tender tersebut berada di bawah Procurement Cell ITBP dengan referensi 17013/88/2026/GBRO dan ID tender 2026_ITBP_910831_1.
Laporan mengenai rencana tersebut menyebut operasi membutuhkan tim pendaki dengan kemampuan khusus di ketinggian lebih dari 8.000 meter.
Sedikitnya enam Sherpa berpengalaman disebut akan dilibatkan dalam misi tersebut. Operasi juga harus mendapatkan koordinasi dengan otoritas China karena lokasi jasad berada di sisi Tibet Gunung Everest yang berada dalam yurisdiksi China.
Misi Membawa Pulang Green Boots Penuh Risiko
Rencana membawa Green Boots pulang bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menyangkut keselamatan orang-orang yang melakukan pemulihan.
Setiap anggota tim harus bekerja di lingkungan dengan kadar oksigen sangat rendah. Semakin lama berada di ketinggian ekstrem, semakin besar pula risiko terhadap tubuh manusia.
Selain cuaca, medan dan kondisi es, tim juga harus menghadapi kemungkinan jasad yang telah lama membeku dan menyatu dengan lingkungan sekitarnya.
Sejumlah laporan menyebut kondisi tersebut dapat membuat proses pemindahan menjadi jauh lebih sulit. Karena itu, keberhasilan misi tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang pasti.
Setelah 30 Tahun, Green Boots Bisa Kembali ke Rumah
Selama hampir tiga dekade, Green Boots menjadi salah satu simbol paling dikenal dari kerasnya Gunung Everest.
Para pendaki yang melewati Northeast Ridge mengenal keberadaannya sebagai salah satu titik yang menandai perjalanan menuju puncak.
Namun, di balik julukan tersebut terdapat seorang anggota ITBP yang meninggalkan keluarga dan tidak pernah kembali dari ekspedisi 1996.
Kini, pemerintah India berusaha mengakhiri perjalanan panjang tersebut. Jika operasi pemulihan berhasil, jasad yang selama sekitar 30 tahun berada di ketinggian sekitar 8.500 meter itu akan dibawa turun dari Everest dan dipulangkan ke India.
Bagi dunia pendakian, operasi ini bukan sekadar upaya menghilangkan salah satu landmark paling terkenal di Everest. Bagi keluarga Dorje Morup, misi tersebut dapat menjadi kesempatan untuk akhirnya membawa pulang orang yang mereka tunggu selama puluhan tahun.
Green Boots akhirnya memiliki nama: Dorje Morup. Setelah 30 tahun berada di Death Zone Gunung Everest, India kini berusaha membawanya pulang.














