Media90.id – Stunting masih menjadi salah satu persoalan gizi yang membutuhkan perhatian serius. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan kekurangan asupan zat gizi, tetapi juga dapat dipengaruhi pola asuh serta praktik pemberian makanan yang diterapkan orang tua kepada anak.
Data Kementerian Kesehatan melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 mencatat prevalensi stunting balita secara nasional mencapai 21,6 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan gizi anak masih menjadi tantangan dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan balita.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI). Praktik pemberian MP-ASI yang kurang sesuai dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan sekaligus menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan anak.
Selain asupan makanan, faktor sosial ekonomi, tingkat pendidikan orang tua, serta pola asuh juga dapat menjadi faktor tidak langsung yang berkaitan dengan risiko stunting.
Di Kota Bandar Lampung, prevalensi balita stunting tercatat sebesar 13,4 persen. Kondisi tersebut mendorong dosen Program Studi Sarjana Terapan Gizi Klinis Politeknik Negeri Lampung (Polinela) melakukan penelitian mengenai pola asuh pemberian makan dan kecukupan gizi pada balita.
Penelitian tersebut dipimpin Nathasa Khalida Dalimunthe, S.Gz., M.Gz., bersama anggota tim Kiki Puspasari, S.KM., M.Si., dan Vina Dinata Kamila Aryani, M.Gz.
Penelitian yang didanai melalui DIPA Polinela 2026 itu dilakukan terhadap balita berusia 24-29 bulan di wilayah kerja Puskesmas Gedong Air, Kota Bandar Lampung.
Dalam proses pengumpulan data, tim peneliti melakukan wawancara terhadap ibu balita. Petugas Puskesmas Gedong Air turut membantu mengumpulkan para ibu balita yang menjadi responden penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 61,4 persen balita yang diteliti memiliki risiko stunting. Tim peneliti juga menemukan adanya hubungan antara rendahnya pengawasan makan dan rendahnya kecukupan zat gizi makro, seperti karbohidrat, protein, dan lemak, dengan risiko stunting.
Ketua tim penelitian, Nathasa Khalida Dalimunthe, mengatakan rendahnya pengawasan orang tua terhadap pola makan anak dapat meningkatkan risiko anak mengonsumsi makanan yang kurang mengandung zat gizi.
Menurutnya, kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan tingginya konsumsi makanan atau jajanan yang mengandung gula, garam, dan lemak, tetapi rendah kandungan zat gizi yang dibutuhkan tubuh anak.
Kurangnya pengawasan terhadap konsumsi jajanan menjadi salah satu perhatian dalam penelitian tersebut. Kebiasaan makan yang tidak terpantau dapat membuat anak memperoleh asupan zat gizi makro maupun mikro yang tidak mencukupi kebutuhan pertumbuhan.
Nathasa juga menyebutkan bahwa kecukupan zat gizi makro pada balita di wilayah Puskesmas Gedong Air masih tergolong rendah. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya menekan risiko stunting.
Zat gizi makro atau makronutrien merupakan kelompok zat gizi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah relatif besar dan menjadi sumber utama energi, termasuk karbohidrat, protein, dan lemak.
Kekurangan asupan makronutrien pada masa pertumbuhan dapat berdampak terhadap proses tumbuh kembang anak. Selain mendukung pertumbuhan fisik, kecukupan nutrisi juga berkaitan dengan perkembangan fungsi tubuh dan kemampuan kognitif anak.
Temuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak cukup hanya dilakukan dengan memastikan anak memperoleh makanan bergizi. Praktik pemberian makan yang tepat dan responsif, termasuk keterlibatan serta pengawasan orang tua, juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
Karena itu, edukasi kepada orang tua mengenai pemilihan makanan bergizi, pembatasan jajanan yang rendah kandungan gizi, serta pemantauan kebiasaan makan anak perlu terus diperkuat. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi balita sekaligus mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.














