BERITA

Angkot Bukan Bus Sekolah: Saat Pelajar Kota Masih Bertaruh Nyawa di Jalanan

Luluk RJMP
6
×

Angkot Bukan Bus Sekolah: Saat Pelajar Kota Masih Bertaruh Nyawa di Jalanan

Sebarkan artikel ini
Angkot Bukan Bus Sekolah: Anak-anak Terpaksa Berisiko di Transportasi Jalanan Kota
Angkot Bukan Bus Sekolah: Anak-anak Terpaksa Berisiko di Transportasi Jalanan Kota

Media90 – Narasi besar tentang kemajuan digital di Lampung kerap digaungkan dalam berbagai sektor. Layanan berbasis teknologi kini mulai masuk ke pemerintahan, perdagangan, hingga layanan publik. Namun di balik perkembangan tersebut, ada satu persoalan mendasar yang masih tertinggal jauh: transportasi umum.

Di tengah klaim modernisasi dan status sebagai kota metropolitan, Bandar Lampung justru masih menghadapi realitas transportasi pelajar yang jauh dari kata layak. Bukan gedung tinggi atau jaringan internet cepat yang menjadi sorotan, melainkan bagaimana anak-anak sekolah masih harus bergantung pada angkutan kota yang tidak selalu aman dan memadai.

Ads
close ads

Situasi itu kembali terlihat pada Rabu (22/4/2026) di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Way Lunik, Kecamatan Telukbetung Selatan. Sejumlah pelajar tampak menunggu angkot terakhir dengan wajah cemas. Ketika kendaraan datang, tidak ada banyak pilihan. Mereka terpaksa berdesakan, bahkan sebagian bergelantungan di pintu angkot, demi bisa pulang tepat waktu.

Pemandangan tersebut bukan sekadar soal ketidaknyamanan, tetapi juga menggambarkan risiko keselamatan yang harus ditanggung setiap hari oleh para pelajar. Anak-anak yang seharusnya fokus pada pendidikan justru harus menghadapi potensi bahaya di jalan raya.

Ironisnya, kondisi ini terjadi di sebuah ibu kota provinsi yang digadang-gadang sebagai gerbang Pulau Sumatera. Pertanyaan pun muncul: mengapa layanan transportasi dasar bagi pelajar masih belum menjadi prioritas?

Di banyak daerah lain, layanan bus sekolah telah menjadi bagian dari kebijakan publik untuk menjamin keamanan dan kenyamanan siswa. Bus sekolah tidak hanya dianggap sebagai fasilitas tambahan, tetapi sebagai bentuk kehadiran negara dalam memastikan akses pendidikan yang aman.

Dengan adanya sistem transportasi khusus, pelajar tidak perlu lagi berebut ruang di angkutan umum atau mempertaruhkan keselamatan saat perjalanan pulang-pergi sekolah. Namun di Bandar Lampung, sistem seperti ini masih belum terlihat secara nyata.

Ketiadaan inovasi di sektor transportasi pelajar menunjukkan adanya celah dalam perencanaan pembangunan daerah. Di satu sisi, digitalisasi terus didorong, tetapi di sisi lain, kebutuhan dasar seperti transportasi aman bagi pelajar masih belum tersentuh optimal.

Kota bisa saja tampak modern dari luar, tetapi akan terlihat rapuh jika kebutuhan dasar warganya belum terpenuhi dengan baik. Tanpa pembenahan infrastruktur dasar, kemajuan hanya akan menjadi gambaran yang timpang.

Pemerintah daerah dinilai perlu menjadikan transportasi pelajar sebagai prioritas. Hal ini bukan sekadar urusan mobilitas, tetapi juga menyangkut keselamatan generasi muda dan kualitas tata kelola kota.

Sudah saatnya pendekatan lama yang bertumpu pada angkot sebagai satu-satunya solusi transportasi pelajar mulai ditinggalkan. Tanpa pembaruan sistem dan keberanian menghadirkan solusi seperti bus sekolah atau transportasi publik terintegrasi, risiko yang sama akan terus berulang setiap hari.

Bandar Lampung sejatinya tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk melangkah lebih jauh dan memastikan bahwa kemajuan tidak hanya terasa di permukaan, tetapi juga hadir dalam kehidupan sehari-hari warganya.

Tinggalkan Balasan